Minggu , 29 Maret 2020
Home » Opini » Menteri Segala Urusan, penghianat bangsa di saat virus corona merebak

Menteri Segala Urusan, penghianat bangsa di saat virus corona merebak

Luhut Binsar Panjaitan dijuluki Menteri Segala Urusan di rezim Jokowi.

Riaunews.com – Media sosial sempat heboh dengan datangnya 49 warga Cina ke Sulawesi Tenggara di tengah merebaknya virus corona.

Padahal sejak 2 Februari 2020, Menteri Luar Negeri Indonesia sudah melarang semua WNA China masuk ke Indonesia. “Semua pendatang yang tiba dari China daratan dan sudah berada di sana selama 14 hari, untuk sementara tidak diizinkan untuk masuk dan melakukan transit di Indonesia,” terang Menteri Luar Negeri Retno Marsudi usai rapat terbatas dengan Presiden RI di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Ahad (2/2/2020)

Belum lagi reda polemik kedatangan 49 WNA China ke Indonesia, dikabarkan WNA asal Cina kembali mendarat di Sultra, Selasa (17/3/2020) sekira pukul 19.45 Wita. Branch Manager Garuda Indonesia Branch Kendari, Syaiful Bahri membenarkan kabar tersebut, bahwa akan tiba penumpang rute internasional yang menggunakan maskapai Garuda Indonesia melalui Bandara Haluoleo hari Selasa, sebagaimana dikutip detiksultra.com

Para penumpang asing tersebut transit di Bandara Soekarno Hatta, lalu melanjutkan penerbangannya menuju Kendari melalui Bandara Halu Oleo Kendari Sulawesi Tenggara. Namun Syaiful Bahri belum bisa merincikan dari negara mana saja para penumpang asing tersebut.“GA 696 berangkat dari CGK (Jakarta) pukul 16.35 WIB diperkirakan akan tiba (Kendari) sekitar pukul 19.45 Wita,” ujarnya.

Ditengah kondisi dimana banyak negara mengunci dirinya untuk tidak menerima kedatangan orang asing masuk ke negaranya, negara ini justru masih “mempersilahkan” warga negara asing khususnya dari China masuk ke Indonesia. Ada kepentingan apa dibalik kedatangan warga China ke Indonesia ?. Siapa kira kira biang keladinya ?. Apakah mereka itu para pengkhianat bangsa yang sedang menari nari di atas derita rakyat yang sedang gundah gulana karena wabah corona?

 

Kepentingan Bisnis Semata?

Masuknya 49 warga negara Republik Rakyat China (RRC) ke Sulawesi Tenggara (Sultra) untuk bekerja dengan memakai visa kunjungan dan mendapatkan persetujuan kartu kewaspadaan kesehatan dari Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Bandara Soekarno-Hatta tanpa karantina kesehatan, dikecam sejumlah kalangan dan viral di sosial media.

Banjirnya tenaga kerja asal China di tengah mewabahnya virus corona ini juga telah membuat Bupati Konawe, Kery Saiful Konggoasa gundah gulana. Dalam Rapat Koordinasi Penanganan dan Antisipasi Penyebaran Virus Corana di Mapolda Sultra sang Bupati menyampaikan bahwa dirinya sabagai bupati, tidak berdaya dengan kedatangan Warga Negara Asing (WNA) asal Cina.

Bupati lalu meminta Gubernur Sultra Ali Mazi menghentikan para pekerja asing di tengah merebaknya wabah Virus Covid-19 di Indonesia. “Pak Gubernur, saya mohon, tolong daerah kami, TKA Cina masuk dari segala penjuru,” ucapnya di hadapan Gubernur Sultra, Rabu 18 Maret 2020.

Konawe saat ini dihuni oleh 1.064 WNA asal Cina yang resmi sebagai pekerja tersebar di sejumlah tambang. Kery mengungkapkan kedatangan TKA Cina mendarat dari berbagai bandara di Sultra, terutama masuk melalui Bandara Haluoleo Kabupaten Konawe Selatan Sulawesi Tenggara.“Yang resmi saja begitu jumlahnya, Pak Gubernur, apalagi yang tidak resmi, mereka masuk dari segala penjuru, darat, laut dan udara, terutama di jeti perusahaan yang kami tidak jangkau untuk memantau. Bukan hanya ilegal, kami juga waspada mereka bawa masuk narkoba ke daerah kami. Ngeri Pak,” tuturnya.

Bupati dua periode ini juga meminta agar seluruh WNA Cina yang baru masuk dipulangkan ke negara asalnya. Andaipun tidak bisa, dirinya meminta agar mereka aktivitasnya dipantau dan diperiksa kesehatannya.“Pak kita sudah punya Perda No 13 Tahun 2018 untuk periksa kesehatan mereka, namun mereka masa bodoh. Pak, kami juga meminta kepada TNI/Polri untuk menyisir jeti perusahaan di sana,” pintanya.

Kery juga meminta kepada Gubernur agar melakukan karantina terhadap WNA yang masuk ke Sultra, serta mengambil kebijakan untuk menolak WNA ke Sultra selama penyebaran virus corona masih berlangsung.“Kalau bisa Pak, karantina mereka yang baru datang di Asrama Haji Kendari (Milik Kanwil Kementerian Agama Sultra) karena mereka di Konawe Pak tinggalnya di kos-kosan milik masyarakat. Susah Pak kalau mereka isolasi sendiri di sana. Kalau ada yang terjangkit, akan mudah tersebar itu virus,” katanya.

Ternyata bukan hanya Bupati Konawe saja yang merasa kewalahan mencegah datangnya tenaga kerja asal China. Kantor Imigrasi Kelas 1A Kendari juga tak berdaya mencegahnya. Karena itu keseriusan Kantor Imigrasi Kelas 1A Kendari terhadap pencegahan penularan virus corona di Sulawesi Tenggara (Sultra) dipertanyakan oleh pembela kesatuan tanah air indonesia bersatu (PEKAT-IB) Sultra, pasalnya pada tanggal 15/3/2020 lalu Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China berhasil menginjakan kaki di Bumi Anoa.

Karena itu Ketua Pekat IB Sultra, Amril Sabara meminta pihak Imigrasi untuk serius dalam memutus rantai penyebaran virus corona, dan segera memulangkan 49 TKA asal China tersebut dikeluarkan dari Bumi Anoa.”Kami minta Imigrasi untuk memulangkan 49 TKA itu, apapun alasannya mereka harus dipulangkan,” tegasnya.

Menanggapi ramainya komentar terhadap kedatangan WNA China ke Sulawesi Tenggara, Menko Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan bahwa tidak ada pelanggaran terkait kehadiran 49 tenaga kerja asing (TKA) China yang masuk ke Kendari pada Minggu lalu (15/3/2020).

Luhut dengan tegas telah memastikan tidak ada pelanggaran dari puluhan TKA tersebut, hingga meminta masalah ini tidak diperpanjang.“Jangan dibesar-besarkan juga. Harus proposional. 49 itu dapat visa 211 A pada 14 Januari sebelum kita dapat larangan China datang ke Indonesia. Ada juga Permen Kumham. Jadi nggak ada yang dilanggar,” ujar Luhut dikutip dari Warta Ekonomi, Kamis (19/2020).

Padahal sebelumnya, Staf Khusus Kementerian Tenaga Kerja, Dita Indah Sari mengatakan bahwa para TKA tersebut tidak memiliki ijin kerja dari Direktorat Pengendalian Penggunaan Tenaga Kerja Asing Kemnaker atau ilegal.

Menanggapi kedatangan WNA asal China ke Sulawesi Tenggara,tokoh nasional DR Rizal Ramli turut mempertanyakannya. Mantan Menko Kemaritiman ini sangat menyayangkan kedatangan mereka. “Kok ditengah wabah corona seperti saat ini masih ada yang izinkan pekerja China masuk. Saya kira ini ada interest pejabat tinggi kita yang rangkap menjadi pengusaha. Dia teman saya, sudah kaya. Sudahlah berhenti sebentar untuk kepentingan nasional,” papar Rizal pada acara ILC hari selasa.

Dalam pertanyaannya, Rizal Ramli memang tidak menyebut nama siapa yang dimaksud dengan pejabat yang juga merangkap pengusaha yang dimaksudkannya. Tetapi public tentunya sudah bisa memahami arah pernyataannya dan siapa orang yang dimaksudkannya.

Senada dengan Rizal Ramli, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menyindir salah satu pejabat Indonesia mementingkan dirinya sendiri ditengah kesusahan masyarakat. Apalagi, kata Fadli pejabat tersebut malah membela rombongan Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China.Hal itu diungkapkan Fadli Zon dalam akun resmi Twitternya @fadlizon di Jakarta, Kamis (19/3/2020). Ada pejabat yang hanya mementingkan dirinya sendiri, di tengah kesusahan rakyat. Lalu membela TKA China ilegal. Julukan apa yangg pantas bagi pejabat macam gini ya?.

Reaksi lebih keras di sampaikan oleh Ketua Majelis Prodem Iwan Sumule yang juga pimpinan partai Gerindra. Pernyataan Luhut, membuat Iwan Sumule mempertanyakan maksud Luhut yang menyebut tidak ada masalah. “Luhut mau buat rakyat marah?” ujarnya. Padahal menurut Iwan, pernyataan dari Kemenaker sudah jelas. Bahwa 49 TKA tersebut tidak punya izin. “Tapi Menko Luhut masih saja bilang tak ada yang dilanggar. Pak Jokowi (tolong) segera pecat Luhut!” tegasnya.

Gelombang kedatangan WNA asal China ke Sultra ditengah merebaknya virus corona diduga kuat karena kepentingan bisnis alias ekonomi terkait dengan pengamanan investasi China di Sulawesi Tenggara. Sebagaimana diketaui, di Sultra beroperasi perusahaan perusahaan besar asal China antara lain pabrik pengembangan, pengolahan dan pemurniaan nikel ( smelter) milik PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) yang dibangun di Kawasan Mega Industri Morosi di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, Senin (25/2/2019).

Perusahaan milik investor asal China itu mulai beroperasi di Morosi sejak tahun 2014 dan memulai membangun smelter sejak 2017 lalu dengan luas lahan 2.253 hektar. Nilai investasi yang telah digelontokan mencapai US$ 1 miliar atau sekitar Rp 14 triliun.

Direktur Utama PT VDNI, Mingdong Zhu mengatakan, realisasi investasi PT VDNI saat ini meliputi pabrik pengecoran dan peleburan Nickel Pig Iron (NPI) yang memiliki kadar nikel antara 10 persen hingga 12 persen dengan jumlah produksi 15 tungku Rotary Kiln-Electric Furnance (RKEF). Kapasitas produksi NPI mencapai 600.000 hingga 800.000 metrik ton per tahun. Mingdong mengatakan, saat ini pihaknya sudah menyerap lebih dari 6.000 tenaga kerja.

Berdasarkan catatan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Nakertrans) Provinsi Sultra, saat ini ada 14 perusahaan di Sultra yang menggunakan jasa tenaga keja dari mancanegara alias TKA.Data hingga 30 Oktober 2017 lalu , jumlah TKA di Sultra mencapai 1.032 orang yang terdiri dari 974 laki-laki dan 58 perempuan atau sekitar 1,13 persen dari total tenaga kerja sektor informal di Sultra yang kurang lebih 800 ribu orang.

Menurut Kepala Bidang Pengawasan Ketenagakerjaan Dinas Nakertrans Sultra Makner Sinaga, para pekerja asing ini bekerja di perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan dan perkebunan. Perusahaan yang paling banyak mempekerjakan TKA adalah perusahaan pertambangan PT Virtue Dragon Nickel Industri (VDNI) yang berada di Kecamatan Morosi.

Melihat adanya kegiatan investor asal China di Sultra yang memperkerjakan ribuan buruhnya maka bisa dipahami kalau kemudian pejabat Indonesia seperti Luhut Panjaitan berupaya keras untuk melindungi mereka. Dimana untuk melindungi kepentingan bisnis investor mancanegara khususnya China, ia berani mempertaruhkan kredibilitasnya sebagai pejabat negara. Nampaknya kepentingan bisnis dengan China lebih utama daripada harus melindungi keselamatan rakyatnya karena wabah virus corona.

 

Luhut Menteri Segala Urusan Yang Luar Biasa

Dalam hal membela kepentingan investor China di Indonesia, sosok Luhut Panjaitan memang luar biasa. Sepertinya apapun akan dilakukan demi untuk membela mereka meskipun jabatan dan kredibilitas adalah taruhannya.

Fenomena ini pula yang dia perlihatkan manakala rombongan WNA China memasuki bumi Anoa Sulawesi Tenggara ditengah merebaknya virus corona. Perilaku Luhut ini mendapatkan sorotan dan kritikan banyak pihak termasuk penulis Nasrudin Joha. Disini nampaknya rakyat Indonesia memang harus mengalami dua kali celaka. Selain harus bertarung menghadapi virus Corona secara mandiri, tanpa perlindungan negara, tanpa peran negara yang optimal, rakyat juga dipaksa berseteru dengan penguasa.

Penguasa, yang semestinya memahami suasana kebatinan rakyat, peduli dan empati kepada rakyat, justru berdiri berhadap-hadapan dengan rakyat. Bukannya membela dan melindungi segenap rakyat, penguasa justru pasang badan, berdiri tegak melindungi TKA China.

Setidaknya hal itulah yang dapat kita baca atas sikap dan kebijakan rezim yang direpresentasikan oleh kelakuan Luhut sebagai Menterinya. Menteri segala urusan ini membela 49 TKA China dengan mengedepankan aspek legalitasnya. Padahal, rakyat sedang sensitif dan menderita. Bahkan, sholat berjamaah pun mesti direkondisi untuk antisipasi Corona. Bukan cuma itu, Tablik Akbar pun telah di framing, seolah menjadikan penyebab sebaran virus Corona.

Tapi kali Ini ada 49 TKA China dan menyusul gelombang berikutnya. Mereka jelas jelas berasal dari sumber pendemik virus Corona yaitu China dipersilahkan masuk ke Indonesia tanpa harus dikarantina.

Serangkaian pertanyaanpun muncul sehubungan dengan kehadiran WNA asal China. Kalau Menko Kemaritiman dan Invetasi Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan 49 tenaga kerja asing (TKA) dari China merupakan warga negara asing yang legal datang ke Indonesia, bukankah aspek pencegahan virus Corona tidak terletak pada aspek legal atau tidaknya? Tetapi lebih kepada menghindari bahaya atas resiko tertular virus Corona?

Alih-alih melakukan proteksi terhadap segenap rakyat atas bahaya tertular virus Corona, Luhut justru memberikan pembelaan bahwa 49 tenaga kerja asing di Kendari itu legal dan kita semua dilarang mempermasalahkannya. Luhut berlindung dibalik aspek legalitas, dengan memberikan keterangan 49 TKA China itu telah memiliki visa 211-A yang keluar pada tanggal 4 Januari 2020, sebelum Indonesia memberikan larangan perjalanan ke China.

Yang patut dipertanyakan adalah apakah larangan perjalanan itu dibuat karena aspek legalitas atau antisipasi virus Corona? Kalau cuma aspek legalitas yang jadi masalahnya, apa sich yang tidak bisa “dilegalisasi” di negeri kita tercinta? Lagi pula, kenapa Luhut Binsar Panjaitan yang sibuk membela dan mengklarifikasinya? Kenapa bukan kedutaan besar China?

Luhut itu menteri negara Indonesia, atau Gubernur Jenderal China ? Indonesia itu negara yang berdaulat, atau hanya propinsi terluar dibawah kendali Republik Rakyat China ?. Pertanyaan ini sering terlontar dibenak publik menyikapi polah tingkah sang Menteri yang “sangat berkuasa”.

Fenomena ini memang luar biasa dan benar-benar gila, diluar batas nalar sehat tentunya. Ketika beberapa Pemda sedang sibuk melakukan rekayasa Lockdown, rakyat mengambil inisiatif dengan melakukan “sosial distance relationship”, tiba tiba saja TKA China justru digelontorkan masuk NKRI hanya berdalih telah legal kedatatangannya? Kalau TKA China itu bawa bibit virus Corona, dan menular ke seantero negeri, apa Luhut mau menanggunggnya ?

Boleh boleh saja menjaga kerpercayaan investor yang menanamkan modalnya di negara ini tetapi jika resikonya mengorbankan keselamatan dan nyawa rakyat, apakah masih investasi seperti itu harus terus di jaga dan dibela ? Toh dulunya negeri ini tidak menjalin hubungan investasi masif dengan China, nyatanya aman-aman saja.

Jadi, jika investasi China dibatalkan, rakyat tidak rugi hanya Luhut dan gerombolannya yang mungkin tidak mendapatkan benefitnya. Kalau diminta memilih, tentu rakyat memilih selamat dari virus Corona, ketimbang menyelamatkan investasi Luhut dan China.

Perilaku Luhut yang terkesan aneh ini pernah ditulis oleh dua wartawan senior sebagaimana dipublikasikan oleh law-justice.co. Dua wartawan senior, dua-duanya perempuan, menuliskan tentang sosok Luhut Binsar Pandjaitan (LBP) yang kini menjabat Menteri Koordinator Kemaritiman di pemerintahan Presiden Jokowi.Wartawan senior pertama, Agi Betha menulis tentang sosok LBP di fbnya dengan judul “PEMAKAN BUMI”, berikut petikannya :

“Melihatmu ngomong di tivi. Bicarakan reklamasi. Seakan tiap jengkal tanah negara ini milikmu sendiri. Dengan mulut miring ke kanan ke kiri, kau mengatur ini itu, seolah semua bualanmu mesti dipercayai. Perkataanmu harus dituruti.

Merenungi caramu. Rakyat sungguh tak mengerti. Mengapa orang-orang lain bodoh dan engkau pintar sendiri. Semua masalah diurusi. Seolah dirimu telah dipilih oleh rakyat, lalu diberi mandat benahi negeri.

Caramu itu membuatku ingat pada sebuah syair Kahlil Gibran tentang seseorang yang memakan Bumi. Makhluk itu tak pernah kenyang. Bahkan setelah ia tak bisa berhenti melahap bumi, ia masih takut esoknya mati kelaparan. ”Tulisan Agi Betha ini kemudian juga ditanggapi oleh wartawan senior yang lain, Nanik Sudaryati di fbnya sbb:

Saya pernah berhadapan atau melihat wajah ini secara langsung di pemerintahan SBY, saya melihat bagaimana dia menyebut ini-itu perusahaannya supaya bisa dibeli Pertamina ke seorang Menteri. Dia juga pengin mengambil perusahaan asing di daerahnya.

Waktu itu, dia belum siapa-siapa masih seorang pensiun menteri di zaman Gur Dur dan seorang pengusaha yang bisnisnya meredup karena harga batu bara jatuh. Jadi saya bisa bayangkan sekarang saat dia menjadi innercircle penguasa, maka ia layaknya penguasa! Semua maunya harus terwujud. Dan cita-citanya dulu yang bisa sebatas disampaikan ke pejabat, sekarang langsung bisa di eksekusi.

Suatu saat diwawancara media (sebelum jadi kawannya Penguasa) dia memang pernah bilang, cita-citanya pengin jadi King Maker, dan sekarang sudah kesampaian dan sepertinya ingin terus, dan mungkin terus sambil memohon diberi usia 1000 tahun, tutur Nanik

Pengkhianat Bangsa ?

Isu mengenai tenaga kerja asing asal China yang masuk ke Kendari masih menghiasi perdebatan di ranah media sosial Twitter. Mantan Wakil Ketua DPR Fadli Zon bahkan mengeluarkan pernyataan keras soal pengkhianat bangsa. “Tak ada kata yg lebih cocok kecuali “pengkhianat bangsa” !” tulis Fadli lewat akun Twitternya, @fadlizon, dikutip VIVAnews, Rabu, 18 Maret 2020.

Twit Fadli tersebut merespons cuitan dari ekonom sekaligus politikus Rizal Ramli. Mantan Menteri Koordinator Kemaritiman menyatakan bahwa masih saja izinkan pekerja-pekerja China untuk masuk Indonesia hanya karena kepentingan bisnis pejabat yang merangkap sebagai penguasa.

Sejauh ini nama Luhut Panjaitan alias LBP memang selalu membuat heboh jagad sosial media. Bahkan dalam Akun FB bernama Komunitas Pejuang NU Garis Lurus memposting tulisan bahwa mantan Menko Polhukam ini merupakan “The Real President” Indonesia.

Sebutan Luhut sebagai pengkhianat sebenarnya sudah berulang kali disuarakan oleh tokoh tokoh ternama Indonesia. Sebagai contoh saat berorasi usai upacara pengibaran bendera pada perayaan kemerdekaan RI di Kampung Aquarium, Penjaringan, Jakarta Utara tahun 2016 yang lalu , musisi Ahmad Dhani menyebut bahwa nama Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan sebagai `Pengkhianat` , “Saya akan bilang bahwa Luhut Binsar Pandjaitan adalah `Pengkhianat`,” katanya.

Nama Luhut disebut bersama sama dengan dua jenderal lainnya yaitu Wiranto dan Hendropriyono sebagaimana dikutip oleh bali.tribunnews.com tanggal 17 Agustus 2016 yang lalu. Nama Luhut kembali disebut sebagai pengkhianat.

Nama Luhut kembali disebut sidang pemohonan praperadilan yang diajukan Mantan Kepala Staf Kostrad Mayjen TNI (purn) Kivlan Zen di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Dalam perkara itu Kivlan menyebut Wiranto dan Luhut sebagai pengkhianat. Keduanya dinilai pantas untuk ditembak, sebagaimana dikutip CNN Indonesia Rabu, 24/07/2019.

Berbicara mengenai pengkhianatan sebenarnya sudah bukan hal yang asing lagi kalau dikaitkan dengan sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Peristiwa sejarah kelam yang terjadi di masa lalu Indonesia yang selama ratusan tahun pernah mengalami hidup di dalam belenggu penjajahan Belanda, memiliki sebuah cerita perih yang akan terus dikenang hingga akhir zaman tentang pengkhianatan anak anak bangsa.

Ya, kisah pengkhianatan anak bangsa yang rela menggadaikan kemerdekaan dan kehormatannya, demi menikmati hidup makmur ala kolonial di bumi Nusantara. Sekadar mengulas dan mengenang sejarah perjuangan nenek moyang kita yang perlu juga diketahui, bahwa musuh kita bukan saja datang dari luar tapi musuh dari dalam sehingga kita harus waspada.Di kalangan tradisional, khususnya di Pulau Jawa, para pengkhianat bangsa ini umumnya lebih sering disebut dengan istilah “Londo Ireng”. Julukan kepada bumiputera (berkulit hitam) yang membela Belanda.

Alih-alih mereka membantu di medan juang menjaga kedaulatan, mereka bahkan rela menjadi pengkhianat bagi saudara sebangsa, sehingga menorehkan kisah buram di tanah airnya.Mungkin bagi mereka, harta dan kenyamanan hidup lebih berharga daripada kemerdekaan dan bisa hidup berdaulat di atas tanah airnya.

Bagi mereka, nasionalisme dan angin kemerdekaan, hanyalah buaian mimpi belaka yang mustahil bisa diwujudkannya. Alhasil, banyak kalangan terpelajar Indonesia, lebih memilih menjadi pegawai kolonial Belanda. Kemapanan, finansial dan jaminan hidup, lebih mudah dibanding bersimbah darah di medan pertempuran dengan ancaman kematian alias kehilangan nyawa.Bisa jadi, itulah alasan mereka membela Belanda demi jabatan dan hidup mapan sejahtera.

Bahkan ketika Indonesia telah merdeka sekalipun, para penjilat ini tetap menyatakan kesetiannya pada Belanda dan bergabung beesama NICA. Dimana tugas dan peran NICA ini ingin mengembalikan pemerintahan kolonial di Indonesia. Anggota NICA bersama Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger (KNIL) dipersenjatai untuk memerangi Indonesia. Penduduk bumiputera menjadi musuh karena memerangi saudara sendiri yang ingin merdeka.

Lalu, kemanakah para bumiputra pengkhianat bangsa jebolan NICA dan KNIL atau Londo Ireng itu kini berada?

Secara ukuran usia normal mungkin sudah mati dan tinggal menyisakan kisah memalukan dan keturuanan. Kemudian pertanyaannya, apakah jiwa Londo Ireng itu masih terbawa oleh faktor genetika kepada keturunannya ? Atau jika benar penjajahan secara halus itu tengah berlangsung saat ini, (masih) adakah peranan Londo Ireng itu dipemerintahan yang sekarang berkuasa ?

Rupanya perkembangan zaman tidak membuat paradigma KNIL ini menjadi sirna. Bahkan sekarang ini kita dapatkan orang berlomba-lomba untuk menjadi “Neo KNIL” dengan iming-iming gengsi, kehormatan dan harta. Mereka yang hari ini mentalitasnya sepertoi budak penjajah justru merasa bangga menjadi “Londo Ireng” (Belanda Hitam) alias pengkhianat bangsa.

Kiranya mentalitas sebagai pengkhianat bangsa itu sudah mewabah sekarang seperti halnya mewabahnya virus corona. Kita tidak boleh menyebut nama tapi bisa dikenali mentalitasnya. Untuk itu marilah kita lihat seperti apa mentalitas Neo KNIL itu sekarang.. :

1.Inferior

Diantara mental seorang budak yang paling menonjol adalah mental Rendah Diri. Merasa tidak punya apa-apa, tidak bisa apa, tidak bisa berdiri dikaki sendiri, merasa belum siap untuk merdeka, hanya dengan bantuan majikan merasa bisa hidup. Maka penghormatan kepada majikan kaum imperialis sangat berlebihan semantara melihat bangsanya sendiri penuh dengan kehinaan.

Indikator yang paling mencolok adalah ketidak mampuan mereka melihat kejahatan majikan yang sedemikian jelasnya, sehingga tidak bisa mengkritisi majikan, mungkin karena sudah banyak diberikan roti dan keju. Sementara terhadap saudara sebangsanya sendiri sangat sinis, terutama kepada para pejuang yang ingin memerdekakan bangsa ini dari berbagai bentuk penjajahan.

Indikator lainnya adalah pembelaan kepada sang Majikan kaum Imprialis sangat berlebihan dan over acting seperti orang yang sedang mencari muka. Padahal roti dan keju yang diberikan oleh majikan adalaha hasil rampasan dari berbagai kekayaan Negara si Jongos tersebut. Tapi yang namanya sudah mental Budak tidak mau tahu, yang penting perut kenyang bantuan dari majikan.

Kita juga menyaksikan apabila si jongos ketemu dengan si Majikan bahasa tubuhnya tidak bisa disembunyikan, terlihat dengan jelas mental jongosnya, dengan membungkukkan badannya, sambil tangannya memegang bagian bawah dekat kemaluanya. Saat terjadi dialog maka satu kata yang haram keluar dari mulut si Jongos tadi adalah kata “Tidak”. Apa saja yang diinginkan oleh simajikan harus dijawab dengan “Inggiih”

2. Shock Culture

Sifat Inferior membawa dampak seseorang menjadi sering norak atau katro. Melihat kemajuan material, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di kecuali harus ikut apa majikan kalau mau maju. Saat itulah otak menjadi beku, kreatifitas mandeg, yang ada Cuma copy paste, ikut, nurut, nunut, manut, ngekor, ngintil, jiplak, ngepek seperti kerbau yang Negara-negara imperialis semakin merasa tidak berdaya lagi. Seolah tidak ada pilihan lain sudah cicocor hidungnya, ditarik kemana saja mau ikut.

Menjadi tolak ukur kemajuan kalau dalam kesehariannya jika sudah bisa mengikuti pola dan gaya hidup barat. Juga menjadi naik status sosialnya jika bisa menyelenggarakan berbagai event, termasuk pesta perkawinan dan seremonial laiinya dengan “Gaya Londo”nya.

Semakin norak lagi dengan bangganya memamerkan hasil fikirannya yang tidak lain cuma hasil jiplakan punya majikannya, tetapi merasa hasil karyanya. Memang diantara ciri khas budak ialah tidak merasa bahwa dirinya sedang diperbudak. Dengan bangganya mengabdi pada majikan yang dianggap punya jasa besar terhadap dirinya.

3. Komprador Volunteer

Ketika noraknya sudah sedemikian rupa, sampai ia siap menjadi tenaga sukarelawan untuk mempromosikan barang dagangan majikannya. Mulai dari gaya hidup, budaya, seni, makanan, minuman, pakaian, assesoris, symbol, lambing atribut dan sebagainya. Dengan media informasi yang dimiliki majikannya, menjadi laris manis dagangan yang dijualnya. Jadilah bangsa ini menjadi sangat konsumeris dan pengimpor besar barang-barang asing.

Rupiah terus anjlog terutama terhadap mata uang Negara-negara Imperialis. Ekonomi tidak stabil, inflasi semakin tinggi. Pengangguran semakin banyak. Produk asing semakin tidak terbendung, mulai dari teknologi tinggi sampai tusuk gigi. Negara ini isinya 2/3 lautan tapi garam bisa import dan tidak merasa malu. Tempe tahu kecap makanan rakyat, tapi 80% kedelenya Impor.

Mereka-mereka yang berhasil mengimpor produk-produk asing terutama seni dan budaya, bisa bertengger di papan atas, seperti pahlawan lagaknya, karena berhasil mempekenalkan budaya asing ke tengah-tengah anak bangsa ini. Sementara milyaran uang terus terkuras keluar, karena kesukaannya terhadap produk-produk asing. Sementara kerusakan moral akibat dari budaya Import tersebut sudah sedemikian besar, tidak bisa dihitung lagi dampak kerugiannya.

Sementara mereka yang mempertahankan kedaulatan Negara, menjaga rupiah jangan sampai anjlog, menjaga budaya bangsa agar jangan sampai dirusak, mengingatkan anak bangsa agar mencintai produk dalam negeri, akan dicap sebagai orang yang menghalangi kebebasan berekpresi, tidak mengerti HAM dan sebagainya.

Ribuan orang pribumi tewas mereka akan seperti orang buta, gagu dan budge, tidak bisa bicara. Tetapi andai satu orang bule (atau China sekarang) mati, maka geger dunia seperti kebakaran jenggot, media gempar, rame-rame si jongos Imperialis itu juga ikut teriak-teriak, sambil menyalahkan saudaranya sendiri sesama pribumi.

4. Raja Tega

Seorang tentara KNIL dilatih, dididik, serta dicuci otaknya agar siap berperang melawan pribumi atau saudaranya sendiri. Maka dimasukan resep PIL yang bernama “Si Raja Tega”. Dengan demikian dia tidak akan ragu-ragu lagi siap bertempur untuk mengganyang saudaranya sendiri. Orang belanda menyebut panggilan pribumi yang berani melawan dengan Istilah Extrimist.

Orang yang sudah otaknya tercuci maka dia tidak punya beban apapun ketika harus membantu majikan si Imperialis dalam memberangus para pejuang kemerdekaan. Roti dan keju yang telah membutakan hati si jongos tadi, sehingga tidak lagi terfikir bagaimana Negara yang semakin hancur lebur ini.

Sementara sekarang Neo KNIL sudah berada di zaman modern yang serba tehnologi. Bukan hanya cuci baju saja yang bisa pakai mesin otomatis, tetapi cuci otak juga sudah bisa secara otomatis. Dengan sarana dan fasilitas pengumbar nafsu syahawat yang semakin mudah, murah dan dekat terjangkau, terjadilah proses cuci otak melalui “CANDUisasi” dengan “PIL Syahwat” yang semakin lama semakin tinggi dosisnya sampai dalam keadaan SAKAU yang terus menerus, tidak bisa dihentikan.

Dalam keadaan SAKAU yang terus menerus, maka setiap orang yang memberikan Pil Candu tersebut akan diangkat sebagai majikan, sebaliknya siapa saja yang mencoba menghentikan akan dianggap sebagai lawan. Disitulah proses cuci otak terjadi. Hak Asasi diartikan kebebasan mengumbar Nafsu Syahwat, sementara melarangnya berarti menentang HAM, akan siap berhadapan dengan majikannya.

Secara otomatis otak sudah tercuci, “kawan dan lawan” diukur siapa yang memberikan candu dan siapa yang melarang. Bagi yang memberi itu kawan dan yang melarang itu lawan. Dalam keadaan SAKAU pula orang bisa nekat yang penting bisa mendapatkan candu. Saat itulah seseorang bisa jadi raja tega karena sudah hilang akal sehatnya dan sudah putus urat malunya.

Seorang yang ingin mempertahankan kedaulatan negaranya, menjaga kehormatan dan harga diri bangsanya, mengajak untuk bisa berdiri sendiri, akan sangat bertentangan dengan keinginan Negara-negara Imperialis yang menjadi majikan Neo KNIL tersebut. Mereka menginginkan Negara jajahan terus berada dalam keadaan ketergantungan yang terus-menerus, sehingga mudah dikendalikan.

Saat itulah dua kepentingan bertemu. Si Majikan bagaimana bisa terus menjajah, si Neo KNIL yang sudah SAKAU berkeinginan bagaimana roti dan keju plus candu syahawat tadi tidak boleh putus. Ketika Negara berdaulat, kehormatan dan harga diri terjaga disitulah nafsu liar yang akan merusak negara sangat dibatasi, sehingga si Jongos tadi merasa terancam kepentingannya.

Apakah ciri-ciri mentalitas Neo KNIL tersebut dimiliki oleh elite pemerintahan seperti Luhut Panjaitan dan kawan kawannya ?. Kiranya Anda sendiri yang bisa menilainya sehingga bisa menyimpulkan kalau yang bersangkutan memang seorang pengkhianat bangsa atau sebaliknya. Rakyat jadi bertanya-tanya ada apa Presiden terus pasang badan untuk mempertahankan Luhut, sampai media asing menyebut Luhut sebagai “The Real President”.

Yang jelas seperti disampaikan oleh Bung Karno “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah Belanda. Tapi perjuangan kalian akan lebih berat, karena melawan saudara sendiri,”. Kalau penghianat bangsa ternyata adalah saudara sendiri lantas seperti apa pengadilan rakyat yang paling cocok untuknya?***

 

Artikel ini sudah dipublikasikan di laman Law Justice dengan judul Menteri Segala Urusan, Penghianat Bangsa di Saat Virus Corona Merebak

Tinggalkan Balasan