Jumat , 14 Agustus 2020
Home » Internasional » Barat protes Hagia Sopia dijadikan masjid, Erdogan: Kami melindungi hak-hak Muslim negara ini

Barat protes Hagia Sopia dijadikan masjid, Erdogan: Kami melindungi hak-hak Muslim negara ini

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan.

Istanbul (Riaunews.com) – Banyaknya negara yang ikut mengkritik atas rencana Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang akan mengubah fungsi bangunan ikonik Hagia Sophia menjadi masjid, membuat sang presiden marah.

Presiden berusia 66 tahun itu mengatakan kritik tersebut sebagai bentuk serangan langsung terhadap kedaulatan negara Turki.

Baca: Meski diprotes Rusia dan Yunani, Turki mantap kembalikan Hagia Sophia jadi Masjid

“Tuduhan terhadap negara kita tentang Hagia Sophia secara langsung menargetkan hak kedaulatan kita,” kata Erdogan menanggapi kekhawatiran dari Barat, terutama Yunani, Prancis, dan Amerika Serikat.

“Kami bertekad untuk terus melindungi hak-hak Muslim, agama mayoritas negara kami, serta anggota semua agama lain,” ucap Erdogan pada pembukaan salah satu masjid di Istanbul, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (3/7/2020).

Pengadilan Turki pada Kamis (2/7) menggelar sidang terkait kasus yang bertujuan mengubah Hagia Sophia kembali menjadi masjid. Putusan terhadap hal tersebut akan diumumkan dalam 15 hari ke depan.

Awal pekan ini, Turki terkejut dengan pernyataan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo, yang mendesak Erdogan untuk tidak melanjutkan rencana perubahan Hagia Sophia dari museum menjadi masjid.

Sementara itu, Kemenlu Prancis mengatakan bahwa struktur bangunan yang berdiri sejak abad keenam itu, yang berfungsi selama sembilan abad sebagai katedral Kristen sebelum penaklukan Konstantinopel Ottoman pada tahun 1453, harus tetap terbuka untuk semua.

Baca: Putin klaim persenjataan Rusia Lebih Unggul dari AS

Menurut catatan sejarah, Haghia pertama kali memang berfungsi sebagai katedral, namun kemudian diubah fungsinya menjadi masjid di masa kekaisaran Ottoman. Pada tahun 1953 Hagia Sophia fungsinya diubah menjadi museum oleh pemerintahan sekuler Turki modern, Mustafa Kemal Attaturk.***

User Rating: Be the first one !

Tinggalkan Balasan