Jumat , 10 Juli 2020
Home » Opini » Menambah Protein Otak

Menambah Protein Otak

Ustaz Abdul Somad dan Rocky Gerung.

Oleh Helfizon Assyafei

Ustad Abdul Somad (UAS) memang serba bisa. Jadi narasumber oke. Jadi wartawan pun boleh.

Dialognya dengan Rocky Gerung (RG) soal akal sehat beberapa kali membuat saya ngakak. Rocky Gerung emang nyantai bae. Selow. Humoris. Tapi argumentatif akademiknya kuat.

“Kalau anda jadi presiden apa yang akan anda lakukan pertama kali?” ujar UAS pada RG.

Baca: Ustaz Abdul Somad blak-blakan harus bayar mahal karena mendukung Prabowo

“Saya akan belikan empek-empek dan tiap hari kirim untuk para buzzer agar meningkat protein otak mereka,” ujar RG.

Saya tak dapat menahan tawa.

Buzer adalah mereka yang dibayar untuk menyulap kenyataan jadi kebalikan. Yang baik bisa jadi jahat dan yang jahat bisa jadi baik. Entah itu di koran, di medsos, dimana saja yang bisa dibaca banyak orang.

Buzzer ada dimana-mana dalam misi yang beda-beda tapi tujuannya sama: kepentingan. Di masyarakat biasa juga ada.

Saya sering mengamati hal ini. Misalnya ada orang yang sering sampaikan hal-hal yang memburukkan satu kelompok di medsos padahal ia amat takut kelompok yang diburukkannya itu yang akan menang di pilkades misalnya. Masalahnya sama, itu juga: KEPENTINGAN.

Buzer itu kurang lebih sama dengan pembisik. Datuknya para pembisik ini namanya iblis. Pengikutnya syetan.

Para pembisik itu memotret realitas sesuai kepentingan mereka atau sesuai pesanan. Lalu menyiarkannya seolah-olah itulah kebenaran yang harus diterima semua orang.

Baca: Haris Azhar tak rela uang rakyat dihamburkan untuk biayai buzzer bela Jokowi

Misalnya ini: Rapor merah tapi dapat juara. Kok bisa? Ya bisalah. Suka-suka buzer donk.

Seperti kata Rocky ketika HRS kritis lalu buzzer mencari-cari kesalahan beliau. Tidak ada. Lalu dibuat sendiri. Dihebohkan sendiri. Tak bisa hadapi kritik akal sehat lalu caranya cari kesalahan pribadi lalu sampaikan ke publik. Hancurkan kredibilitasnya. Padahal apa hubungannya dosa pribadi (privat) dengan kritik publik?

Padahal kritik terhadap kebijakan publik itu wajar. Sedangkan dosa privat itu juga wajar. Dosa privat bukan urusan publik. Itu urusan pribadi kita dengan akhirat. Dengan Tuhan. Kecuali pelakunya pejabat publik yang pakai anggaran publik. Baru tidak wajar. Mengunakan uang negara untuk ke Alexis misalnya.

Kata RG kalau seorang yang kritis harus bersih dulu dari dosa privat maka tidakkan ada pengkritik. Mungkin itulah maunya mereka. Biar bisa jadi Fir’aun. Raja yang tak boleh dikritik.

Buzzer itu seperti seorang penipu yang selalu curiga pada orang lain akan menipu juga. Sama seperti dirinya. Lalu sibuk menuding yang dicurigainya sebagai penipu. Begitulah hidup. Bermula dari sifat, sikap dan perbuatan.

Baca: Sindiran Rocky Gerung: Jangan coba-coba kritik pemerintah sebab publik dikuasai buzzer Istana

Kalau sifat sudah munafik, sikapnya akan senyum di depan kita lalu tusuk di belakang dan perbuatan seperti buzzer. Dan itu selalu ada di sekitar kita. Yang mungkin setiap kita ketemu dia, dianya masih senyum ke kita.

Tapi saya ingat poin penting dari dialog itu: akal sehat mungkin bisa dibungkam, tapi tidak akan mati. Akal sehat tetap hidup di hati-hati orang yang masih bisa membedakan mana kebenaran mana kepentingan.***

 

Penulis merupakan wartawan senior asal Pekanbaru

Artikel ini sudah dipublikasi pertama kali di Facebook Helfizon Assyafei

User Rating: Be the first one !

Tinggalkan Balasan