Jumat , 5 Juni 2020
Home » Opini » Anies Baswedan, dipuji tidak terbang, dicaci tidak tumbang

Anies Baswedan, dipuji tidak terbang, dicaci tidak tumbang

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Sosok Anies Baswedan memang mengundang beragam tanggapan, sejak awal kepemimpinannya menggantikan gubernur yang kontroversial Basuki Tjahaja Purnama yang kondang disapa Ahok.

Anies kerap kali menuai beragam cercaan dan kerap dibandingkan kinerjanya dengan mantan gubernur Jakarta Ahok, hal ini disebabkan oleh gaya kepemimpinan Anies yang dinilai lemah dan labil.

Masih lekat di ingatan beberapa hal kontroversial yang membuat Anies dicerca seperti pada saat Anies mengatasi aroma limbah kali item jelang Asian Games dengan kain jaring hitam yang dibentangkan sepanjang 689 meter Anies berharap hal ini akan memperlambat proses evaporasi sehingga aroma limbah tidak tercium (Tim VIVA, 2018).

Baca: Anies berencana akhiri PSBB Jakarta dua pekan mendatang

Atau kebijakan yang maju mundur mengenai ganjil-genap bagi kendaraan bermotor yang dicabut-pasang sehingga membuat masyarakat kebingungan dan resah (Dirhantoro, 2019), hingga anggaran lem aibon yang berjumlah fantastis (Hapsari, 2019) dan yang tak bisa dilupakan tragedi banjir 1 januari 2020 merupakan awal tahun yang sangat menyedihkan bagi sebagian warga Jakarta pasalnya banjir ini merupakan banjir yang paling parah selama beberapa tahun terakhir, meski bukan kesalahan Anies seutuhnya masyarakat dan netizen menyerang dan menyalahkan Anies (Tim VIVA, 2020).

Meskipun dirundung cercaan Anies Baswedan tetap kokoh menjadi leader ditengah keadaan ibukota yang semakin kemelut, pada tanggal 2 maret diumumkannya pasien COVID-19 pertama di Indonesia.

Meskipun domisili pasien di Kota Depok, Anies meyakini penularannya terjadi di Jakarta tepatnya di Restoran Amigos, Kemang (Sihite, 2020).

Baca: Mendistorsi Kebijakan Anies, Haters Kembali Gagal

Pada tanggal 28 Maret, Anies meminta pemerintah melakukan lockdown namun ditolak oleh pemerintah pusat dan akhirnya muncul istilah Physical Distancing yang merupakan pedoman jaga jarak yang sekarang diubah menjadi Social Distancing (Asmara, 2020).

Selain mengajukan lockdown Anies juga mengajukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada tanggal 4 April dan diberlakukan di Jakarta sejak 10 April, PSBB juga ditiru dan dilaksanakan di berbagai daerah di Indonesia.

Tidak sampai disitu Anies juga menghentikan bis antar kota untuk beroperasi dan melarang mudik hal ini ditujukan agar masyarakat dari zona merah Jakarta tidak keluar dan menyebarkan COVID-19 ke daerah lainnya (Tim VIVA, 2020).

Baca: Giliran Wakil Menteri Desa serang Anies, sebut data Bansos di DKI paling ngawur

Kebijakan Anies yang sangat tanggap terhadap penekanan penyebaran COVID-19 menuai pujian yang begitu besar dari kalangan masyarakat hingga petinggi negeri.

Seorang pemimpin memang tidak akan lepas dari pro dan kontra, suka dan tidak suka disitulah tantangan bagi seorang pemimpin untuk terus memperbaiki dirinya.

Berdasarkan teori tipe gaya kepemimpinan yang dikemukanan oleh Gary Yukl, Anies Baswedan memiliki gaya kepemimpinan partisipatif di mana selalu mendorong masyarakat untuk turut serta berpartisipasi dalam membangun ibukota dan selalu dengan lapang menerima kritik dan saran.

Oleh sebab itu Anies tetap kokoh dan fokus memimpin ibukota di tengah berbagai isu yang menimpanya, Anies juga menekankan motonya bahwa ”Pemimpin itu harus tulus. Ketika dipuji dia tidak terbang, ketika dicaci dia tidak tumbang”.***

Artikel ini sudah dipublikasi di Viva

User Rating: Be the first one !

Tinggalkan Balasan