Selasa , Mei 18 2021

Luhut ingin pemerintah gandeng China kembangkan rare earth di Indonesia

Menko Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan.

Jakarta (Riaunews.com) – Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan, menyatakan pemerintah masih dilema terkait investasi pengembangan Rare Earth (logam tanah jarang) di Indonesia. Sebab rare earth ini, kata Menko Luhut, paling banyak diproduksi di China. Sejauh ini, China dinilai menjadi investor potensial untuk rare earth ini.

“Ini dilematis, karena rare earth ini paling banyak di produksi di China. Amerika sendiri begitu di-banned China kelabakan juga. Nah investor yang paling cepat China,” ujar Menko Luhut dalam Webinar Investasi di Tengah Pandemi, Sabtu (25/7/2020).

Baca: Luhut klaim kedatangan 500 TKA China akan ciptakan 5.000 tenaga ahli baru

“Jadi memang tidak sesederhana yang dilihat orang. Cari investor itu tidak semudah yang dipikirkan orang,” imbuh dia.

Menko Luhut menyebutkan, adapun beberapa pertimbangan dalam menentukan investor, salah satunya terhadap kepentingan nasional. Selain itu juga ada perhitungan strategi, situasi geopolitik serta berapa banyak yang akan diberikan. “Tidak akan diberikan semuanya,” kata Menko Luhut.

Beberapa waktu lalu, Menko Luhut melakukan pertemuan dengan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. Pertemuan tersebut, salah satunya membahas timah dan rare earth atau logam tanah jarang untuk pembuatan senjata.

Saat ini, beberapa negara sudah mengembangkan pengolahan rare earth sebagai kebutuhan industri. Negara itu antara lain China, Amerika Serikat, India, Brasil, Australia, Afrika Selatan, hingga Malaysia yang memiliki cadangan rare earth.

Namun, produksi terbesar ada di China. Totalnya mencapai 95 persen dari total produksi di dunia. Sementara, cadangan rare earth di Negeri Tirai Bambu diperkirakan mencapai 36 juta ton atau setara 30 persen dari total cadangan di dunia sebanyak 99 juta ton.

Baca: Sindir Luhut, Fahri: Kata Pak Jokowi bangsa kita bermental baja, jangan gampang tersinggung

Menko Luhut menjelaskan bahwa timah mengandung rare earth atau logam tanah jarang yang sedang menjadi incaran di dunia. Rare earth ini merupakan komoditas mineral hasil ekstrak tin atau timah, untuk kemudian bisa disulap sebagai campuran kebutuhan pembuatan magnet, elektronik, hingga senjata.

“Timah di Bangka Belitung itu baru saya bicara kemarin di parlemen mengandung rare earth. Rare earth itu sekarang bisa diekstrak dari timah, nah itu rare earth ini sekarang menjadi incaran di dunia,” kata Menko Luhut.***

 

Sumber: Liputan6
Editor: Ilva

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: