Minggu , Mei 9 2021

Hadiri Persidangan Sebagai Saksi, Mursini Bantah Terima Uang Rp1,54 Miliar

Bupati Kuantan Singingi, Mursini.
Bupati Kuantan Singingi, Mursini.

Pekanbaru (Riaunews.com) – Bupati Kuantan Singingi (Kuansing) Mursini, menjadi saksi dalam persidangan kasus dugaan korupsi anggaran 6 kegiatan di Sekretariat Daerah Kabupaten setempat senilai Rp10,4 miliar.

Dalam persidangan yang berlangsung di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Pekanbaru, Kamis (3/12/2020), tersebut Calon Bupati Kuansing petahanan ini banyak mengaku tidak tahu dan lupa.

Mursini hadir langsung ke persidangan dengan majelis hakim yang dipimpin Afrizal. Sidang digelar secara virtual, di mana Jaksa Penuntut Umum (JPU), Roni Syahputra hadir di persidangan, sedangkan para terdakwa berada di Lapas Kuansing.

Dilansir Cakaplah, kasus ini menjerat Plt Sekda Kuansing Muharlius, mantan Kabag Umum M Saleh selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Verdy Ananta selaku Bendahara Pengeluaran Rutin Setdakab Kuansing, Hetty Herlina selaku Pejabat Pelaksanaan Teknis Kegiatan (PPTK), dan Yuhendrizal selaku Kasubbag Tata Usaha Setdakab Kuansing dan PPTK kegiatan rutin makanan.

Mursini dalam kesaksiannya mengatakan mengetahui adanya 6 proyek kegiatan di Setdakab Kuansing. Namun ia membantah ikut terlibat dalam penyelewengan anggaran pada kegiatan tersebut.

Mursini juga membantah meminta uang sebesar Rp1.54 miliar kepada para terdakwa.

“Apakah Anda ada menerima Rp150 juta untuk keluarga saudara yang sakit,” tanya JPU.

Mursini langsung menjawab tidak pernah.

Ia juga menyatakan tidak pernah memerintahkan terdakwa Muharlius dan M Saleh untuk memberikan uang sebanyak Rp500 juta dan Rp150 juta yang akan dibawa terdakwa Verdy dalam bentuk dollar ke Batam untuk diserahkan ke seseorang.

“Tidak pernah,” kata Mursini lagi.

Tidak hanya itu, Mursini juga tidak mengakui memerintahkan terdakwa Muharlius menyerahkan uang Rp90 juta kepada Ketua DPRD Kuansing tahun 2017, mantan anggota DPRD Kuansing, Musliadi sebesar Rp500 juta dan Rp150 juta untuk mantan anggota DPRD Kuantan Singingi, Rosi Atali.

“Tidak ada saya perintahkan. Tidak pernah,” tutur Mrusini lagi.

Mendengar Mursini terus mengatakan tidak pernah, Hakim Ketua Faisal mengigatkan agar memberikan keterangan yang benar agar perkara jadi terang. Apalagi jawaban Calon Bupati Kuansing petahana itu berbeda dari keterangan saksi sebelumnya.

“Dari 7 orang (saksi yang sudah bersaksi) mengatakan A sementara Anda mengatakan B. Jadi korelasi garis merah itu Anda bantah,” kata Hakim Ketua.

Mursini juga diingatkan untuk meluangkan waktunya menjenguk para terdakwa yang juga bawahannya di penjara.

“Itu staf Anda yang sudah diperiksa dan menjadi terdakwa. Kalau saudara tetap berbohong, gimana masa depan mereka,” ingat Faisal.

Majelis hakim menegaskan akan menilai keterangan yang diberikan Mursini. Keterangan Mursini akan dicocokkan dengan keterangan para saksi lain dan juga terdakwa.

“Banyak saksi lainnya yang didukung dengan alat bukti lainnya,” tegas hakim.

Dugaan korupsi berawal dari enam kegiatan di Sekretariat Pemkab Kuansing tahun 2017. Saat itu, Muharlius menjadi Plt Sekda sekaligus pengguna anggaran bernilai Rp13 miliar lebih.

Kegiatan pertama adalah dialog bersama tokoh masyarakat ataupun organisasi masyarakat, kedua penerimaan kunjungan pejabat negara, dan ketiga biaya rapat koordinasi musyawarah pimpinan daerah.

Kegiatan keempat adalah rapat koordinasi pejabat daerah, kelima kegiatan kunjungan kerja kepala daerah dan wakil serta keenam penyediaan makanan dan minuman.

Dalam pelaksanaannya, penggunaan anggaran semua kegiatan tidak sesuai peruntukkan. Hal ini berdasarkan temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), di mana ada Rp10,4 miliar diselewengkan dan mengalir ke Mursini, anggota dewan, Wakil Bupati Halim dan Ketua DPRD.***

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: