Al Fatih disebut tokoh asing tak wajib dibaca, Ustaz Tengku sindir pejabat negara gemari Sinchan dan Thanos

Ustaz Tengku Zulkarnain.

Jakarta (Riaunews.com) – Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Ustaz Tengku Zulkarnain mengkritik pernyataan Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat dari Fraksi PDI Perjuangan Ahmad Basarah.

Berawal dari kekecewaan Basarah terhadap Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Bangka Belitung Muhammad Soleh yang mewajibkan para murid SMA dan SMK membaca buku karya Ustaz Felix Siauw berjudul berjudul Muhammad Al Fatih 1453.

“Saya tak habis pikir, jika alasan wajibkan buku tokoh bangsa asing ini agar para siswa meneladani kepahlawanan dan kepemimpinan tokoh-tokoh di masa lalu, padahal masih banyak keteladanan dan ketokohan pahlawan nasional yang layak dibaca,” kata Basarah dalam pernyataan tertulis pada Sabtu (3/10/2020).

Dari pernyataan tersebut, Ustaz Tengku menilai Basarah kurang mengerti tentang sejarah dunia Islam.

“Tokoh PDIP, Ahmad Basarah mengatakan Muhammad al Fatih itu tokoh asing. Lebih belajar sejarah tokoh Indonesia. Wahai Basarah, Muhammad al Fatih itu tokoh dunia Islam. Nanti lama-lama kalian bilang Nabi Muhammad, Sayyidina Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali Ra. Hum juga tokoh asing. Ngeri,” kata Ustaz Tengku.

Dengan satire, Ustaz Tengku kemudian menyindir seseorang yang disebutnya “tokoh petinggi nasional” yang dinilai mengagumi figur asing. Sehabis itu, dia menyinggung sikap Basarah.

“Ada tokoh petinggi nasional yang dikenal penggemar Sinchan, bahkan pidato di depan tokoh negara dunia membicarakan Thanos, Ahmad Basarah kenapa diam saja saat itu…? Apakah menurut anda Sinchan dan Thanos itu tokoh Indonesia…?” katanya.

Sindiran Ustaz Tengku ini tampaknya ditujukan pada Presiden Joko Widodo yang menyinggung tokoh dalam salah satu film Marvel saat menyampaikan pidatonya pada World Economic Forum on ASEAN di National Convention Center, Hanoi, September 2018 silam.

Mengambil cerita film ‘Avengers: Infinity War’, menceritakan sosok bernama ‘Thanos’ yang mengancam akan memusnahkan setengah populasi bumi, Jokowi mengatakan ia dan sesama rekan ‘Avengers’ lainnya siap mencegah hal tersebut terjadi.

“Thanos ingin memusnahkan setengah populasi karena ia percaya sumber daya planet bumi terbatas,” ujar Jokowi waktu itu.

Sementara itu, Basarah mengkritik instruksi dari Muhammad Soleh kepada para siswa SMA dan SMK di Bangka Belitung untuk membaca buku karangan tokoh HTI berjudul Muhammad Al-Fatih 1453.

“Seperti kita tahu, penulis buku itu adalah tokoh organisasi yang dibubarkan oleh pemerintah karena asas organisasinya berlawanan dengan Pancasila,” kata Basarah.

Oleh Karena itu, dia menganggap wajar saja jika kontroversi muncul karena banyak orang dengan gampang menduga buku itu merupakan bagian dari propaganda terselubung pengusung ideologi transnasional.

Basarah menilai instruksi itu kontroversial karena penulis buku tersebut merupakan tokoh organisasi berideologi khilafah yang telah dibubarkan oleh Pemerintah sehingga instruksinya dianggap bertentangan dengan ideologi Pancasila.

Kepala dinas tersebut menginstruksikan para siswa membaca buku Felix Siauw tentang sejarah ketujuh Turki Utsmani, kemudian merangkumnya, lalu mengumpulkan tugas tersebut ke sekolah masing-masing.

Setelah itu, semua sekolah harus melaporkan hasil rangkuman siswa ke Kantor Cabang Dinas Pendidikan di Kepulauan Bangka Belitung untuk diteruskan ke Dinas Pendidikan. Instruksi tersebut saat ini telah dicabut.

Menurut Basarah, masih banyak tokoh pada masa lalu yang juga bisa diteladani para siswa, misalnya pahlawan nasional.

“Apa kurangnya ketokohan Pangeran Diponegoro, Teuku Umar, K.H. Hasyim Asy’ari, Bung Karno, Bung Tomo, atau ketokohan Jenderal Soedirman? Kisah-kisah keteledanan mereka lebih punya alasan untuk siswa dan siswi diwajibkan membacanya,” kata Basarah.

Tinggalkan Balasan