Usai Banjir Kritikan, PDIP Jelaskan Maksud Megawati

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

Jakarta (Riaunews.com) – Setelah banyak mendapatkan kritikan dari masyarakat, kini para politikus PDIP sibuk memberi klarifikasi atas pernyataan ketua umum mereka, Megawati Soekarnoputri.

Politikus PDIP Andreas Hugo Pareira menyebut  dengan mempertanyakan sumbangsih milenial tak berati presiden ke-5 RI itu membenci kalangan anak muda.

“Pernyataan ibu itu bukan berarti (Ibu Megawati) tidak suka terhadap milenial,” kata Andreas kepada CNNIndonesia.com melalui pesan singkat, Kamis (29/10/2020).

Andreas menyebut tak mungkin Megawati tidak menyukai generasi milenial lantaran orang nomor satu di partai banteng moncong putih itu memiliki cucu yang masuk dalam kategori milenial.

Politikus senior PDIP itu mengklaim pernyataan Megawati yang mempertanyakan sumbangsih milenial tersebut memilik makna filosofi.

Menurut Andrea, yang jelas Megawati hanya ingin kaum milenial kembali menumbuhkan semangat untuk membangun bangsa.

“Dalam arti menjaga ethos perjuangan, komitmen dan kerja keras yang harus tetap dipelihara, dan dalam kaitannya dengan Sumpah Pemuda, semangat itu harus tetap dijaga oleh generasi muda Indonesia,” ujarnya.

Andreas menyebut pernyataan Megawati terlontar lantaran putri Presiden Sukarno itu berharap generasi muda atau dikenal dengan istilah milenial ini tak hanya menuntut sesuatu kepada negara, tetapi juga bisa bekerja keras memajukan bangsa.

“Sebagai negarawan senior di Republik ini, Ibu Mega tentu sangat berharap agar generasi muda Indonesia untuk menghindari budaya instan, yang menuntut dan hanya mau menerima,” kata Andreas.

Sebelumnya, Megawati mempertanyakan peran dan sumbangsih generasi kaum milenial terhadap negara selain berunjuk rasa seperti yang dilakukan mahasiswa beberapa pekan terakhir dalam menolak Omnibus Law Cipta Kerja.

“Apa sumbangsih kalian untuk bangsa dan negara ini? Masa hanya demo saja? Nanti saya di-bully, saya enggak peduli,” kata Megawati dalam acara peresmian kantor DPP PDIP secara virtual, Rabu (28/10).

“Yang mau demo-demo, ngapain sih kamu demo-demo? Kalau enggak cocok pergi ke DPR, di sana ada yang namanya rapat dengar pendapat, itu untuk terbuka bagi aspirasi kalian,” ujarnya.

Para demonstran muda yang masuk kategori milenial (1981-2000, berdasarkan Biro Sensus AS) justru mempertanyakan balik sumbangsih Megawati untuk negara ini.

Abia Indou (29) mahasiswa Universitas Nasional menyayangkan pernyataan Megawati. Abia mengatakan unjuk rasa adalah sumbangsih kalangan muda untuk Indonesia.

“Jika menyebut gerakan kami gerakan yang tidak berasal dari hari nurani, itu bullshit [omong kosong] karena ini perjuangan murni untuk bangsa Indonesia,” kata Abia.***

Tinggalkan Balasan