Rabu , 15 Juli 2020
Home » Pendidikan » Nekat lakukan pungutan, Kepsek SMA/SMK di Riau akan dipecat

Nekat lakukan pungutan, Kepsek SMA/SMK di Riau akan dipecat

Kadisdik Riau Rudiyanto.

Pekanbaru (Riaunews.com) – Dinas Pendidikan Provinsi (Disdik) Riau membuat surat edaran berupa larangan kepada kepala sekolah tingkat SMA/SMK, untuk tidak melakukan pungutan atau iuran dalam bentuk apapun ke peserta didik.

“Apalagi Gubernur Riau telah menyatakan sekolah gratis mulai tahun ini, dan tidak memperbolehkan sekolah memungut biaya apapun,” kata Kadisdik Riau, Rudiyanto, Senin (2/3/2020).

Langkah ini, tambah Rudi, sebagai bentuk komitmen Pemprov Riau yang sesuai dengan peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 75 Tahun 2016.

Komitmen pertama dijalankan di Kabupaten Indragiri Hulu, dimana seluruh kepsek SMA/SMK se-Kabupaten Inhu menandatangani komitmen, yang tergabung dalam musyawarah komunikasi kepala sekolah (MKKS).

“Komitmen sudah dilaksanakan dengan membuat surat pernyataan tidak melakukan pungutan apapun di sekolah sesuai Permendikbud 75 Tahun 2016, dengan kepala sekokah SMA/SMK se-Inhu yang dilaksanakan di SMA 1 Rengat. Kemudian hari ini SMA/SMK se-Pekanbaru, dan nanti kita lanjutkan kabupaten/kota lainnya,” tambah Rudi.

Dijelaskan Rudi, komitmen tersebut juga dalam mendukung program Pemprov Riau untuk membebaskan biaya apapun kepada peserta didik. Yang isi dalam komitmen yang disampaikan oleh kepsek diantaranya, tidak akan melakukan pungutan, iuran dan SPP dalam bentuk apapun, kepada peserta didik.

“Jika terdapat pungutan atau iuran setelah dilakukan pemeriksaan, dan terbukti melakukan kesalahan melanggar komitmen mereka. Maka mereka sudah siap diberhentikan dari jabatannya sebagai kepala sekolah,” sambungnya.

Rudy menjelaskan, surat pernyataan dibuat karena pihaknya dan gubernur masih saja mendengar laporan adanya sekolah melakukan pungutan. Padahal jauh-juah hari pihaknya mengingatkan dan sudah mengirim surat larangan.

“Sebelumnya kepsek sudah kita ingatkan, namanya iuran dan pungutan yang bentuknya tetap sudah dilarangan. Apalagi pak Gubernur sudah memberi dana Bosda yang cukup besar. Artinya Bosda dan Bosnas kalau digabung sudah sesuai dengan Standar Pembiayaan Minimal (SPM),” paparnnya.

“Makanya menjawab kegerahan pak Gubernur, saya minta kepala sekolah meneken surat pernyatan. Apabila mereka kedapatan melakukan pungutan dan diperiksa oleh tim itu benar, maka konsekuensinya siap dicopot sebagai kepala sekolah,” tutupnya.***

User Rating: Be the first one !
Lazada

Tinggalkan Balasan