Kapolda Dicopot gegara Acara Habib Rizieq, PA 212 Pertanyakan Parade Banser di Banyumas

Ribuan anggota Banser mengadakan acara di Banyumas di tengah Pandemi Covid-19, namun tak jadi perhatian Polri. (Foto: Antara)

Jakarta (Riaunews.com) – Juru bicara Persaudaraan Alumni atau PA 212 Novel Bamukmin menyebut pencopotan Kapolda Metro Jaya berlebihan jika alasannya karena kerumunan di rumah Rizieq Shihab.

Sejak Rizieq Shihab pulang ke Indonesia, kegiatan pemimpin FPI itu menyebabkan kerumunan massa yang tidak mematuhi protokol kesehatan, yaitu banyak yang tak mengenakan masker dan tidak menjaga jarak.

“Saya pribadi kalau memang alasannya seperti itu tentu sangat berlebihan,” kata Novel Bamukmin melalui pesan singkat, Senin (16/11/2020).

Baca: Gegara Prokes, Kapolri copot Kapolda Metro Jaya dan Kapolda Jabar

Menurut Wakil Sekretaris Jenderal PA 212 itu, sejumlah organisasi lain di luar Front Pembela Islam (FPI) juga menggelar acara yang menyebabkan timbulnya kerumunan. Salah contohnya adalah Parade Merah Putih oleh ribuan anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kabupaten Banyumas pada Ahad (15/11).

“Kampanye anak dan mantu Jokowi juga sama,” kata dia

Sejak kedatangan Rizieq Shihab pada 10 November lalu, ribuan simpatisannya menyambut di Bandara Soekarno-Hatta. Pada saat itu PA 212 menyebut tidak membentuk panitia dan tidak mengundang sehingga massa tidak terkontrol.

Pada Jumat pekan lalu, Rizieq mendatangi acara Maulid Nabi Muhammad SAW di kawasan Tebet, Jakarta Selatan yang dihadiri oleh banyak massa. Dari Tebet, Rizieq Shihab pergi ke Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kedatangan Rizieq ke Megamendung juga menimbulkan kerumunan massa.

Pada Sabtu malam pekan lalu, FPI menggelar Maulid Nabi di kawasan Petamburan, Jakarta Pusat sekaligus prosesi akad nikah putri Rizieq, Syarifah Najwa Shihab.

Buntut dari munculnya kerumunan-kerumunan tersebut, Kapolri Jenderal Idham Azis mencopot Kapolda Metro Jaya Nana Sudjana dari jabatannya. Selain Nana, Inspektur Jenderal Rudy Sufahradi Novianto juga dicopot dari jabatannya sebagai Kapolda Jawa Barat.

Baca: Soal TR Kapolri, buruh nilai polisi jadi alat kekuasaan dan pembela pemodal

Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri Inspektur Jenderal Argo Yuwono mengatakan, Nana dan Heru dicopot lantaran tidak melaksanakan perintah terkait pengamanan protokol kesehatan.

Diduga kegiatan yang tidak mematuhi protokol kesehatan itu adalah acara yang diadakan Rizieq Shihab di Petamburan dan Megamendung. “Ada dua Kapolda yang tidak melaksanakan perintah dalam menegakkan protokol kesehatan, maka diberikan sanksi berupa pencopotan yaitu Kapolda Metro Jaya dan Kapolda Jawa Barat,” ujar Argo di kantornya, Jakarta Selatan, pada Senin (16/11).

Sementara ribuan anggota Ansor dan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Satuan Koordinasi Cabang (Satkorcab) Kabupaten Banyumas, membentangkan Bendera Merah Putih sepanjang 1 kilometer di sepanjang jalan-jalan utama Kota Purwokerto, sejak siang hingga petang, Ahad (15/11).

Kegiatan dalam bentuk parade Merah-Putih ini dalam rangka memperingati Hari Pahlawan, sekaligus untuk menegaskan semangat untuk ‘jagani’ (melindungi) ulama dan NKRI.

Kegiatan diawali dengan doa bersama dan orasi di Alun-Alun Purwokerto. Peserta yang terlibat mengawal bentangan Bendera Merah-Putih sebanyak 7.000 anggota Ansor-Banser.

Anehnya, tak ada sorotan khusus dari pihak kepolisian atas kegiatan yang juga menyedot banyak massa ini.***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: