Yaman Suryaman, Penjaga Markas Liverpool Asal Garut

Yaman Suryaman
Yaman Suryaman terus menjaga mimpi untuk bisa menonton Liverpool di Anfield selama puluhan tahun. (Dok. Pribadi via CNN Indonesia)

Liverpool (Riaunews.com) – Menonton langsung Liverpool bermain di Stadion Anfield adalah impian yang ingin diwujudkan hampir semua Liverpudlian –julukan untuk penggemar fanatik Liverpool FC.

Bagi yang berkantong tebal tentu tak masalah untuk membeli tiket yang harganya jutaan rupiah untuk satu pertandingan. Namun bagi yang pas-pasan tentu akan berpikir seribu kali untuk mengeluarkan dana yang demikian besar dari kocek pribadi.

Namun, seperti kata pepatah “Di mana ada kemauan di situ ada jalan”, tampaknya berlaku bagi Yaman Suryaman.

Baca: Liverpool Sudahi Perlawanan West Ham 2-1

Pecinta Liverpool yang juga merupakan bapak anak tiga asal Garut ini bisa menyaksikan dari dekat aksi Mohamed Salah cs dari dekat, dan dibayar pula!

Dikutip dari laman CNN Indonesia, alasan keberangkatan utama Yaman Suryaman ke Liverpool sebenarnya adalah untuk belajar. Melanjutkan gelar Strata-3 jurusan manjemen kebencanaan lewat beasiswa yang diterimanya dari LPDP tahun 2015 selama empat tahun.

Sebelum berangkat, ia sudah diterima di Essex University, London. Namun ia merasa tidak sreg, lantaran London agak jauh dari Liverpool, kota tempat klub sepak bola yang dicintainya bermarkas.

Yaman kemudian mencari perguruan tinggi lain yang sesuai targetnya, berlokasi di Liverpool. Selain niat studi, ia juga berharap bisa sering-sering menyaksikan laga Liverpool jika tinggal di kota tersebut.

“Target saya sekolah di Liverpool. Impian saya bisa ke kota klub yang saya cintai. Lalu ada calon supervisor saya di University of Liverpool minta riset proposal saya.”

“Kan ada wawancara online, dia tanya kenapa mau kuliah di sana, saya jawab soalnya saya die hard fans Liverpool. Lalu saya diterima di sana,” ucap Yaman mengawali cerita saat berbincang bersama CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon.

Baca: Atasi Sheffield United 2-1, Liverpool Sukses Bayangi Everton

Singkat cerita, Yaman yang memboyong istri dan ketiga anaknya tiba di Liverpool. Sejak itu, masa-masa adaptasi yang sulit mulai dijalaninya, termasuk merasakan shock culture atau kaget budaya mempelajari cara hidup masyarakat Liverpool dan memahami aksen bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari selama enam bulan pertama.

Fans Liverpool penuhi Stadion Anfield
Sebelum pandemi Covid-19, fans Liverpool selalu memenuhi Stadion Anfield ketika The Reds bertanding.

 

“Jangankan mau nonton bola, tugas kuliah justru rasanya seperti neraka. Tahun pertama itu saya tidak bisa ngapa-ngapain karena sibuk dengan tugas kuliah, jadi fokus belajar,” sebutnya

Seiring waktu berjalan, Yaman mulai mencari tahu bagaimana masyarakat lokal mendapatkan tiket nonton langsung Liverpool di Anfield. Ternyata tak semudah itu bisa menyaksikan aksi Mohammed Salah dkk langsung di lapangan hijau, jika tidak punya banyak uang.

Penduduk lokal, harus memiliki ‘season ticket holder’ yang harus diperjuangkan secara berebutan melalui online jauh-jauh hari sebelum musim baru dimulai. Untuk wisatawan, atau pelajar asing seperti Yaman yang uang sakunya terbatas, mengeluarkan uang sekitar Rp10 juta untuk membeli tiket VIP per pertandingan dirasa sangat sulit.

“Sebenarnya ada calo jual tiket juga di sana, tapi gambling. Iya kalau tiketnya benar. Kalau ternyata tiket palsu bagaimana?”

Yamah lalu mengakalinya adalah dengan menyaksikan laga Liverpool di turnamen lokal melawan tim-tim kecil yang tidak terkenal dengan harga tiket yang jauh lebih murah, sekitar Rp300 ribu-Rp400 ribu. Itu pun dengan konsekuensi pemain-pemain yang tampil bukan pemain bintang The Reds.

Setelah dua tahun menjalani kehidupan perkuliahan di Liverpool, Yaman lebih banyak punya waktu kosong. Ia mulai memikirkan bagaimana caranya bisa nonton Liverpool langsung di Anfield.

Baca: Liga Champions: Liverpool Petik Kemenangan di Markas Ajax

Alhasil, ia bertemu warga lokal di Liverpool bernama Adam. Nasib bagus, Adam ternyata penggemar Liverpool dan pernah tinggal di Indonesia selama enam tahun sehingga bisa berbicara dengan bahasa Indonesia.

“Saya bilang ke Adam saya mau nonton bagaimana caranya? Dia bilang, ‘Saya saja susah mau nonton, apalagi kamu.’ Cuma dia bilang ke saya coba apply jadi steward untuk disability melalui website.”

Tapi, lanjut Yaman, untuk menjadi steward disability di Anfield pun harus punya keahlian khusus, termasuk kemampuan pengamanan orang dengan disabilitas. Ia pun mencoba daftar untuk bisa meneliti penanganan bencana jika terjadi di Anfield.

Kebetulan, Adam adalah anggota SAR (Search and Rescue) yang memperkenalkannya ke Ketua SAR lokal di Liverpool yang akhirnya memberikan surat rekomendasi supaya bisa bekerja di Anfield. Dua minggu setelah Yaman mendaftar, ia mendapat kabar bahwa secara administratif sudah lolos dan harus menjalani tahapan seleksi selanjutnya.

Di tahapan wawancara, ia mendapatkan pertanyaan soal pengetahuan umum tentang tugas steward dalam menangani orang disabilitas. Selain itu juga pertanyaan tentang pelayanan terhadap penonton.

“Saya tiga kali diwawancara. Pertama tentang safety, kedua teknis manajemen sepak bola saat pertandingan dan ketiga pemahaman kognitif ketika bekerja. Seminggu setelah wawancara, saya langsung dapat jawaban dan diundang ke Anfield untuk ikut training beberapa hari.”

“Waktu training, saya diajak keliling Anfield. Dikenalin mulai dari staf di front office sampai ke dapur. Mereka welcome sekali dan sejak itu saya sampai berpikir bahwa Liverpool adalah rumah kedua saya,” ungkap Yaman.

Pengalaman pertama bekerja di Anfield buat Yaman sangat luar biasa. Sebagai suporter Liverpool, bisa bekerja di lapangan yang jadi markas tim favorit itu dianggapnya sama seperti jadi penonton.

“Tidak mengerikan seperti ketika seleksi. Jadi tugas saya memastikan mereka nonton dengan aman dan nyaman. Saya berdiri di belakang mereka. Kalau ada rusuh, tugas saya memastikan bawa mereka keluar lapangan dan berada di tempat aman,” jelasnya.

Baca: Khabib Nurmagomedov Bernazar Akan Tonton Liverpool, MU dan ManCity jika Kalahkan Gaethje

Yaman digaji 10 poundsterling atau sekitar Rp200 ribu per jam saat pertandingan dan bebas pajak karena statusnya sebagai pelajar. Ia bisa menghabiskan waktu tujuh jam dalam satu pertandingan dengan rata-rata bayaran yang diterimanya per laga Rp1,5 juta.

Dua musim Yaman bekerja di Anfield sebagai steward atau penjaga penyandang disabilitas. Ia juga sempat berjaga di tribune Kenny Dalglish yang posisinya di atas saat memasuki pertengahan musim keduanya di Anfield.

Banyak pengalaman dan kenangan indah yang tidak bakal dilupakan bapak 45 tahun itu, termasuk ketika ia medapatkan penghargaan sebagai steward terbaik se Britania Raya pada 2018 lalu atas kinerja dan pelayanan terbaiknya.

“Pengalaman paling berkesan buat saya waktu big match saat menang lawan Barcelona 4-0. Sebenarnya saat kerja kan tidak boleh bawa handphone, tapi saya berani saja lah, saya videokan itu pas lagi kerja.”

“Itu momennya Liverpool ketinggalan 0-3 di laga away. Kalau pun menang rasanya sulit bisa menang banyak. Tapi teriakan suporter itu di Anfield enggak berhenti dan akhirnya menang. Itu gemuruh suporter semua nyanyi ‘You’ll Never Walked Alone’. Mereka tidak mau keluar stadion. Kita sebagai steward susah untuk giring mereka keluar. Biasanya kalau pertandingan jam 8, jam 11 saya sudah pulang, itu saya pulang jam 1 pagi,” ujar Yaman.

Tak hanya itu, Yaman juga bercerita pernah menggandeng anak Alisson Becker, kiper Liverpool untuk mengamankannya ketika sedang berlarian di lorong ruang VIP Anfield. Ia juga pernah menjadi pagar betis antara pemain dan fans saat meet and greet di akhir musim.

“Saya sampai merinding, nikmat mana lagi yang saya dustakan. Saya berpikir, saya tidak percaya sama diri sendiri bisa ada di stadion yang diidolakan fan Liverpool se-dunia. Setelah dua musim saya mengundurkan diri, berat karena teman-teman saya di sana minta saya tetap bertahan di sana,” tutupnya.***

Tinggalkan Balasan