‘Ngemper’, jurus restoran besar buat bertahan hidup

Restoran waralaba Pizza Hut terpaksa mengerahkan karyawannya turun ke jalanan sebagai salah satu cara bertahan di masa pandemi Covid-19. (Foto: Tribunnews)

Jakarta (Riaunews.com) – Sejumlah restoran memutar otak agar bisa bertahan dari dampak pandemi Corona dan penerapan sosial berskala besar (PSBB). Salah satunya ialah menerjunkan karyawannya untuk jualan di pinggir jalan atau ‘ngemper’.

Salah satu yang menempuh untuk menerjukan karyawannya atau ngemper ialah Pizza Hut. Pengelola Pizza Hut menjelaskan secara prinsip pihaknya mendukung kebijakan pemerintah untuk mengatasi pandemi COVID-19.

Baca: Pizza Hut di Indonesia tak ada hubungannya dengan yang bangkrut di AS

“Secara prinsip kami mendukung dan mematuhi peraturan dan kebijakan pemerintah dalam mengatasi wabah pandemi COVID-19 selama beberapa bulan terakhir,” kata Corporate Secretary PT Sarimelati Kencana Tbk (PZZA), Kurniadi Sulistyomo, dilansir Detikcom.

Sepanjang pengetahuannya, sejumlah restoran baik skala kecil maupun besar menerapkan langkah yang sama. Hal itu merupakan bagian dari pemasaran dan penjualan produk.

“Tanpa perlu menyebut merek lain ya, tapi kebijakan ini cukup positif dalam mendekatkan diri kepada konsumen,” katanya.

Ia juga menuturkan, pihaknya mempertimbangkan faktor beban dan biaya yang dikeluarkan seperti gaji, sewa lokasi, operasional hingga inventaris makanan.

“Karena keseluruhan biaya tersebut tetap dikeluarkan secara rutin per bulan. Meskipun terdapat pembatasan santap di tempat dalam PSBB,” tambahnya.

“Mohon agar dicatat bahwa nafkah hidup keluarga besar masing-masing karyawan juga bergantung dari hasil tersebut,” terangnya.

Baca: Restoran terapung Sungai Siak ditargetkan beroperasi pekan depan

Kebijakan tersebut salah satunya dirasakan oleh Anwar (bukan nama sebenarnya) yang merupakan karyawan freelance di Pizza Hut Delivery (PHD). Dia bercerita mulanya hanya kurir pizza biasa.

Saat pandemi dan penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), ia mendapat tugas baru yakni berjualan di pinggir jalan. Berjualan di pinggir jalan diakuinya ada rasa enak dan tidak enaknya. Tidak enaknya ialah ia harus rela panas-panasan.

“Sebenarnya yang lebih berat anter, terlambat aja diomelin. Tapi nggak enaknya pas jualan panas-panas gini,” kata Anwar di sela kesibukannya kepada detikcom di Kebayoran Lama Jakarta Selatan, Senin (21/9/2020).

Namun, ia bersyukur dalam kondisi seperti ini perusahaan tetap terus berjalan dan tidak mengambil kebijakan pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Untungnya alhamdulilah nggak ada PHK di PHD,” katanya.

Anwar biasanya terjun ke jalan sekitar pukul 13.00 WIB. Ia membawa setidaknya 30 pizza yang dijual seharga Rp 16.500 untuk seporsinya.

Dia menuturkan, jika dagangan tak habis maka akan dikembalikan ke outlet. Outletnya sendiri terletak di Bendungan Hilir.

“Kita biasa bawa 30 box. Kalau abis alhamdulilah, kalau nggak dibawa outlet,” katanya.***

 

Sumber: Detik

Tinggalkan Balasan