Kamis , Desember 2 2021

Bukan Basa-Basi

Anggota DPR RI asal RIau, Achmad.

Oleh: Helfizon Assyafei

Bahasanya santun. Tapi tegas dan lugas. Bukan basa-basi. “Tolonglah pak menteri agama jangan obral mengatakan radikal. Jangan obral katakan teroris. Jangan obral katakan Islam tu ganas. Ini tidak baik. Jadilah seorang menteri agama itu bertahta di hati umat bukan sebaliknya,” ujar Anggota Komisi VIII DPR RI dari Demokrat asal Riau, Drs Achmad Msi saat hearing dengan Menteri Agama kemarin di DPR.

Ia melanjutkan. “Dari 85 persen umat Islam berapa persenkah yang radikal? Kan belum pernah Menag mengeluarkan berapa persentase yang radikal. Kenapa yang kecil jadi ‘mainan’ mengapa yang besar tak diurus dengan baik. Hentikanlah kata-kata radikal ini. Kata radikal tidak selalu negatif. Kalau tidak radikal positif kita takkan merdeka bersama Soekarno-Hatta pak. Jangan Menag jadi pemicu gaduh bagi umat. Harusnya jadi penyejuk,” ujarnya lagi.

Baca: PA 212 serukan umat memboikot dai yang ikut Sertifikasi Kemenag

Kemudian lanjutnya lagi. “Radikal itu kelompok yang mana? bukankah fungsi kita pembinaan pak? kan ada anggarannya. Ada anggaran pembinaan keagamaan. Untuk ormas misalnya. Jadi kalau ada kelompok radikal itu dekati mereka bina mereka.

Ingat kata pepatah. Mulut mu harimau mu yang akan menerkam kepala mu. Ini bapak sudah diterkam orang sekarang ni. Dimana-mana. Bahkan masuk usul ke saya pak, berhentikan saja menteri agama tu,” ujarnya lagi.

“Termasuk menerima ASN kok poin anti radikal dimasukkan. Kenapa anti narkoba tidak dimasukkan? Padahal itulah yang menghancurkan bangsa ini. Artinya orang yang narkoba bisa jadi ASN? Harusnya ini yang dimusuhi.

Janganlah terlalu radikalisme menghantui kita. Juga soal istilah Good looking itu artinya ganteng/bagus. Masa dicurigai juga. Kan saya termasuk ganteng waktu muda. Di SMA pernah jadi idola pak. Tapi saya tak radikal. Sekarang pun sisa-sisa ganteng tu pun masih ada,” ujarnya diselingi tawa hadirin.

Baca: Kritik Menag bicara radikalisme, MUI: Ujung-ujungnya yang kena umat Islam

“Masa anak muda yang suka tahajud, hafiz dicurigai radikal. Ini kan ucapan seorang menteri kan bahaya pak. Tolong jangan diulang lagi pak,” ujarnya pula. Saya lihat di video itu Pak Menag dan jajarannya menyimak. Pak Achmad telah menyampaikan apa yang kita rasakan dengan sangat artikulatif, runut, logis dan tidak bertele-tele.

Dan yang menarik di kalimat penutup beliau sebutkan begini; Mohon maaf bila saya lancang. Saya ne apalah dibanding bapak yang jenderal saya bukan siapa-siapa. Tapi ini amanat umat yang harus disampaikan,” ujarnya lagi.

Terimakasih pak Achmad. Plong rasanya akhirnya sampai juga ke telinga yang seharusnya. Sebab sekritis apapun tulisan saya, jelas orang sekelas pak menteri takkan sempat membacanya. Sebab kalau pak Achmad saja bukan siapa-siapa maka saya lebih tidak siapa-siapa lagi.

Baca: MUI kecam pernyataan Menag bahwa “radikalisme masuk masjid lewat hafiz quran”

Dengan cara disampaikan langsung itu lewat hearing itu setidaknya bisa jadi bahan renungan buat pak menteri. Sama berdoa kita mudah-mudahan koreksi itu diterima pak Menag dengan hati jernih.***

 

Penulis merupakan wartawan senior

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: