Gendang politik itu; with us against us

Samuel F. Silaen
Samuel F. Silaen

Oleh: Samuel F. Silaen

Dalam politik itu hanya dua gendangnya, kalau bukan kawan ya jadi lawan, sekarang tergantung kekuatan politik yang dimiliki untuk di ‘adu’. Jika masih lemah jangan coba-coba untuk melakukan tarung, pasti keok. Usaha sih boleh-boleh saja.

Politik tanah air kekinian meski masih malu-malu, namun perlahan mulai tergambar dengan jelas petanya.

Bagaimana sikap politik kelompok tertentu, ingin mengganti rezim yang sekarang berkuasa. Ada kekuatan politik yang masih senyap dan mengendap-endap menunggu momen pertarungan politik tiba.

Baca: Samuel F Silaen sindir Fadli Zon: Layaknya oposisi tapi hidupnya disusui pemerintah

Itu tergantung keadaan alias situasional, jadi peta politik itu sangat dinamis dan cair.

Kendati sudah dan sedang dicoba cek ombak, untuk melihat perubahan yang selalu berubah oleh karena tarikan politik akan selalu terjadi menuju 2024, sebab kekuasaan itu silih berganti seiring dengan perkembangan politik yang dinamis. Pemain lama dianggap sebagai penikmat yang harus disingkirkan karena memiliki watak yang sudah masuk zona nyaman.

Pergantian kepemimpinan selalu diikuti oleh pemain baru yang sedang mengintip peluang ingin berkuasa.

Jika pemain lama tak sensitif terhadap keadaan pasti akan jadi korban, karena pergantian kekuasaan politik sebenarnya hal yang biasa saja. Jika hari ini dalam posisi nyaman tak mengamankan orang-orangnya sebagai kaki- kaki penopang (yuniornya), maka dipertarungan berikutnya akan tumbang.

Adagium politik itu kejam, Bung.

Jargon khas dunia politik, keliatan dipermukaan adem-adem namun di kedalaman penuh gejolak dan mencekam. Pertarungan antar kekuatan politik sedang ‘bersenggama’ dengan berbagai kekuatan politik yang ada. Tujuannya untuk meracik formula dalam rangka mengamankan dan ‘mencaplok’ kekuasaan.

Pertarungan kepentingan politik oligarki sangat kental dengan sistem bagi-bagi kue kekuasaan.

Bagi yang belum dapat bagian akan selalu mencari-cari cara untuk mendapatkannya. Istilah ala barat with us against us.

Bagi senior yang paham potensi yuniornya jika dilibatkan/diajak berkolaborasi dan bersinergi akan makin menguatkan daya tawar.

Tak perlu mengurai dengan detil tapi saya punya penerawangan tersendiri dalam melihat pergulatan dan peta pencak silat politik menuju hajatan 2024 begitu seru. Dalam beberapa tahun ke depan akan masuk dalam pengumpulan pundi-pundi, meski sudah mulai saat ini.

Baca: Samuel F. Silaen sindir Fahri Hamzah kini jadi anak manis Istana

Kini sebagian besar berupaya untuk mengembalikan dulu ongkos alias biaya-biaya politik yang dikeluarkan oleh masing- masing operator (yang biasa disebut cukong oleh elite politik; Mahfud MD). Ini tak lepas dari mahalnya ongkos politik yang dikeluarkan oleh masing-masing pihak dalam memenangkan kontestasi politik baik pileg dan pilpres.

Ini persoalan yang tak mudah diurai, seperti benang kusut dan juga seperti sebuah lingkaran setan, selama dunia fana ini ada demikian adanya. Kekuasaan itu nikmat dan memberikan daya tarik tersendiri bagi umat manusia. Ini tidak untuk dipersalahkan tapi bahan renungan para penguasa yang sedang berkuasa.

Kekuasaan direbut untuk apa dan siapa? Apa hanya untuk kepentingan diri sendiri, keluarga, kelompok saja! Inilah yang harus dirumuskan sebagai tujuan yang jelas bagaimana kekuasaan politik itu bermuara pada kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia tanpa diskriminatif. Tak perlu diksi politik yang minor.***

Penulis merupakan pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (LAKSAMANA), pemilik twitter @sipahitlidah

Tinggalkan Balasan