Pengungsi Rohingya ditolong warga Aceh setelah berbulan-bulan terombang-ambing di lautan

Pengungsi Rohingya dari Myanmar menaiki perahu kayu ke tempat penampungan di Krueng Raya di Aceh Besar. (Foto: Merdeka)

Banda Aceh (Riaunews.com) – Sebuah kapal yang membawa sebanyak 297 orang termasuk 14 anak-anak pengungsi Rohingya akhirnya berlabuh di Indonesia pada Senin, (7/9/2020) dini hari. Mereka diketahui telah melarikan diri bertahun-tahun dari penganiayaan di Myanmar.

Mereka mengaku sudah enam bulan terombang ambing di lautan. Kedatangan pengungsi Rohingya di Indonesia ini merupakan yang terbesar sejak 2015.

Sebelum mendarat, polisi mengatakan para nelayan melihat sebuah perahu kayu yang membawa Rohingya beberapa mil di lepas pantai kota Lhokseumawe, di pantai utara Sumatera. Kedatangan mereka di Indonesia adalah yang terbesar sejak 2015, kata Chris Lewa direktur Proyek Arakan sebuah kelompok nirlaba yang berfokus pada krisis Rohingya.

“Para pengungsi itu berlayar dari Bangladesh selatan pada akhir Maret atau awal April, menuju Malaysia tetapi ditolak oleh otoritas Malaysia dan Thailand karena pembatasan virus corona,” tambahnya, dikutip dari BBC News, Senin, (7/9/2020).

Penduduk setempat turut membantu dengan menyumbangkan makanan dan pakaian kepada para pengungsi.

“Kami prihatin dengan kondisi mereka, mereka juga butuh bantuan atas nama kemanusiaan, mereka manusia sama seperti kita,” jelas seorang penduduk bernama Aisyah, kepada kantor berita Reuters.

Sekitar 100 orang Rohingya, kebanyakan wanita dan anak-anak tiba di daerah yang sama pada bulan Juni dalam dua kelompok, setelah apa yang mereka katakan sebagai perjalanan laut selama empat bulan. Di perjalanan mereka mengaku dipukuli oleh pelaku perdagangan manusia dan dipaksa minum air seni mereka sendiri agar tetap hidup.***

 

Sumber: Merdeka

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: