Belajar Bahagia dari Hutan

Oleh Helfizon Assyafei

Menjadi miskin itu problem. Ia seperti hantu yang menakutkan orang-orang modern. Jadi apapun cara dilakukan agar terhindar dari hantu ini. Kalau perlu menipu ya menipu, menjilat, berkhianat, menggelapkan uang, memasang jimat di tempat usaha atau apapunlah.

Saya pernah berbincang dengan seorang yang katanya ahli terawang. “Di Panam ini saja boi, dari hasil terawang saya banyak melihat ‘pemikat’ (jimat) dipasang di tempat-tempat usaha,” ujarnya.

Menjadi miskin itu problem. Kecil peluang jadi ketua apapun. Soal ketua-mengetua di era modern syarat tak tertulisnya; uangnya tak berseri. Alias tidak miskin dan suka berbagi. Pokoknya tidak miskin. Dengan cara apapun terserahlah.

Toh ketika perlu dukungan suara misalnya orang takkan bertanya dari mana duit tak berseri itu tuan/puan? Tidak. Terlalu sibuk orang mau menanyakan itu. Yang kan ditanyakan orang berapa untuk saya atas apa yang saya lakukan untuk kemenangan mu?

Menjadi miskin itu problem. Kecuali bagi para spiritualis. Para pecinta dunia batin. Para pencari Tuhan. Miskin bukan problem. Yang problem itu tidak menemukan makna hidup. Miskin pun tak mengapa yang penting hidup punya tujuan mulia untuk diperjuangkan.

Bagi mereka untuk apa kaya kalau resah. Kalau gelisah. Kalau suntuk. Kalau galau. Kalau banyak musuh. Kalau membunuh mu..kalau..kalau lainnya.

Menjadi miskin itu problem. Kecuali bagi orang yang terus melatih kesadarannya. Saya pernah baca buku Ajhn Bhram seorang di antara biksu-biksu yang berlatih di hutan Thailand. Berlatih untuk menjadi bukan siapa-siapa. Jangankan punya ATM punya KTP pun tidak. Ajhn itu artinya; guru.

Ia bercerita. “Saya berada di hutan Thailand selama 9 tahun belajar kesadaran dan makanan kami di sanapun begitu menjijikkan”.

“Anjing anda pun mungkin tak doyan makanan kami,” kenangnya. Apapun yang berkeriapan, merayap di sana bisa dimasukkan ke dalam mangkuk kami-kodok rebus, tokek, kadal, bekicot, belalang, telur, semut, sampai pusar kerbau-inilah yang kami makan. Sungguh payah,” kenangnya lagi.

Tapi dari didikan keras macam itulah lahir seorang yang menginspirasi jutaan orang bagaimana belajar jadi orang bahagia.

Diundang ke berbagai negara memberi ceramah, bukunya best seller yang kalau dibaca bukan saja banyak humornya tapi juga hikmahnya. Katanya begini; Dalam hidup kita sering ditipu oleh keinginan. Kita sangat menginginkan satu hal yang kita kira bila kita dapatkan akan membuat kita bahagia selamanya. Kita berjuang mati-matian deminya. Habiskan banyak waktu, uang, tenaga bahkan kesehatan. Begitu tercapai ternyata biasa saja rupanya. Cuma begini??

Kadang sampai berkelahi, saling menyakiti seperti anjing berebut tulang. Padahal setelah dapat, berlaku hukum kepuasan yang berkurang. Saat kebahagiaan itu lenyap maka kita kembali harus memburu cita-cita baru, tujuan baru, sambil berharap tujuan dan cita-cita baru itu akan memberikan kita kebahagiaan selamanya, dan ternyata setelah tercapai lagi… Cuma begini??

Itulah sifat dunia dan isinya. Yang begitu mudah memperbudak orang. Ah mungkin anda tidak setuju. Tapi tak apa kok. Tiap orang boleh memilih jadi budak dunia atau jadi orang yang merdeka. Sebab keduanya punya keasyikan tersendiri…***

21 September 2020

 

Penulis merupakan wartawan senior

Tulisan ini sudah dipublikasi pertama kali di Facebook Helfizon Assyafei @helfizon.assyafei.9

Tinggalkan Balasan