Gojek akhirnya pakai nama sendiri di Thailand

Gojek sebelumnya menggunakan merek Get di Thailand, namun kini diganti ke merek Gojek.

Bangkok (Riaunews.com) – Gojek resmi menggusur nama Get di Thailand. Nama aplikasi Get diganti menjadi Gojek yang menandakan integrasi satu merek antara aplikasi di Indonesia dengan aplikasi di Thailand.

Pada Juli 2020, Get mengatakan akan menyatukan aplikasi dan mereknya di bawah Gojek sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk membuat dampak positif dan mendorong inovasi bagi pelanggan di pasar Thailand.

“Setelah kami menjajal pasar dengan menggunakan merek lokal Get selama 18 bulan, inilah saatnya mengubah merek dan meluncurkan Gojek di bawah merek aplikasi tunggal,” kata General Manager Gojek Thailand, Pinya Nittayakasetwat.

Pinya mengatakan penyatuan merek ini juga akan dilakukan di seluruh negara operasional Gojek. Hal ini dilakukan untuk melakukan langkah agresif dalam ekspansi dan investasi cepat.

Gojek telah beroperasi di Singapura, Filipina, Vietnam, dan Thailand, dua di antaranya sebelumnya memiliki merek lokal. Di Vietnam, sebelumnya Gojek menggunakan brand GoViet yang diluncurkan kembali sebagai Gojek pada 5 Agustus lalu.

“Dengan memiliki satu aplikasi, kami memiliki arsitektur teknologi dan ribuan insinyur dari Gojek, yang dapat membantu mempercepat peluncuran layanan baru lebih cepat dengan sistem back-end yang mulus,” ucap Pinya.

Dilansir CNN Indonesia dari Pymnts, Senin (21/9/2020), aplikasi Gojek di Thailand menyediakan tiga layanan, yaitu pesan-antar makanan, ojek online, dan pengiriman. Ada 50 ribu pengemudi dan 30 ribu mitra pedagang makanan di kawasan Bangkok.

Dilansir dari Bangkok Post, pakar e-commerce Pawoot Pongvitayapanu mengatakan bersatunya brand di bawah Gojek di Thailand akan memudahkan investor melihat pertumbuhan semua pengguna Gojek.

Hal ini dapat meningkatkan kepercayaan investor untuk berinvestasi di putaran pendanaan berikutnya.

“Merek lokal mungkin terlalu lemah untuk menjadi menarik, seraya menambahkan bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan gerakan seperti itu, karena pengguna dan restoran sudah terbiasa dengan layanan pesan-antar makanan setelah pandemi,” ujar Pawoot.***

Tinggalkan Balasan