Rabu , 12 Agustus 2020
Home » Entertainment » Benarkah menjadi bintang K-Pop ini menyenangkan? Baca ini dulu

Benarkah menjadi bintang K-Pop ini menyenangkan? Baca ini dulu

Logo BBC

Euodias, warga negara Inggris keturuna Korea yang pernah mengikuti training untuk menjadi bintang K-Pop. (Foto: BBC)

Riaunews.com – Menjadi idola K-pop melibatkan latihan yang intensif, dan kadang operasi plastik. Euodias adalah salah satu anak Inggris yang pernah mengalami latihan itu. Ia membagikan kisahnya, dan kenapa ia berhenti.

Saya masih anak-anak ketika pindah dari Inggris ke Korea Selatan untuk berlatih selama dua tahun demi menjadi bintang K-pop.

K-pop saat itu tidak dikenal di Inggris. Saya separuh China dan separuh Korea dan sering menonton K-drama serta mendengarkan Wonder Girls dan B2ST saat teman-teman mendengarkan Britney Spears dan Backstreet Boys.

Sejak kecil saya ingin sekali menjadi idola K-pop.

Sejak usia 10 tahun, saya mulai ikut banyak audisi, kadang-kadang bolos sekolah untuk bikin video audisi. Mama sering marah karena ini.

Dalam satu kunjungan ke rumah nenek di Seoul, saya ikut ke audisi besar dengan sekitar 2.000 orang antri.

Setelah enam jam duduk di lantai menunggu, saya dipanggil dalam kelompok 10 orang.

Satu demi satu diminta menyanyi, dan sebelum selesai juri akan bilang: “Stop! Selanjutnya!”

Awalnya saya mengutip monolog K-drama, tapi lalu diminta menyanyi dan menari. Saya tak siap, tapi bisa melakukannya dengan improvisasi.

Setelah berunding dengan asisten, juri memberi saya kertas kuning. Artinya saya lolos audisi. Dalam beberapa hari saya diminta kembali untuk membicarakan kontrak.

Dalam kontrak, saya diminta pindah ke Korea Selatan dan dilatih oleh perusahaan dan tinggal di asrama.

Perusahaan bisa menyingkirkan kapan saja, jika saya dianggap tak cukup baik.

Kalau saya berhenti sebelum kontrak habis, saya harus membayar ongkos pelatihan yang bisa mencapai ribuan dolar.

Mama – atas nama saya – dengan berat hati menandatangani kontrak untuk jangka waktu dua setengah tahun itu. Ini tawaran terpendek mereka.

Sesudah itu Mama marah dan tak menegur saya sebulan penuh.

Perusahaan yang melatih saya sangat ketat. Saya tinggal bersama peserta lain, usia sembilan sampai 16 tahun. Laki-laki dan perempuan dipisah.

Kami hanya keluar gedung latihan kalau ke sekolah. Selain itu tak boleh sama sekali.

Kalau orang tua ingin mengunjungi harus ada persetujuan sebelumnya. Keluarga yang datang tanpa pemberitahuan bakal ditolak masuk.

Secara umum, kami bangun jam 5 pagi untuk latihan menari sebelum masuk sekolah jam 8.

Seusai sekolah, kami kembali latihan menari dan menyanyi. Biasanya latihan bisa sampai jam 11 malam atau lebih. Sering kali karena ingin pamer kepada pelatih.

Berpacaran dilarang, sekalipun ada yang diam-diam melakukannya.

Para peserta latih tidak boleh gay. Jika ada yang tampak gay, mereka akan dikucilkan.

Kami punya “manajer” yang bertipe seperti paman yang akan mengirim pesan teks dan mengawasi kami. Jika kami tak membalas pesan, pasti akan segera ditelepon untuk ditanya kami berada di mana.

Tidak ada liburan sama sekali. Akhir pekan, bahkan saat Tahun Baru Imlek, para peserta latih tetap berada di asrama sementara para staf libur.

Perusahaan membagi kami ke dua tim: Tim A dan Tim B. Saya, bersama sekitar 20-30 lain ada di Tim A yang dianggap lebih potensial.

Di Tim B ada 200 peserta. Beberapa dari mereka bahkan harus bayar untuk bisa masuk. Mereka berlatih bertahun-tahun tapi tak pernah tahu kapan akan menjalani “debut” — istilah untuk menjadi penampil K-pop.

Tim A tidur di kamar berisi maksimal empat orang. Tim B tidur bersama-sama di ruang besar, kadang dengan alas seadanya di lantai kayu.

Sering saya lihat anggota Tim B tidur kecapekan di lantai studio tari. Alas di sana sama saja dengan alas di ruang tidur di asramanya.

Hanya sekali saya lihat anggota Tim B yang dipromosikan ke Tim A.

Jika ada anggota Tim A yang protes tentang sesuatu, mereka bisa dipindahkan ke Tim B.

Secara umum tak ada yang protes atau mengeluh. Para peserta masih muda dan ambisius, dan perusahaan meminta agar kami bersikap: segala pengalaman adalah bagian dari latihan menjadi idola K-pop.

Jadi kami hanya menerima saja segala hal yang terjadi.

Kami tak pakai nama asli di asrama, dan diberi nomer serta nama panggung.

Saya diberi nama “Dia”, tapi pelatih hanya memanggil kami dengan nomer yang dipasang dengan stiker di baju.

Rasanya aneh, seperti subyek percobaan di laboratorium.

Lompati Instagram pesan oleh euo.coeurHentikan Instagram pesan oleh euo.coeur
Perusahaan senang pada saya karena saya kecil. Metabolisme saya bagus sehingga berat badan tak mudah bertambah.

Berat terobsesi berat badan mereka 47 kg saja, tak peduli berapapun usia dan tinggi badan mereka.

Seminggu sekali kami ditimbang di dalam ruangan besar bersama yang lain dan tubuh kami dianalisa oleh pelatih.

Berat badan kami akan diteriakkan keras-keras supaya seluruh ruang bisa mendengar.

Kalau dianggap terlalu berat, maka makanan akan dikurangi atau tak diberi sama sekali.

Kelaparan dibuat normal. Beberapa peserta menderita anoreksia dan bulimia. Beberapa perempuan tak mengalami menstruasi.

Sering terjadi peserta pingsan karena kelelahan. Kami harus membantu mereka ke kamar asrama.

Saya dua kali pingsan saat latihan tari karena kurang minum dan makan. Saya terbangun di tempat tidur, tak ingat siapa yang membawa saya.

Sikap para peserta melihat ini biasanya, “Bagus! Dia sangat berambisi!” Jika ingat itu sekarang, saya merasa jijik.

Susah berteman di sana, kami lebih mirip rekan kerja. Suasananya terlalu tegang dan kompetitif untuk bisa berteman.

Ini diperburuk dengan pertunjukan bulanan. Satu per satu harus tampil di hadapan peserta lain dan dievaluasi oleh pelatih.

Yang nilainya buruk akan segera dipecat, dan diganti peserta baru.

Beberapa peserta baru kadang datang sudah melalui operasi plastik. Ini intimidatif sekali.

Tampang mereka sudah mirip idola K-pop, bahkan saat baru ikut pelatihan.

Perisakan sering terjadi, karena berat badan, atau peserta yang sangat pandai menari dicuri sepatunya.

Saya kangen teman-teman di Inggris, tapi tak bisa apa-apa.

Telepon kami dipegang pelatih saat latihan, dan kami tak boleh mengunggah macam-macam di media sosial, agar tetap bisa terkesan misterius pada debut kami.

Kami boleh pegang telepon 15 menit di malam hari. Biasanya saya menelepon mama.

Tapi banyak peserta punya telepon kedua yang mereka sembunyikan.

Orang tua saya tahu pelatihan ini berat, tapi mereka tak bisa apa-apa karena ada kontrak yang mengikat dan jarak mereka jauh.

Kebanyakan peserta lain tak memberi tahu orang tua mereka karena tak ingin membuat khawatir.

Yang bikin saya lanjut adalah keyakinan bahwa saya akan melakukan debut sebagai anggota grup K-pop.

Namun tempat yang tersedia hanya separuh dari jumlah Tim A, maka kami harus terus berkompetisi dalam bernyanyi, menari dan wawancara.

Anggota grup K-pop biasanya punya peran masing-masing. Awalnya saya jadi penyanyi utama, tapi kemudian diganti perannya menjadi “visual”.

“Visual” ini adalah wajah grup, dipilih karena penampilannya. Saya bersaing dengan seorang peserta lain. Dia lebih menarik daripada saya, tetapi menurut perusahaan kalau saya menjalani operasi plastik, saya akan mengalahkannya.

Menurut ukuran Korea, wajah saya besar dan perusahaan meminta saya mengubah hidung dan garis rahang saya.

Perusahaan tak bisa memaksa peserta melakukan operasi plastik, tapi mereka sangat menyarankan.

Operasi plastik sangat normal di Korea Selatan, dan saya membayangkan melakukannya sebagai investasi masa depan.

Biayanya akan ditanggung perusahaan dan ditambahkan ke dalam utang di kontrak saya.

Mama khawatir akan operasi ini, tapi ia sadar jalan saya menuju idola sudah dekat sekali.

Saya senang sekali diminta menjadi “visual”. Kata perusahaan saya akan jadi bintang K-pop, dan mendengar dari orang-orang berkuasa ini, rasanya luar biasa.

Saya mulai diberitahu karakter saya yang bernama Dia ini. Dia digambarkan sebagai orang yang menahan diri, manis dan polos. Sebagai visual grup, saya harus menjalankan peran begitu.

Tapi karakter saya tidak begitu. Saya berisik dan banyak berpendapat. Saya ragu apakah bisa mempertahankan kepribadian jinak seperti itu di hadapan publik.

Saya sempat bilang ingin menjadi aktor saja. Namun perusahaan menolak. Seorang senior bilang ke saya, karena hanya separuh Korea, jika saya berakting, paling hebat bisa dapat peran pembantu di TV.

Saya sadar mimpi saya berakhir.

Kontrak saya hampir habis, hampir beriring dengan debut saya dengan grup ini.

Saya bilang ke mereka, saya ingin berhenti, tak memperpanjang kontrak.

Ini sangat tidak lazim. Kebanyakan peserta sangat memimpikan debut dan pasti setuju pada syarat-syarat apa pun di dalam kontrak.

Akhirnya saya berpisah baik-baik dengan perusahaan. Karena kontrak selesai, saya tak berutang apapun pada mereka.

Jika saya tetap di perusahaan dan debut dengan grup, ongkos training, akomodasi dan operasi plastik pasti dibebankan ke saya dalam kontrak baru.

Maka peserta yang sukses harus membayar utang-utang yang dihitung sejak training serta utang baru yang muncul ketika sudah menjadi idola.

Sesungguhnya sulit untuk jadi kaya dengan menjadi bintang K-pop.

Saya kembali ke Inggris, tak jadi melakukan operasi plastik.

Saya bertemu teman-teman lama, ikut ujian susulan, lalu berhasil dapat tempat di sekolah busana di Prancis.

Saya beruntung masih bisa meneruskan sekolah, karena banyak yang berhenti latihan umur 18 atau habis kontrak umur 21 tanpa hasil.

Segalanya sudah mereka keluarkan demi menjadi idola K-pop, tapi harus berakhir tanpa kualifikasi apa-apa.

Mama senang saya kembali, karena sejak awal ia tak setuju saya ikut training. Tapi ia yakin saya harus menjalaninya sendiri.

Setelah lewat jalan berliku, saya paham mama selalu benar.

Saya melihat video grup di mana seharusnya saya jadi visual di sana. Saya lega tidak di panggung bersama mereka.

Saya kenal anggota grup itu dan terasa mereka harus berlaku berbeda daripada mereka yang asli di dunia nyata.

Kini saya punya karir sebagai YouTuber. Saya senang membuat video untuk kanal saya sendiri, dan hasil latihan K-pop saya terapkan di sini.

Saya merasa bebas karena bisa mengendalikan segalanya, mulai dari rencana rekaman hingga editing.

Semakin ke sini, semakin saya merasa telah mengambil keputusan tepat.

Sebagaimana diceritakan kepada Elaine Chong

Sejak Euodias menjalani training Komisi Perdagangan Korea Selatan menerapkan aturanyang melarang praktek kontrak tak adil antara perusahaan hiburan dengan peserta latih K-pop.***

 

Logo BBC

Tinggalkan Balasan