Sabtu , Juli 31 2021

Maradona, Napoli, dan Italia yang Terbelah di Piala Dunia 1990

Diego Maradona selalu jadi sosok yang dihormati di Napoli, bahkan hingga saat ini. (AP/Alessandro Garofalo)

Riaunews.com — Italia punya segalanya untuk bisa jadi juara Piala Dunia 1990. Satu hal yang kemudian tak menguntungkan mereka, jadwal laga semifinal berlangsung di San Paolo, markas Napoli dan Diego Maradona.

Dengan menyandang status tuan rumah, Italia melangkah ke babak semifinal dengan catatan yang menakutkan dan membuat gentar lawan. Mereka memenangkan lima pertandingan tanpa pernah kebobolan.

Lini pertahanan yang diisi Walter Zenga sebagai kiper dan dibentengi dua bek tangguh Franco Baresi dan Giuseppe Bergomi. Komposisi itu membuat Italia tak bisa dilukai tim-tim lawan.

Di lini serang, mereka punya Salvatore Schillaci yang menjalani kisah penuh kejutan dan berkembang menjadi mesin gol Italia menggantikan bomber yang lebih diandalkan yaitu Gianluca Vialli.

Belum lagi nama-nama pemain bintang macam Paolo Maldini, Roberto Baggio, Roberto Donadoni, hingga Giuseppe Giannini.

Suasana aneh bagi Italia sudah terasa ketika konferensi pers berlangsung. Maradona mulai membuat jurang yang seolah-olah menggarisbawahi bahwa Napoli tidak jadi bagian Italia.

“Sepertinya warga Italia bisa dengan nyaman mengingat Naples saat ini. Bagaimana mungkin, dalam 364 hari lain selama setahun, Naples dan bagian selatan seolah terhapuskan atau dilupakan.”

“Kini mereka mengingat suporter [Napoli] adalah orang Italia karena mereka butuh suporter untuk mendukung tim nasional,” ucap Maradona dikutip dari Chicago Tribune.

Upaya Maradona untuk mencuri Napoli dari kekuasaan Italia berhasil. Hal itu ditulis Maradona dalam bukunya, El Diego.

“Ketika saya masuk lapangan, pada 3 Juli, satu hal yang saya dengar adalah tepuk tangan. Saya membaca seluruh spanduk: ‘Diego di hati kami, Italia dalam lagu kami’, ‘Maradona, Naples mencintaimu namun Italia adalah rumah kami’.”

“Lagu kebangsaan Argentina, untuk kali pertama sepanjang gelaran Piala Dunia 1990, disambut tepuk tangan sejak awal hingga akhir. Bagi saya, itu sudah merupakan kemenangan. Saya berpikir: inilah pendukung saya,” tutur Maradona, dikutip dari ESPN.

Keanehan atmosfer San Paolo dirasakan oleh kiper Italia, Walter Zenga. Timnas Italia yang sebelumnya selalu bermain penuh dukungan, tiba-tiba seolah tak jadi tuan rumah sepenuhnya di laga semifinal.

“Hal itu mempengaruhi kami. Sulit untuk menjelaskan dalam kata-kata, namun kami datang dari Roma [Stadion Olimpico]. Kami memainkan lima laga, lima kemenangan dan tidak kebobolan.”

“Seluruh pendukung di Stadion [Olimpico] tidak peduli mereka penggemar Roma, Lazio, Inter, atau Juventus. Mereka memberikan dukungan total selama 90 menit,” kata Zenga, dikutip dari The National.

Zenga mengakui bahwa komentar Maradona memberikan dampak besar.

“Kemudian kami tiba di Napoli, Maradona mengatakan beberapa hal, dan atmosfer berubah. Kami tidak bisa mengatakan hal itu sebagai alasan Argentina bisa mengalahkan kami.”

“Namun memang ada suasana yang berubah. Hal itu mengejutkan kami meski itu bukanlah sebab kami kalah,” ujar mantan kiper Inter Milan ini.

Mundur beberapa tahun ke belakang, Napoli melakukan kejutan besar dengan mendatangkan Maradona di 1984 dengan status sebagai pemain termahal di dunia. Kehadiran Maradona seolah turunnya mukjizat yang bakal membuat Napoli bisa menghancurkan dominasi Liga Italia yang dikuasai oleh tim-tim dari utara.

Dua gelar Scudetto plus Piala UEFA jelas merupakan pembuktian bahwa Maradona bisa memimpin perlawanan Napoli terhadap dominasi tim-tim mapan. Kemenangan Napoli di Liga Italia jadi kegembiraan terbesar bagi warga Naples yang sering dianggap terpinggirkan.

Italia lebih dulu gembira karena Schillaci berhasil mencetak gol cepat di menit ke-17. Schillaci berhasil memanfaatkan bola liar yang ada di muka gawang.

“Hal terpenting dalam pikiran kami tidak kebobolan, kami tidak kebobolan, kami tidak kebobolan. Kami tahu sebelumnya bahwa bila kami tidak kebobolan, kami akan ke final, namun di saat yang sama mulai berpikir bahwa bila kami kebobolan kami tidak mampu lolos ke sana.”

“Bila saya katakan padamu untuk berhenti memikirkan gajah berwarna pink, lalu apa yang akan kamu pikirkan? Malah justru gajah berwarna pink,” ujar Zenga memberikan pengandaian.

Ketangguhan Zenga akhirnya roboh setelah 517 menit tak kebobolan di Piala Dunia 1990. Claudio Cannigia sukses menyundul bola sambil membelakangi gawang.

Setelah bertarung sengit hingga babak perpanjangan waktu, tak ada gol tambahan hingga akhirnya laga harus ditentukan lewat adu penalti.

Dalam drama adu penalti, tiga eksekutor awal Italia, Baresi, Baggio, dan Luigi De Agostini sukses melakukan tugasnya. Begitu halnya dengan tiga eksekutor Argentina, Jose Serrizuela, Jorge Burruchaga, dan Julio Olarticoechea.

Petaka bagi Italia datang di giliran penendang keempat. Donadoni tidak mampu melaksanakan tugasnya karena tendangannya bisa diblok Sergio Goycochea.

Maradona yang jadi penendang keempat dengan dingin mengecoh dan menaklukkan Zenga. Kekalahan Italia akhirnya dipastikan saat tendangan Aldo Serena kembali dihentikan Goycochea.

Pemain-pemain Italia tertunduk lesu sedangkan Maradona gembira di San Paolo, tanah Italia yang sudah jadi rumahnya selama bertahun-tahun.***

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: