Rabu , 15 Juli 2020
Home » Utama » Masyarakat Kuala Kampar Sampaikan Gagal Panen Padi Seluas  700 Hektar ke Makarius Anwar

Masyarakat Kuala Kampar Sampaikan Gagal Panen Padi Seluas  700 Hektar ke Makarius Anwar

Ketua fraksi PKS DPRD Riau Makarius Anwar saat menggelar reses di Sungai Upih, Kabupaten Pelalawan. Istimewa

PELALAWAN (RiauNews.com)–Ketua Fraksi PKS DPRD Riau Makarius Anwar, Rabu (26/20/20) lalu menggelar reses di Sungai Upih, Kuala Kampa, Kabupaten Pelalawan.

Dalam reses tersebut Makarius menerima berbagai aspirasi masyarakat terutama soal gagal panen padi seluas 700 hektar. Masuknya air laut ke lahan persawaan akibat jebolnya tanggul menjadi penyebab gagalnya panen padi.

“Masyarakat minta dibangun tanggul permanen, tanggul yang ada saat ini tidak kuat menahan gelombang laut. Kami sempat meninjau lahan pesawahan masyarakat yang sedang panen dan lahan sawah yang gagal panen tersebut,” ungkapnya melalui sambungan seluler Jumat (28/2/20)

Menanggapi persoalan tersebut, Alumni Universitas S2 Urban Designer Universitas Teknologi Malaysia ini mengatakan dirinya akan memperjuangkan pembangunan tanggul permanen sehingga kuat menahan hantaman ombak laut.

“Kita akan membantu memperjuangkan. Namun mengingat luasnya lahan yang akan ditanggul butuh bantuan APBN selain dana yang bersumber dari APBD Provinsi Riau juga Kabupaten Pelalawan,” kata Eka panggilan akrab Makarius Anwar.

Makarius juga mendorong pemerintah supaya meningkatkan usaha teknologi pertanian agar hasil panen masyarakat juga meningkat. Saat ini masih kisaran 1 s/d 2 ton per hektar, sementara di tempat lain seperti di Bunga Raya hasil panennya kisaran 7 sd 12 ton per hektar.

Markarius Anwar mengatakan bahwa Desa Sungai Upih, Desa Sungai Solok dan Desa Teluk Bakau di Kecamatan Kuala Kampar merupakan sentra pertanian padi untuk Kabupaten Pelalawan, dengan luas lahan persawahan kurang lebih 3.000 hektar.

Selain itu Eka juga menerima aspirasi permasalahan infrastruktur jalan, dikatakannya kondisi saat ini masih banyak yang belum disemenisasi. Salah satunya adalah jalan lingkar Pulau Mendol.

“Kalaupun sudah disemen sebelumnya, lebarnya hanya 1 meter, itupun sebagian besar sudah rusak. Kami naik motor selama 1,5 jam dengan kondisi jalan yang cukup rawan. Jadi ini harus menjadi perhatian serius bagi pemerintah,” tuturnya.

Aspirasi yang ketiga yaitu kebutuhan sarana dan prasarana pendidikaan yang masih minim jika dibandingkan sekolah di kecamatan yang lain.

“Salah satu guru SMP N di desa Sungai Upih menyampaikan aspirasinya kepada kami, ia mengeluhkan minimnya sarana belajar mengajar, seperti laboratoriun komputer untuk UN (Ujian Nasional), alat-alat labor, rumah dinas guru, pagar dan lainnya. Tentu ini juga hal utama yang harus menjadi evaluasi pemerintah, karena berhubungan dengan dunia pendidikan generasi penerus bangsa,” ujarnya.

Untuk mencapai Sungai Upih mantan dosen Universitas Lancang Kuning ini harus menempuh perjalanan lebih kurang 7 jam perjalanan dari Pekanbaru.

“Perjalanan darat melalui jalan lintas bono 3,5 jam, naik pompong dari pulau mudo 2 jam, lanjut naik sepeda motor 1,5 jam. Memang sedikit melelahkan, namun terbayar tuntas dengan senyum penuh keakraban dari 300 warga yang menyambut kami,” kata anggota komisi I DPRD Riau itu.tien

Lazada

Tinggalkan Balasan