Berita Gorengan

Oleh Helfizon Assyafei

Ruang publik kita kini seperti kanal yang informasinya seperti air yang meluap. Aneka berita mulai dari yang penting hingga bagaimana mencegah jerawat bandel di ujung hidung juga ada. Ini membuat kita harus jeli memilih mana yang berita mana yang berita-beritaan. Sebab ada berita yang dimunculkan seperti gorengan. Tidak memberikan info yang kita perlukan tapi menyampaikan info yang mereka (narasumber) perlukan. Sebenarnya yang perlu mereka bukan pembaca. Contohnya begini;

Ada terbaca oleh saya berita berjudul Yusril Ihza Mahendra (YIM) tolak bantu masalah hukum Habib Riziq di pengadilan. Saya baca konon katanya ada ulama yang minta bantuan YIM. Saya baca lagi sampai habis siapa nama ulama yang katanya berasal dari PA 212 itu tidak ada sama sekali. Kemudian ada statemen YIM yang bukan disampaikan sendiri tapi melalui Sekjen Partainya YIM.

Intinya berita itu tidak dari sumber yang pertama. Baik pencetusnya (ulama yang disebutkan tanpa nama itu) maupun statemen YIM sendiri yang keluar dari si Sekjen. Kata Sekjen diberita itu YIM berkata menolak membantu masalah hukum sang Habib karena ia sudah dianggap ‘murtad’  dan ‘kafir’ versi umat karena sudah mendukung Jokowi.

Jujur saya terkekeh membaca berita ini. Saya menyebutnya berita gorengan. Pertama, narasumber yang minta bantuan tidak jelas (bisa jadi fiktif). Kedua, narasumber utama kok malu-malu harus memakai mulut Sekjennya  untuk menyampaikan jawaban dari permintaan itu kalau iya emang benar ada. Ketiga, berita itu akhirnya dibantah oleh Munarman Sekjen FPI bahwa tidak pernah ada permintaan bantuan hukum Habib pada siapapun.

Si penggoreng berita sebenarnya ingin memperlihatkan ke publik wabil khusus pada kekuasaan meski sang Habib minta bantuan ia tetap setia pada penguasa. Ia seakan ‘mengumumkan’ posisinya masih penting kok meski selama ini kekuasaan yang dibelanya kurang melirik dirinya. Penggorengnya siapa? Bisa wartawannya (mungkin ada orderan). Bisa juga narasumbernya sendiri (demi kepentingannya).

Saat ini berita-berita sejenis dan bahkan berita framing kelas sampah memenuhi kanal-kanal informasi publik. Seperti aliran sungai meluap membawa bangkai-bangkai busuk ikut terbawa arus. Sebagai pembaca kita juga harus jeli melihat sebuah berita memenuhi syarat atau tidak. Ibarat makanan agar kita tak salah konsumsi yang bikin perut kita jadi sakit bila salah makan.

Saya yakin pembaca sudah cerdas. Jauhi gorengan yang digoreng dengan minyak bekas yang hitam karena itu hanya menambah kotoran (cik) gigi dan meningkatkan kolesterol aja.

Selamat pagi gas eh gaes.

*Penulis praktisi jurnalistik

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: