Curhat, Nadiem rasakan sendiri susahnya mengajar anak lewat PJJ

Mendikbud Nadiem Makarim. (Foto: Antara)

Jakarta (Riaunews.com) – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim menampik rumor yang menyebut pembelajaran jarak jauh (PJJ) dirancang untuk jangka waktu yang lama. Ia mengatakan tuduhan tersebut kerap ditujukan pada dirinya.

“Banyak yang nuduh mas menteri mau PJJ diteruskan. Tidak, saya tidak ingin PJJ. Ini terpaksa karena kondisi covid,” ungkapnya melalui siaran langsung di akun Instagram, Rabu (26/8/2020).

Ia menjelaskan pihaknya sedang memprioritaskan agar siswa bisa kembali bersekolah secepat mungkin dengan kemungkinan yang paling aman. Hal tersebut yang menjadi dasar sekolah di zona kuning dan hijau kini diizinkan dibuka.

Pembukaan sekolahnya, katanya, perlu mempertimbangkan banyak hal karena memungkinkan kegiatan berkumpul di ruangan tertutup. Ia menekankan pembukaan sekolah berbeda konsepnya dengan pusat perbelanjaan.

Nadiem menjelaskan pusat perbelanjaan terkait kehidupan ekonomi banyak orang. Lantaran itu, pembukaan pusat perbelanjaan diputuskan secara cepat.

Meski demikian, ia mengaminkan bahwa kebutuhan pendidikan tak kalah penting. Hingga kini pihaknya masih mencari formula belajar tatap muka yang efektif. Ia berharap sekolah bisa melakukan pembelajaran tatap muka meski di tengah pandemi.

“Itu komitmen saya. Kita akan terus buat relaksasi agar sekolah belajar latihan menjaga protokol kesehatan,” lanjutnya.

Nadiem mengatakan kendala PJJ bukan hanya dialami masyarakat, namun juga dirinya sebagai seorang ayah. Ia memiliki dua anak berusia dua dan tiga tahun yang sudah mulai bersekolah dan harus belajar daring.

Selama PJJ, kedua anaknya bergantian dibantu Nadiem dan istrinya ketika belajar daring. Mantan bos Gojek itu mengaku kesulitan mendampingi anaknya, terlebih karena usia yang masih dini.

“Ada kurikulumnya, membaca, literasi. Saya paling tidak sehari dua sampai tiga buku dibacakan ke dia. Terus main game ditanya, bertambah. Kurikulumnya ada dari buku,” ujarnya.

Ia bercerita hal tersebut berat dilakukan sembari ia berperan menjadi menteri. Selama bekerja dari rumah, kegiatannya bercampur antara mengurus negara dan mengajari anak.

Nadiem mengatakan dirinya mengerti betul keluhan orang tua yang kesulitan mengajar anak. Namun keputusan PJJ, katanya, bukan hanya di tangan Mendikbud.

“Itu keputusan melakukan itu kan ada di empat kementerian, bukan hanya saya. Kita harus berembuk soal kriteria kesehatannya. Saya sebagai Mendikbud yang menjadi corong yang merealisasikan kebijakan tersebut,” katanya.

Kemendikbud mencatat ada 1.063 sekolah yang sudah dibuka di zona kuning, dan 347 sekolah di zona hijau. Juga tercatat 717 sekolah di zona oranye dan 57 sekolah di zona merah melakukan pembelajaran tatap muka padahal masih dilarang.

Sedangkan 1.840 sekolah di zona merah, 12.124 sekolah di zona oranye, 6.238 sekolah di zona kuning dan 764 sekolah di zona hijau masih melakukan PJJ.***

 

Sumber: CNN Indonesia
Editor: Ilva

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: