Merawat Harapan

helfizon assyafei
(ilustrasi, foto: dok. pribadi)

Oleh Helfizon Assyafei

HUJAN tadi malam masih menyisakan bulir bulir air di permukaan daun. Ku lepaskan tali pengikat sepatu ku. Duduk sejenak menikmati alam.

Apa yang perlu kita bicarakan kawan? Politik? Sudahlah. Bicara politik tanpa ada keadilan di dalamnya hanya bual kosong. Parade arogansi yang ku saksikan membuat ku muak.

Aku kembali berjalan menembus rimba dan dinginnya angin yang terasa menembus ke tulang. Menjauh sejenak dari wajah dn mulut-dusta yang sering muncul di layar kaca ruang publik. Mencari kejujuran di alam hijau yang masih tersisa.

2020 menyisakan perih yang kusimpan dalam diam. Matinya akal sehat. Golongan yg korupsi tak apa golongan yg tak suka maksiat dibubarkan?

Akankah 2021 lebih baik? Mungkin ya mungkin juga tidak. Tapi sepert kisahi Nabi Yunus dalam perut ikan paus, segelap apapun di sana tak pernah mematahkan harapannya.

Rawatlah harapan tanpa peduli betapa tidak mudahnya optimis dalam kegelapan tak bertepi itu. Teruslah berdoa, berusaha dalam sabar. Semua kan berubah. Semua kan berganti pada waktunya.

Perseteruan kebenaran dan kebatilan akan terus ada. Bukan kalah dan menang yang penting. Tapi berada dimana kita di antara keduanya. Para pejuang dulu tahu benar arti kepahitan. Tapi itu semua tak pernah mematahkan harapannya akan Indonesia merdeka.

Jikapun hanya harapan yang kita punya, jagalah. Selamat datang 2021. Tertiip harapan untukmu semoga kau menjadi tahun penghapus luka.

Jikapun tidak, akan ada tahu-tahun berikutnya tempat ku menumpangkan harapan akan menangnya keadilan. Semoga.***

 

Bukittinggi, 31 Desember 2020

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: