Media Amerika Salahkan Perancis atas Serangan Teror

Cuitan Associated Press
Cuitan Associated Press menanggapi teror yang terjadi di Perancis akibat ulah negara itu sendiri.

New York (Riaunews.com) – Associated Press (AP), media yang berbasis di Amerika Serikat (AS), menyalahkan Perancis atas gelombang serangan teror di negara tersebut yang mencakup aksi pemenggalan. Sikap media itu menuai kritikan dan dianggap membela terorisme yang mencatut nama Islam.

Melalui Twitter, AP menyampaikan pesan bahwa rentetan serangan teror di negara Presiden Emmanuel Macron itu karena salahnya sendiri.

Baca: Al Qaeda Ancam Bunuh Emmanuel Macron

“Mengapa Perancis menghasut kemarahan di dunia Muslim? Masa kolonialnya yang brutal, kebijakan sekuler yang kukuh, dan presiden yang berbicara keras yang dipandang tidak peka terhadap keyakinan Muslim semuanya memainkan peran,” tulis AP di Twitter pada Ahad (1/11/2020) yang kemudian dihapus setelah banjir kritikan.

Namun, pesan media AS itu dianggap bisa membahayakan nyawa rakyat Perancis.

“Ini tidak hanya memalukan tapi juga berbahaya. Associated Press menghasut kebencian terhadap Perancis dan rakyatnya,” tulis jurnalis Agnes Poirier.

Tak hanya dituduh sebagai “pembela terorisme”, pesan AP juga dianggap “membenarkan” pembunuhan terhadap orang yang tidak bersalah. Para responden juga membagikan foto dan detail tentang kehidupan orang-orang yang dibunuh oleh teroris di Perancis.

Tak hanya dengan bombardir kritik, media yang bermarkas di New York itu menghapus pesannya pada hari Minggu. Sebelum itu dihapus, posting inflamasi tersebut sudah mengumpulkan lebih dari 10.000 tanggapan langsung.

AP kemudian menerbitkan versi yang lebih sederhana dari posting tersebut dan mengeluarkan penjelasan untuk penggunaan kata “menghasut”. Media itu juga meminta maaf. Namun, dalam kata “menghasut” tetap ada dalam artikel di situs webnya.

Baca: Massa Desak Pemerintah Usir Dubes Perancis

“Banyak negara memperjuangkan kebebasan berekspresi dan mengizinkan publikasi yang mengejek nabi Islam. Mengapa reaksi terhadap Perancis sangat ganas? Masa lalu kolonialnya, kebijakan sekuler yang kukuh, dan presiden yang berbicara keras semuanya memainkan peran,” bunyi pesan baru AP.

“Ini menggantikan tweet tentang Perancis dan dunia Muslim yang menanyakan mengapa Perancis ‘memicu’ kemarahan. Kata itu tidak dimaksudkan untuk menyampaikan bahwa Perancis memicu kemarahan terhadapnya,” imbuh pesan lanjutan media tersebut.

Posting pengganti tidak banyak meredakan kemarahan di media sosial, karena pengguna Twitter terus mem-posting keberatan mereka terhadap penanganan masalah oleh AP.

Baca: MUI Ikut Keluarkan Himbauan Boikot Produk Perancis

Kehebohan itu terjadi hanya beberapa hari setelah seorang pria Tunisia bersenjata pisau membunuh tiga orang di sebuah gereja di Nice, dengan salah satu korbannya dipenggal.

Insiden itu terjadi kurang dari dua minggu setelah guru sejarah, Samuel Paty, 45, dipenggal di luar sekolahnya, 20 mil barat laut Paris, setelah memperlihatkan kartun Nabi Muhammad kepada siswa selama pelajaran tentang kebebasan berbicara.***

Tinggalkan Balasan