Komunikasi Kreatif

Oleh Helfizon Assyafei

Bagi kaum elite, politik itu mungkin hanya permainan. Adu strategi. Cair. Elastis dan seperangkat istilah canggih lainnya yang menggambarkan boleh saja hari ini A dan besok B. Bagi kaum biasa seperti saya, politik itu mulanya adalah harapan akan perubahan. Dari ketidakadilan menjadi tegaknya keadilan. Dari susahnya perekonomian jadi naiknya taraf hidup. Dari mahalnya pendidikan dan kesehatan jadi terjangkaunya kedua keperluan primer itu.

Bagi kaum elite, politik hanya soal kepentingan. Tidak ada kawan dan lawan yang abadi. Hanya kepentingan yang abadi. Bagi kaum biasa, politik diharapkan memunculkan pemimpin yang mampu membuat harga-harga bahan pokok terjangkau, kesamaan derajat di depan hukum, munculnya harmonisasi antar warga yang berbeda suku, bangsa, agama dan ras.

Bagi kaum elite, rakyat mungkin hanya angka-angka suara di Pemilu. Yang perasaan mereka tidaklah sepenting ‘kepentingan’ itu sendiri. Bagi kaum biasa, politik itu seperti sebuah pertandingan sepakbola dimana pendukung yang menang gembira dan yang kalah sedih. Padahal kedua kesebelasan itu tak mengenal fansnya yang gembira dan sedih terutama yang tinggal di pojok sebuah kampung yang jauh.

Lihatlah cara elit melihat orang biasa soal si babang. Dengan masuknya Sandi ke kabinet lengkap sudah derita para mantan pendukung 02 yang sekarang jadi sisa-sisa Laskar Pajang yang merana. Seperti suporter bola yang mengejek suporter lainnya yang kalah. Padahal sebenarnya tidak masalah Sandi atau siapapun masuk kabinet sepanjang keadilan, kemakmuran, kesejahteraan negeri bisa diwujudkan oleh mereka yang memenangi pertarungan politik.

Masalahnya hal itu tidak juga terwujud. Ekonomi meroket yang dijanjikan masih hanya cerita. Penegakan keadilan entah dimana. Perilaku elit yang gampang melupakan apa yang telah dilakukan pendukungnya dulu menyisakan sebuah contoh yang menyakitkan. Tentang kebersamaan dan kesetiakawanan yang tidak lagi berarti di hadapan ‘kepentingan’. Pahit? ya. Kadang tak terkatakan..

Maka sekarang muncul cara komunikasi ‘kreatif’ orang biasa terhadap orang elit. Di twitter saat orang elit bicara bla..bla.., tanggapan yang muncul di kolom komen jadi lucu. Hanya satu kata “ohhhh..” yang dibuat berulang-ulang jadi membentuk bangunan segitiga atau apalah. Sebuah kata singkat yang seolah berkata; suka-suka kau lah..

Pekanbaru, 24 Desember 2020

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: