Minggu , Mei 9 2021

TikTok rela lakukan apapun demi bertahan di AS


New York (Riaunews.com) – Aplikasi video pendek asal China, TikTok, melakukan apapun demi bertahan di Amerika Serikat, yang merupakan salah satu pasar potensial terbesar mereka.

Direktur Keamanan TikTok untuk AS, Eric Han mengaku pihaknya telah menghapus sekitar 380 ribu video dan 1.300 akun di negara tersebut, karena melanggar larangan ujaran kebencian (hate speech) dan rasisme yang berlaku untuk platformnya. Tak hanya itu. Tiktok juga mengatakan telah menghapus sekitar 64 ribu komentar dengan alasan yang sama.

Baca: Setelah TikTok dan WeChat, Trump ingin ‘tendang’ Alibaba dari Amerika

“Tujuan kami adalah untuk menghilangkan ujaran kebencian di TikTok. Angka-angka ini tidak mencerminkan tingkat keberhasilan 100 persen dalam upaya melacak setiap konten atau ujaran kebencian, tetapi ini menunjukkan komitmen kami untuk bertindak,” kata Eric Han, dalam posting blognya.

TikTok selanjutnya mengatakan bahwa mereka bertindak berdasarkan konten-konten tidak pantas yang mencakup pelecehan rasisme, dan konten yang menyangkal “tragedi kekerasan” seperti Holocaust dan perbudakan.

Aplikasi berbasis video pendek milik perusahaan ByteDance Technology ini belakangan mendapat sorotan tajam di Amerika Serikat (AS), setelah Presiden Donald Trump menyatakan TikTok sebagai ancaman bagi “keamanan nasional, kebijakan luar negeri, dan ekonomi” AS.

Donald Trump menuduh TikTok meneruskan data-data pribadi pengguna di AS kepada otoritas China. Tetapi TikTok menolak tuduhan tersebut.

“TikTok tidak pernah memberikan data pengguna AS kepada pemerintah China, juga tidak akan melakukannya jika diminta. Setiap tuduhan yang bertentangan (dengan pernyataan ini) tidak berdasar dan jelas-jelas salah,” kata TikTok dalam sebuah posting baru-baru ini.

Baca: Pemilik TikTok sensor konten Anti China di Indonesia

Donald Trump juga telah mengeluarkan perintah eksekutif yang memberi ultimatum dengan batas waktu kepada ByteDance untuk menghentikan operasi TikTok di AS, atau menjual aplikasi itu kepada perusahaan Amerika Serikat (AS) seperti Microsoft.

Microsoft telah menyatakan minat untuk membeli TikTok atas persetujuan Presiden AS. Raksasa teknologi AS lain, Oracle, juga mengatakan berminat mengakuisisi TikTok di AS.

Presiden Donald Trump juga menuduh TikTok telah melacak karyawan federal AS dan melakukan spionase bisnis. Pemerintah AS telah melarang seluruh pegawai negeri sipil (PNS) menggunakan TikTok dan aplikasi China yang lain, WeChat. China menuduh pemerintah AS melakukan “diplomasi kapal perang” di dunia digital dalam kasus TikTok.***

 

Sumber: DW
Editor: Ilva

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: