Minggu , 29 Maret 2020
Home » Opini » Ketika Benci jadi ‘Proyek’ Bersama

Ketika Benci jadi ‘Proyek’ Bersama

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.

Oleh Helfizon Assyafei

Kebencian itu sepertinya sengaja dirawat. Demi tujuan politik 2024. Pasal I, Anies Baswedan selalu salah. Pasal II kalau Anies benar maka lihat pasal satu. Kata jurnalis senior Hersubeno Arief apapun dan bagaimanapun caranya, berapapun biayanya, Anies Baswedan tidak boleh dan jangan sampai jadi presiden. Agenda terselubung itu sebenarnya sudah banyak yang tahu. Ada juga yang menduga-duga.

Namun dugaan-dugaan itu, lanjutnya, mendapat pembenaran setelah Partai Solidaritas Indonesia (PSI) buka kartu. Mereka mengajak Parpol dan masyarakat untu menjegal-begitu media menyebutnya-Anies Baswedan. Intinya jangan sampai pada tahun 2024 ia naik jadi presiden. Anies harus gagal jadi Presiden Indonesia adalah harga mati. Tak ada tawar menawar.

“Saya ingin mengajak teman-teman partai, maupun masyarakat yang masih pro dengan nasionalisme kita, saya kira harus ada barisan nasional yang secara serius menghadang figur yang terfokus isu populisme ini,” kata Sekjen PSI Raja Juli Antoni dalam jumpa pers Indo Barometer di Hotel Atlet Century, Jakarta, Ahad (23/2/2020).

Clear sudah, lanjutnya lagi, terang benderang mengapa selama ini parpol, khususnya PSI, PDIP dan buzzer pendukung pemerintah habis-habisan memb-bully Anies. Ini urusan berkaitan dengan Pilpres. Tidak ada urusannya dengan kinerja, prestasi dan berbagai penghargaan internasional yang sudah diraih Anies.

Mau Anies kerja benar seperti apapun. Mau dapat penghargaan dari dunia, termasuk dari akhirat sekalipun, tidak ada urusannya. Mereka akan terus mem-bully. Hajar habisss.. Tiada hari tanpa bully Anies. Benci jadi sesuatu yang dibangun seperti sebuah ‘proyek’ bersama.

Semua paragraf di tulisan ini, bisa disingkat jadi dua kata saja; busuk hati..***

 

Penulis adalah wartawan senior asal Pekanbaru
Tulisan ini sudah dipublikasikan di laman facebook @helfizon.assyafei.9

Tinggalkan Balasan