Minggu , 7 Juni 2020
Home » Dunia Islam » Kisah hijrah bintang NBA Kareem Abdul Jabbar

Kisah hijrah bintang NBA Kareem Abdul Jabbar

Kareem Abdul Jabbar bersama mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama.

Los Angeles (Riaunews.com) – Nama menjadi sangat penting bagi Lewis Alcindor. Usai memeluk Islam, dia mengubah namanya menjadi Kareem Abdul Jabbar.

Baginya, perubahan nama bukan sekadar sensasi belaka. Dia tak mau disamakan dengan sejumlah selebritas yang berganti nama macam rapper top Amerika Serikat, Sean Combs, menjadi Puff Daddy alias P Diddy demi kebutuhan panggung semata.

Dilansir CNN Indonesia, Abdul Jabbar percaya di balik perubahan nama itu ada transformasi hati, pikiran, dan jiwa. Kesungguhannya untuk hijrah itu pula yang diharapkan tercermin dari nama Alcindor menjadi Abdul Jabbar.

“Saya adalah Kareem Abdul Jabbar, manifestasi dari sejarah Afrika, budaya, dan keyakinan,” demikian tulisnya dalam tulisan di Aljazeera.

Dia tak silau, apalagi terlena dengan ketenaran sebagai salah satu bintang muda NBA kala itu. Abdul Jabbar ingin menemukan ketenangan di tengah kegelisahan tentang ketegangan dan ketidakadilan politik rasial di Negeri Paman Sam pada masa mudanya.

Awalnya dia sangat percaya diri, memilih sebuah keyakinan adalah masalah pribadi. Itu menyangkut keintimannya dengan Tuhan yang dia yakini. Namun, kenyataan jauh dari yang dia pikirkan.

“Ketika Anda terkenal, itu menjadi sorotan tajam publik dan tentu memicu perdebatan. Apalagi ketika Anda berpindah ke agama yang tidak populer dan familier. Anda mendapatkan kritikan yang menyerang intelegensi, patriotisme, hingga kewarasan Anda.”

“Meski saya sudah menjadi muslim sejak 40 tahun lalu, saya bahkan masih harus membela sekuat mungkin keputusan saya tersebut hingga kini,” aku Abdul Jabbar.

Kareem Abdul Jabbar salah satu legenda klub NBA LA Lakers.

 

Salah satu pemain legendaris LA Lakers itu pun menceritakan awal mula berkenalan dengan Islam.

Abdul Jabbar mengucapkan dua kalimat syahadat pada 1968. Saat itu usianya baru 21. Di usia yang masih amat muda, dia sudah tenar karena menjadi pebasket top di UCLA. Ketika itu dia masih menjadi salah satu mahasiswa universitas top di Los Angeles.

Setahun berselang dia baru bergabung ke klub NBA Milwaukee Bucks.

“Meski saya memiliki ketenaran luar biasa sebagai pebasket, saya berupaya keras menjaga kehidupan pribadi. Menjadi selebritas membuat saya grogi dan tidak nyaman. Saya masih muda kala itu sehingga sulit mengartikulasikan kenapa saya begitu malu di bawah sorotan ketenaran itu.”

“Bagian dari saya merasa orang yang dipuja-puja itu bukan diri saya yang sebenarnya. Bukan sekadar remaja yang gelisah menjadi seorang pria, saya juga memperkuat tim basket kampus terbaik di negara ini sekaligus menjaga studi saya,” tulisnya.

Di masa remajanya, Abdul Jabbar juga hidup di tengah ketegangan antara kulit hitam dan kulit putih di Amerika Serikat. Dia pernah merasakan kesedihan dan kemarahan menjadi warga keturunan Afrika.

Puncak kemarahannya ketika tokoh kulit hitam James Meredith ditangkap saat tengah demonstrasi pawai melewati Mississippi. Abdul Jabbar juga menyaksikan pembentukan Partai Black Panther, wadah perlawanan orang-orang kulit hitam.

Abdul Jabbar ikut merasakan kepedihan kerusuhan rasialis di Detroit setelah Thurgood Marshal menjadi Ketua Mahkamah Agung Amerika Serikat pertama keturunan Afrika. Total 43 orang tewas, 1.189 terluka, dan lebih 2.000 gedung dihancurkan dalam kerusuhan itu. Batinnya kian bergejolak.

“Saya semakin menyadari bahwa Lew Alcindor yang dirayakan orang-orang sama sekali bukan pribadi yang mereka bayangkan. Mereka ingin menjadikan saya contoh nyata kesetaraan ras.”

“Remaja poster dari bermacam latar belakang tanpa membedakan ras, agama, dan status ekonomi, bisa meraih impian Amerika. Bagi mereka, saya jadi bukti hidup bahwa rasialisme adalah mitos,” ungkap Abdul Jabbar.

Namun di balik gemerlap sorot ketenaran, Abdul Jabbar masih menemukan fakta ketidakadilan sosial karena ketegangan rasial di Amerika Serikat.

Dari sana Abdul Jabbar banyak mempelajari pemikiran Malcolm X (El-Hajj Malik El-Shabazz) dengan membaca biografinya. Dia ikut hanyut dalam kisah kelam tokoh kulit hitam itu menjadi korban rasialisme terinstitusi sehingga membuatnya terpenjara, secara mental hingga fisik.

Transformasi Malcolm X dari seorang kriminal menjadi pemimpin politik amat menginspirasinya. Islam yang juga dianut tokoh itu membantu menemukan jati diri Abdul Jabbar. Dia mulai mempelajari Alquran secara mendalam.

Abdul Jabbar juga banyak berkenalan dengan sosok heroik Muhammad Ali. Keputusan sang petinju legendaris mengubah nama dari Classius Clay menjadi Muhammad Ali ketika memeluk Islam juga banyak mengilhami Abdul Jabbar.

Abdul Jabbar dikenalkan dengan sosok Ali oleh Jim Brown. Pesepakbola terkenal Amerika Serikat itu mengundang Abdul Jabbar dalam pertemuan di Cleveland pada 1967. Di sana berkumpul para atlet, aktivis, dan veteran kulit hitam.

Mereka berdebat untuk membuat keputusan mengikuti langkah Ali menolak penugasan militer Amerika Serikat ke Vietnam. Setelah debat sengit, mayoritas memutuskan untuk mendukung dan mengikuti sikap Ali.

Saat itu Ali masih menjadi pengikut organisasi Nation of Islam pimpinan Malcolm X. Pemikiran organisasi itu lebih radikal yang menilai bahwa Islam agama perlawanan bagi para kulit hitam. Di luar itu adalah musuh.

Dia mengakui amat berat menjadi muslim pada 1968 ketika jumlah muslim di Amerika Serikat sangat sedikit sekitar jutaan saja. Banyak yang tak mengenal Islam. Yang mereka tahu adalah karakter organisasi Nation of Islam yang radikal memberikan perlawanan terhadap orang kulit putih ketika itu,

“Saya juga sempat didekati Muhammad Ali, tokoh penting Nation of Islam saat itu. Dia tidak memaksa saya bergabung. Namun, dia menjelaskan alasan merasa begitu bersemangat.”

“Bukan hanya memeluk Islam, mereka juga entitas politik yang agresif memerangi rasialisme di Amerika Serikat,” tulis Abdul Jabbar di Providence Journal.

Namun, Abdul Jabbar sampai pada kesimpulan yang sama dengan Malcolm X ketika tokoh Nation of Islam itu pergi haji ke Tanah Suci Makkah, Arab Saudi. Dia mengagumi perubahan pemikiran Malcolm X dari ambisi sekumpulan pemberontak yang hanya tertarik kekuasaan menjadi ke jalan spiritual.

Malcolm X sendiri keluar dari organisasi itu meski pada akhirnya terbunuh. Abdul Jabbar begitu meresapi perubahan positif tokoh tersebut dari ambisi kekuasaan yang agresif dalam semangat permusuhan, menjadi cinta di antara semua ras dan agama.

“Sama seperti Malcolm, saya memilih untuk mengamalkan ajaran tradisional Islam yang menuntun kita memahami tetangga kita dan hidup damai,” ujar Abdul Jabbar.

Pilihan itu pula yang sebelumnya diikuti Muhammad Ali. Meski demikian, Abdul Jabbar menyebut tetap bukan perkara mudah menjadi muslim di Amerika hingga sekarang.

“Kermit si Kodok terkenal dengan keluh-kesahnya: ‘Tidak mudah menjadi hijau.’ Tapi cobalah menjadi muslim di Amerika Serikat,” pungkas Abdul Jabbar. ***

User Rating: Be the first one !

Tinggalkan Balasan