Kamis , Desember 2 2021

Mantan menteri ini nilai tol laut Jokowi program ecek-ecek

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Kabinet Gotong Royong 2001-2004, Rokhmin Dahuri.

Jakarta (Riaunews.com) – Program tol laut Presiden Joko Widodo kembali mendapat kritik. Sebab, sejak diluncurkan pada Februari 2015, program ini dinilai belum berdampak signifikan terhadap penurunan harga bahan-bahan pokok di wilayah yang rutenya dilalui oleh tol laut.

Padahal tujuan Presiden Jokowi membangun Tol Laut adalah untuk menekan harga pangan, terutama kebutuhan pokok.

Baca: Terungkap, 14 ABK WNI yang bekerja di kapal China tak terima gaji utuh dan diskriminasi

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Kabinet Gotong Royong 2001-2004, Rokhmin Dahuri, secara blak-blakan menyebut Tol Laut Jokowi sebagai program ecek-ecek.

“Kalau ecek-ecek seperti sekarang Tol Laut malah rugi. Karena kapal mengangkut dari Jakarta ke Ambon penuh. Tapi dari Ambon ke Jakarta kosong melompong atau perlu waktu 3-6 bulan. Malah subsidi terus, pelayaran swasta marah-marah karna Pelni disubsidi terus,” kata Rokhmin dalam Peringatan Hari Maritim Nasional Ke-56 Tahun 2020, Rabu (23/9/2020).

Menurut dia, kondisi tersebut membuktikan tujuan utama Jokowi membangun Tol Laut tidak tercapai. Sebab program tol laut hanya mengandalkan subsidi untuk menurunkan biaya angkut.

Pendekatan seperti ini dinilai Ketua Bidang Kelautan, Perikanan dan Nelayan PDIP ini tidak berkelanjutan, karena ketika subsidi dicabut maka harga akan naik lagi.

Rokhmin mengatakan, daripada mengandalkan Tol Laut untuk mengembangkan ekonomi maritim, pemerintah seharusnya justru mengembangkan kawasan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI). Selain itu pemerintah juga perlu membangun pulau-pulau kecil di wilayah perbatasan.

Baca: Eksploitasi ABK WNI di kapal China, Fadli Zon: Negara tak hadir membela rakyat

“Tetapi jangan ecek-ecek. Kalau yang kita sebar kegiatan industrinya dan ekonomi ke luar Jawa, itu terapi yang bagus. Secara logistik akan membantu dan secara ekonomi akan memberikan pemerataan pembangunan keluar Jawa. Begini seharusnya membangun maritim bukan dengan narasi-narasi yang tidak kuantitatif,” tandasnya.***

 

Sumber: RMOL

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: