Kamis , 6 Agustus 2020
Home » Nasional » Fadli Zon heran pemerintah tidak protes ke China atas meninggalnya sejumlah ABK karena diperbudak

Fadli Zon heran pemerintah tidak protes ke China atas meninggalnya sejumlah ABK karena diperbudak

ABK Indonesia kembali tewas di kapal China.

Jakarta (Riaunews.com) – Anggota DPR Fraksi Partai Gerindra Fadli Zon angkat bicara soal kembali ditemukannya jenazah ABK WNI yang bekerja di kapal milik China.

Parahnya, jenazah ABK WNI asal Lampung atas nama Hasan Afriadi ini disimpan di dalam peti pendingin ikan atau freezer Kapal Lu Huang Yuan Yu 117 yang berbendera China.

Mantan wakil ketua DPR itu pun menyesalkan masih terjadinya dugaan perbudakan di kapal berbendera China.

Baca: Kisah ABK WNI di kapal China: Meninggal setelah disiksa, mayat disimpan sebulan sebelum dibuang ke laut

“Sampai kapan perbudakan di kapal Cina?” twit Fadli di akun Twitter-nya @fadlizon, Rabu (8/7/2020) malam.

Fadli pun menyesalkan karena tidak ada protes dari Pemerintah Republik Indonesia kepada China.

“Tak terdengar protes pemerintah RI pd RRC,” kata ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) itu.

Sebelumnya diberitakan, dua kapal berbendera China diamankan tim gabungan di wilayah perairan Kepulauan Riau (Kepri), Rabu (8/7).

Dua kapal itu ialah Lu Huang Yuan Yu 117 dan Lu Huang Yuan Yu 118. Jenazah WNI dikabarkan disimpan di dalam freezer Kapal Lu Huang Yuan Yu 118.

Perlakuan menyedihkan terhadap ABK WNI bukan baru kali ini terjadi. Beberapa waktu lalu diberitakan, ABK WNI bertutur kepada salah satu media internasional mengenai perlakuan yang diterima saat bekerja di kapal ikan berbendera China.

Ia dan teman WNI lainnya mengaku mengalami apa yang dia sebut sebagai perbudakan selama enam bulan di atas kapal.

Selain perbudakan ada juga kasus ABK Indonesia, Herdianto, yang meninggal dan dilarung di laut Somalia oleh kapal berbendera China bernama Luqing Yuan Yu 623.

Kemudian seorang ABK asal Indonesia lainnya yang bekerja di sebuah kapal ikan milik perusahaan China, meninggal dunia di Pakistan, Jumat (22/5/2020), setelah menderita sakit hernia.

Selain itu, lembaga Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia menyebut ada dua ABK melompat ke laut karena tidak tahan dengan kerja paksa mirip perbudakan di kapal ikan berbendera China.

Koordinator DFW Indonesia Muh Abdi Suhufan, di Jakarta, Senin 8 Juni 2020, mengatakan berdasar data yang dihimpun, laporan terbaru menyebutkan pada Jumat (5/6), dua orang awak kapal perikanan Indonesia jadi korban.

Yakni atas nama Reynalfi dan Andri Juniansyah. Keduanya melompat dari kapal ikan China, Lu Qian Yua Yu 901 saat kapal melintasi Selat Malaka.***

User Rating: Be the first one !

Tinggalkan Balasan