Dunia Tanpa Jurnalisme

Oleh Helfizon Assyafei

Di tengah dahsyatnya para ‘pendengung’ yang dibayar untuk pencitraan, prouduk investigasi jurnalistik seperti yang dilakukan Tempo membuat saya yakin bahwa kebenaran selalu ada pendengungnya sendiri. Kita perlu informasi yang benar agar kita tidak tersesat dalam melihat realita. Itulah fungsi sejatinya jurnalistik. Meski tak dinafikan kadang pelaku jurnalistikpun bisa ditunggangi menjadikannya ‘pendengung’ kepentingan juga. Sama dengan buzzer/influencer.

Tapi dunia tanpa jurnalisme maka akan dipenuhi para pendengung. Seperti lalat yang perlu sumber energi dari bangkai misalnya maka pendengung pun perlu energi. Energi itu bisa datang dari bangkai (kebusukan) atau dari madu (kebaikan). Jadi dunia tanpa jurnalisme adalah sebuah dunia transaksi fulus untuk menutupi kebusukan atau untuk mempromosikan kebaikan.

Beberapa investigasi tempo belakangan ini membuat banyak orang kaget. Setidaknya keberanian menyampaikan fakta-fakta lapangan membuat orang menyadari bahwa jurnalistik murni itu masih ada. Seperti investigasi “Korupsi Bansos Kubu Banteng”. Atau keterangan saksi mata di KM 50 jalan tol tempat tragedi penembakan terhadap enam laskar FPI itu terjadi.

Di kelas jurnalistik dulu saya belajar sembilan elemen jurnalisme karya Bill Kovach dan Tom Rossientiel. Sebuah pegangan dasar bagi seorang jurnalis dalam meliput dan menyiarkan sebuah berita. Wartawan harus memberitakan kebenaran. Esensi jurnalisme adalah verifikasi (data dan fakta). Wartawan harus independen dari sumber-sumbernya. Dengarkan hati nurani. Loyalitas wartawan kepada publik bukan kepada pemasang iklan, patron politik, perusahaan dan sejenisnya.

Meski kemudian ketika di lapangan saya menemukan tidak mudah menerapkan jurnalisme ideal yang diajarkan di kelas itu. Terlalu banyak kepentingan yang bermain. Bisa dengan cara halus maupun kasar. Tapi dalam hati terdalam saya percaya ucapan Bill Kovach, bahwa jurnalisme sangat berguna untuk kebaikan masyarakat.

“Makin bermutu jurnalisme dalam masyarakat, maka makin bermutu pula informasi yang didapatkan masyarakat. Terusannya makin bermutu pula keputusan yang akan dibuat,” ujar Bill  Kovach. Belakangan setelah jadi praktisi jurnalistik saya hampir pesimis jurnalisme bermutu itu bisa bertahan. Sampai akhirnya saya kaget membaca hasil investigasi Tempo itu.

Bagi saya itu seperti sebuah pelajaran bahwa jurnalisme murni itu belum mati. Jurnalisme murni tidak memilih berdamai dengan ketakutan lalu berdiam diri melihat kecurangan, seperti yang banyak dilakukan orang yang mencari aman. Dunia tanpa jurnalistik adalah dunia yang mungkin  dipenuh kebohongan informasi. Tapi untung masih ada jurnalisme yang tetap setia pada elemen dasarnya; kejujuran. Dan optimisme itu muncul lagi. Terimakasih Tempo.***

 

Penulis merupakan Praktisi Jurnalistik

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: