Sabtu , Juni 19 2021

Kaum Ibu Kian Terbelenggu

Novita
Oleh Novita

Di era milenial ini wanita bekerja sudah menjadi hal yang biasa. Wanita yang bekerja dipandang lebih berkelas dibandingkan dengan wanita yang hanya mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Namun faktanya wanita karir atau yang bekerja dominan mengalami tekanan di tempat ia bekerja hingga membuat ia tidak produktif menjalankan perannya sebagai ibu.

Sebut saja namanya Elitha Tri Noviantry berusia 25 tahun, yang bekerja sebagai buruh di PT Aice , ia melapor kepada HRD bahwa ia mempunyai riwayat endomestriosis yang membuatnya tidak bisa melakukan pekerjaan kasar atau mengangkat beban berat.

Harapannya dengan mengajukan permohonan devisi kerja dapat membantu meringankan beban kerjanya, namun ternyata permohonannya tak digubris oleh atasan. Alhasil karena takut dipecat akhirnya ia kerjakan juga pekerjaan yang kasar dan membuat ia pendarahan dan berujung di tempat tidur pesakitan.

Sarinah, jubir Federasi Serikat Buruh Demokratik Kerakyatan/ F- sedar) menyebutkan, pada tahun 2019 hingga saat ini sudah terdapat 15 kasus keguguran dan 6 kasus bayi yang dilahirkan dalam kondisi tak bernyawa yang dialami oleh buruh perempuan Aice. Hal ini tentu sangat miris.

Belum lagi pekerja perempuan semakin dipersulit untuk mendapatkan cuti haid yang sebenarnya sudah dilindungi oleh UU ketenagakerjaan no 13 tahun 2013. Dan UU sapu jagad yang belum lama ini disahkan tentu semakin membuat buruh perempuan kian terjepit.

Jika ditelisik, ini tidak lepas dari penerapan sistem demokrasi kapitalisme yang hanya menguntungkan pihak pemilik modal saja. Yang membuat kaum wanita khususnya seorang ibu apalagi yang ikut bekerja untuk membantu mencukupi kebutuhan rumah tangganya tidak bisa menjalankan perannya sebagai ummun warobatul bait yaitu ibu dan pengatur rumah tangga sekaligus pencetak generasi penerus tebaik.

Peran ibu yang dijalankan wanita tentu sangat penting. Hal ini harusnya dilindungi dan diperhatikan oleh negara. Karena dari seorang wanitalah akan lahir generasi penerus, yang akan menerima tongkat estafet pengisi peradaban.

Inilah bobroknya sistem yang ada sekarang yaitu sistem demokrasi kapitalisme, sebuah sistem buatan manusia. Dimana peraturan yang dibuatpun adalah peraturan dari manusia yang lemah. Peraturan yang selalu berubah-ubah.

Sangat jauh berbeda dengan sistem Islam yaitu sistem khilafah yang datang dari Allah SWT. Peraturan yang datang dari Allah SWT tentu tidak akan pernah berubah di manapun dan kapanpun. Sebuah sistem yang pernah diterapkan dan berjaya selama 1.300 tahun lebih.

Ketika negara menjalankan kepengurusan dengan baik, tentu seorang ibu akan menjalankan fitrahnya sebagai seorang ibu dengan sempurna. Menjaga kesehatan dirinya maupun calon anak-anaknya.

Diriwayatkan bahwa Khalifah Umar bin Khattab pernah mengambil kebijakan yang kurang tepat. Beliau memberikan santunan dari Baitulmal kepada anak-anak yang telah selesai masa penyapihannya (menyusui) yakni yang berusia diatas 2 tahun.

Mengetahui kebijakan yang demikian, para ibu pada masa itu mempercepat masa penyapihannya karena ingin segera mendapat santunan dan mengurangi beban rumah tangga.

Khalifah Umar pun terkejut, seusai shalat ia pun mengubah kebijakannya yaitu memberi santunan kepada setiap anak sejak ia dilahirkan. Kebijakan ini ia tempuh demi menjaga dan melindungi anak-anak. Serta menyenangkan hati para ibu yang menyusui. (Tabaqqat Ibnu said, (lll : 298), ar riyadh an-nadhirah,(ll:389); dan ath-Tifl fi asy- Syari’ah Al Islamiyyah).

Jadi, agar seorang wanita bisa menjalankan fitrahnya sebagai seorang ibu secara sempurna, negara sangat berperan dalam kepengurusan hal ini.

Sudah saatnya kita kembali kepada Allah SWT dan rasul-Nya, dengan menjalankan sistem Islam yang akan membawa kebaikan dan keadilan tidak hanya bagi kaum ibu saja, tapi bagi seluruh umat manusia di muka bumi. Wallahu a’lam.***

Penulis Merupakan Aktivis Dakwah

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: