Kamis , 13 Agustus 2020
Home » Internasional » Trump perintahkan penjarah dalam kerusuhan ditembak

Trump perintahkan penjarah dalam kerusuhan ditembak

Aksi demonstrasi di Amerika Serikat menuntut kematian warga kulit hitam oleh polisi kulit putih berujung kericuhan. (Foto: Detroit News)

Washington (Riaunews.com) – Kematian George Floyd, warga Afro-Amerika, yang ditangkap petugas kepolisian di Minneapolis, Negara Bagian Minnesota, berbuntut demonstrasi warga yang berujung kerusuhan di sejumlah kota.

Gubernur Negara Bagian Minnesota mengatakan peristiwa kematian George Floyd saat dalam penangkapan polisi berubah menjadi bentuk perusakan di mana-mana.

Kerusuhan terjadi di New York, Atlanta, Portland, dan beberapa kota lain. Sementara Gedung Putih juga dijaga ketat aparat.

Baca: Twitter kembali labeli cuitan Trump, kali ini soal George Floyd

Seorang polisi kulit putih yang menangkap Floyd, Derek Chauvin, tampak menginjak leher Floyd, 46 tahun, Senin lalu.

Dia dan ketiga polisi rekannya sudah dipecat dan didakwa membunuh.

Presiden Donald Trump menyebut peristiwa ini “sesuatu yang sangat buruk” dan dia mengaku sudah berbicara dengan keluarga Floyd dan menyatakan “mereka orang luar biasa.”

Kematian Floyd memicu kemarahan warga AS tentang polisi yang selama ini membunuhi warga kulit hitam dan memperparah isu rasisme dan ketidakadilan di AS.

Floyd menjadi sosok korban setelah sebelumnya ada kasus serupa yang dialami Michael Brown, Eric Garner, dan yang lainnya. Rangkaian peristiwa sebelumnya memicu munculnya Gerakan Black Lives Matter setelah kematian Trayvon Martin pada 2012.

Baca: Demonstrasi kasus George Floyd menyasar Gedung Putih

Presiden Donald Trump mengatakan mempertimbangkan untuk mengirim pasukan Garda Nasional untuk mengatasi kerusuhan di sejumlah daerah.

Trump menyebut para pengunjuk rasa dengan sebutan “preman” dan mengatakan mereka seharusnya ditembak.

“Kesulitan apa pun dan kami akan mengambil alih kendali tetapi ketika penjarahan dimulai, penembakan dimulai. Terima kasih!” kicaunya di Twitter.

Twitter kemudian menandai kicauan itu dan menyembunyikan teksnya, mengatakan kicauan itu melanggar aturan platform media sosial yang mendukung tindakan kekerasan.

Minnesota saat ini masih dalam keadaan genting dan aturan jam malam diberlakukan di Kota Minneapolis dan Saint Paul dari mulai pukul 20.00 hingga 06.00 Jumat dan Sabtu kemarin.

Pengunjuk rasa menentang jam malam pada Jumat dan sejumlah mobil dan bangunan dibakar massa.

Tayangan televisi memperlihatkan sejumlah massa menjarah toko-toko di Minneapolis.

Sekitar tengah malam polisi dan Pasukan Garda Nasional dikerahkan ke sejumlah lokasi, kata laporan Star Tribune.

Baca: Kematian George Floyd picu kerusuhan di Amerika Serikat

Gubernur Negara Bagian Tim Walz mengatakan dalam jumpa pers, situasi saat ini masih berbahaya dan kacau.

Dia mengatakan jumlah pasukan Garda Nasional yang dikerahkan adalah yang terbesar dalam sejarah di negara bagian yang dipimpinnya tapi dia mengaku “massa jauh lebih banyak dari kami”.

Pentagon sudah menyiagakan pasukan militer untuk dikerahkan ke Minneapolis.

Jumat siang massa berkumpul di depan Gedung Putih di Washington sambil membawa poster foto Floyd dan meneriakkan kata-kata “Saya tak bisa bernapas”, kalimat terakhir yang diucapkan Floyd ketika diringkus polisi dan juga Eric Garner, pria kulit hitam yang ditangkap polisi di New York pada 2014.***

User Rating: Be the first one !

Tinggalkan Balasan