Kamis , Desember 2 2021

Soal Provinsi Minangkabau, Fadli: Mana ada urusannya sampai PBB!

Fadli Zon
Anggota DPR RI Fraksi Gerindra, Fadli Zon.

Jakarta (Riaunews.com) – Menanggapi wacana perubahan nama Provinsi Sumatera Barat menjadi Minangkabau yang dilontarkan anggota Komisi I DPR dari Fraksi Gerindra Fadli Zon, Kementerian Dalam Negeri kepada media menyatakan penggantian nama daerah melewati proses yang berliku dan panjang.

Prinsip-prinsipnya mesti Toponimi harus dipenuhi. Toponimi, yaitu bidang keilmuan dalam linguistik yang mengulas soal asal-usul penamaan nama tempat, wilayah, atau suatu bagian lain dari permukaan bumi, termasuk yang bersifat alam yang buatan Toponimi berkaitan dengan bidang etnologi dan kebudayaan.

Baca: Fadli Zon usul Provinsi Sumatera Barat diganti nama menjadi Minangkabau

Selain itu juga menyangkut penggantian dokumen-dokumen, termasuk KTP, papan nama, kop surat, juga pendaftaran ulang ke ke United Nations Group of Experts on Geographical Names, Perserikatan Bangsa-Bangsa, serta biaya untuk mengurus semua prosesnya sangat mahal. Masih banyak lagi aspek yang mesti dilewati.

Sebagai usulan, apa yang dilontarkan oleh Fadli Zon sah-sah saja. Tapi Fadli Zon disarankan untuk mengkajinya secara ilmiah. Kemendagri menekankan untuk sekarang, pemerintah sedang konsentrasi perang melawan pandemi Covid-19.

Penjelasan Direktur Jenderal Administrasi Wilayah Kementerian Dalam Safrizal kepada media, terutama penggantian nama daerah mesti daftar ulang ke PBB, dinilai Fadli Zon tidak tepat. Menurut dia, prosesnya bisa tak perlu sejauh itu.

“Komentar Dirjen Kemendagri ini ngawur. Mana ada urusan sampai PBB? Cukup UU dan itu sebenarnya mudah saja,” kata dia, Jumat (25/9/2020).

Mengenai polemik yang muncul setelah wacana tersebut bergulir, Kamis (24/9/2020), Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menilai apa yang dilontarkan Fadli Zon tidak terlepas dari karakteristik daerah.

Baca: Fadli Zon usul Kota Bukttinggi dijadikan kota pahlawan

“Ya menurut saya segala macam usulan itu sah-sah saja. Apalagi ini kan soal juga karakteristik daerah ya bukan kita ngomong soal kedaerahan tapi kan ada ciri khas daerah dan ini bukan hal yang baru,” kata Dasco di DPR.

Dalam forum group discussion yang berlangsung beberapa waktu yang lalu, usulan mengganti nama Sumatera Barat menjadi Minangkabauh pernah mencuat.

“Namun kembali lagi nanti perubahan nama seperti ini juga harus memiliki kajian yang mendalam untuk kemanfaatan daerah itu khususnya. Lalu kemudian disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada saat ini,” kata Dasco.

Sementara itu, Gubernur Sumatera barat Irwan Prayitno dalam laporan Suara.com, kemarin, menyatakan tak ingin ikut berpolemik.

“Saya sebagai gubernur, apabila itu munculnya dari masyarakat, munculnya dari tokoh masyarakat, silakan itu dibahas,” ujar Irwan.

Baca: Gabung PSI agar bisa nyalon di Pilgub Sumbar berujung kegagalan, Faldo Maldini pamit di medsos

“Yang jelas saya tidak mau ikut polemik. Karena pemerintah ditugaskan untuk kerja, bukan untuk polemik. Tapi untuk pengamat dan segala macamnya, silakan. Kalau sepakat, saya dukung. Kalau tidak sepakat, saya dukung juga. Jadi saya tidak dalam kapasitas mengomentari, karena ini pasti berpolemik,” tukasnya.

Sebelumnya, melalui akun media sosial, Fadli Zon melontarkan usulannya. Usulan menguat setelah ramai isu nasionalisme Sumatera Barat akhir-akhir ini.

“Perdebatan itu menimbulkan polemik. Saya mengusulkan agar Provinsi Sumatera Barat diganti nama saja menjadi Provinsi Minangkabau,” usul Fadli.

“Usulan perubahan tersebut bukan didorong sentimen etnisitas yang dangkal. Kita tahu, nama Aceh, Papua, atau Bali, juga sejak lama telah diigunakan sebagai nama provinsi,” Fadli menambahkan.

Keistimewaan sejarah, budaya, dan identitas, kata dia, juga dimiliki masyarakat Minangkabau.

Pertama, dia menilai nama Minangkabau jauh lebih berbobot dibanding Sumatera Barat jika dilihat dari identitas, kebudayaan, dan sejarah masyarakat.

Kedua, Minangkabau dinilai punya posisi dan pengaruh politik istimewa terhadap sejarah pembentukan Republik Indonesia.

Baca: Anggota DPD RI asal Sumbar mengaku tidak nyaman atas ucapan Puan Maharani

Ketiga, dilihat dari kondisi demografi etnis Minangkabau yang berkisar 3 persen dari total jumlah penduduk, diikuti dengan kiprah masyarakatnya dalam sejarah RI.

Fadli menyebut latar belakang tokoh-tokoh penting di Indonesia banyak yang berasal dari Minangkabau, seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Tan Malaka.***

 

Sumber: Suara

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: