Selasa , Mei 18 2021

Limbah Cair Buangan PKS SSR Dibawa Uji ke Labor Pekanbaru

RENGAT (RiauNews.com) – Limbah cair dari industri pengolahan kelapa sawit diduga dibuang ilegal melalui anak sungai menjadi sorotan.

Kepala dinas lingkungan hidup (DLH) pemerintah kabupaten Pemkab Indragiri Hulu (Inhu) Ir H Selamat MM membenarkan sekitar 7,5 liter air diduga limbah bahan beracun dan berbahaya (B3) milik PKS PT SSR dibawa uji ke Laboratorium Pekanbaru.

Pengujian limbah dilakukan guna memastikan ada tidaknya bahan beracun dan berbahaya dari pengolahan kelapa sawit berkapasitas 90 ton per jam di Desa Talang Jerinjing Kecamatan Rengat Barat, Kabupaten Indragiri Hulu.

“Sudah dibawa ke Pekanbaru untuk diuji,” jawab Kadis DLH, Kamis (23/7/2020).

Sayangnya Kadis DLH enggan merinci sanksi tegas akibat pelanggaran membuang limbah cair berbahaya tanpa izin. Kita gak bisa berandai-andai, tunggu hasil Lab-nya dulu ya,” singkat Selamat.

Terpisah Kabid Pengolahan Sampah Limbah dan Peningkatan Kapasitas DLH Pemkab Inhu Joni Marianto membenarkan sampel limbah dikirim ke Laboratorium Dinas PU Provinsi di Pekanbaru pada hari Kamis pekan kemarin.

“Bisanya paling lambat sebulan hasil Lab-nya diketahui, bisa kurang,” sambung Joni.

Membuang limbah cair diduga limbah bahan beracun dan berbahaya (B3) menjadi sorotan setelah PKS PT SSR dilaporkan masyarakat ke DLH Pemkab Inhu di Pematangreba.

Pasca dilaporkan petugas DLH Pemkab melakukan observasi sekaligus jemput sampel limbah cair dari lokasi pencernaan dikawasan kebun sawi milik Perusahaan, Kamis, 16 Juli 2020.

‘Sampelnya juga kami ambil ulang disaksikan Manajaman PKS PT SSR dengan mutu PH mencapai delapan,” sebut Joni.

Sebelumnya Manajer PKS PT SSR Stenly Manalu mengakui TKP sampel limbah adalah aliran pembuangan limbah dari pabrik.

“Jika parameternya di atas ambang mutu kami siap memperbaikinya,” jawab Stenly.

Namun jika kesannya mau cari-cari kesalahan, semuanya salah. “Pabrik ini juga gak benar seratus persen, bahkan perusahaan pemegang ISPO 14.000 sekalipun gak akan benar seratus persen, paling paling mendekati,” jawab Stenly.***(SN)

  • Editor: Edi Gustien
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: