Selasa , November 30 2021

Resensi Novel “The Prince’s Escape”

Oleh: Sulung Febyana Gunarti

Prolog

The Prince’s Escape karya Faradita ini laris terjual di pasaran ketika diterbitkan pada tahun 2019, bahkan menggeser posisi Mariposa sebagai best seller. Fara, begitu ia dipanggil, merupakan wanita kelahiran Borneo, Kalimantan Selantan. Beberapa karyanya yang lain juga laris di pasaran, seperti Invalidite dan Secret Admirer: If I Could Tell You. The Prince’s Escape menceritakan tentang Noah yang misterius, bertemu dengan sosok Elata, gadis penurut yang selalu menyukai tantangan. Novel ini bergenre teenfiction dengan bumbu-bumbu petualangan didalamnya. Ditambah dengan teka-teki yang dibuat penulis menjadikan novel ini semakin menarik untuk dibaca.

Data atau Informasi Buku

Judul Buku : The Prince’s Escape
Genre Buku : Teenfiction
Pengarang : Faradita
Penerbit : Pastel Books
Tahun Terbit : April 2019
Jumlah Hal. : 388 halaman

Sinopsis

Peristia Elata, gadis manis yang hobi bermain piano ini, mengalami pertemuan pertama yang buruk dengan sang pujaan hati. Noah, nama lelaki yang jadi idaman hatinya, merupakan sosok yang misterius dan penuh dengan teka-teki.

Semuanya menjadi semakin menakutkan bagi Elata, ketika ia mengetahui bahwa murid baru di kelasnya adalah Noah. Entah ia harus merasa takut atau bersyukur ketika Noah menjadi teman duduknya.

Namun, karena kesan pertemuan pertama yang buruk, Elata bertekad menghindari Noah. Sayangnya, sifat misterius Noah membuat Elata justru merasa ingin tahu lebih banyak mengenai Noah, ditambah lagi penulis menggambarkan Noah sebagai sosok yang tulus dan lembut hati. Hal itu yang membuatnya, kesulitan mengabaikan kehadiran lelaki setampan dan sehangat Noah.

Elata merupakan gadis periang, namun siapa sangka, dibalik semua keceriannya, ia menyimpan duka yang mendalam. Selama bertahun-tahun hidup menjadi bayangan Erika, sang kakak yang sudah meninggal dunia, bukanlah sesuatu yang ia inginkan.

Mamanya, menentang cita-citanya untuk menjadi pianis. Ia dituntut untuk mengembalikan nama baik sang keluarga, sebab Erika meninggal dalam keaadaan mengandung. Hal tersebut dianggap sebagai aib oleh keluarga Elata.

Maka dari itu, kedua orang tua Elata mambatasi dan selalu mengawasi pergaulan anaknya. Kegiatan sang gadis piano, hanya terbatas pada sekolah dan tempat les. Di rumah, Elata tidak bisa menjadi dirinya sendiri, sedangkan bersama Noah, ia bisa menjadi dirinya sendiri. Hal inilah yang membuat hubungan keduanya menjadi dekat.

Keduanya membicarakan masa depan, bertukar cerita mengenai mimpi mimpi mereka, serta selalu mendukung satu sama lain untuk melakukan hal-hal positif.

Bahkan beberapa kali Noah mengantarkan Elata untuk mengikuti les piano, yang merupakan salah satu jalan bagi Elata untuk menggapai mimpinya. Kegiatan tersebut jelas menentang keinginan sang Mama yang bersikeras meminta Elata menjadi seorang Dokter.

Penulis menggambarkan sosok Noah dengan apik, sifat lemah lembut sekaligus tegas yang Noah miliki menjadi daya tarik tersendiri. Hal tersebut ditunjukkan dari keteguhan Noah dalam menemani Elata untuk melakukan hal yang menjadi impiannya serta mengejar cita-cita nya menjadi seorang pianis.

Ada pepatah mengatakan, sepandai-pandainya orang menyimpan bangkai, baunya akan tercium juga. Hubungan keduanya akhirnya terbongkar, beriringan dengan terbongkarnya identitas Noah yang sebenarnya.

Sang Mama mengetahui semuanya. Mama Elata marah besar, semua perkataan mamanya tidak ada yang gagal membuatnya sakit hati dan makin kehilangan semangat. Ia dihukum, Sang Mama akan segera mengurut surat kepindahannya.

Elata merasa terpukul dan melarikan diri dari rumah, namun ia bertemu Noah. Sayangnya hal tersebut menjadi kenangan terakhir bagi keduanya. Noah menghilang dari kehidupan Elata.

Kenyataanya, Noah dan keluarga tersandung kasus percobaan pembunuhan, dan Ayah Noah merupakan dalang dari semua musibah yang menimpa Noah dan Ibunya.

Akhirnya, semuanya kembali damai dan tentram, Elata kembali ke rutinitasnya di sekolah dan Noah terpaksa ke London untuk menenangkan diri. Hubungan keduanya menjadi utuh kembali, walau terpisahkan jarak.

Noah juga memiliki keberanian untuk menghadap kedua orang tua Elata, ia tidak gentar lagi kali ini. Apalagi setelah ia kembali ke Indonesia, ia bertekad menghilangkan semua batasan yang dilakukan orang tua Elata pada sang putri.

Karena Noah tahu, Elata merupakan masa depan dan mimpinya, dan ia akan selalu memperjuangkan hal itu.

Pihak Sasaran

Genrenya yang teenfiction, membuat The Prince’s Escape cocok dibaca oleh remaja di kisaran usia 16 tahun ke atas. Alurnya yang ringan dan tidak membosankan, membuat novel ini cocok dibaca di kalangan usia remaja. Tentunya dengan pengawasan dari orang tua, karena ada beberapa kejadian yang seharusnya tidak untuk ditiru.

Kelebihan Buku

Novel ini memiliki cover yang sangat menggambarkan sosok Noah yang misterius dan terlihat seperti berandalan. Bahkan dari covernya saja, buku ini terlihat sangat menarik untuk dibaca.

Dari segi penulisan kata, penulis sangat pintar dalan memilih kata dan kalimat yang dapat membuat para pembaca penasaran. Misalnya pada bagian awal novel, ketika Elata tiba-tiba datang menolong Noah (hlm 7-9).

Prolog yang diawali dengan kejadian dikejar preman, menjadi satu hal yang menarik bagi pembaca. Belum lagi, teka-teki yang disisipkan penulis dalam jalan cerita, akhirnya terbayar juga di akhir cerita.

Gaya bahasa Faradita juga menjadi daya tarik tersendiri dalam novel ini, ia menjelaskan detail keadaan sekitar sehingga membuat pembaca dapat larut dalam suasana yang dibangun di dalam novel. Contohnya pada, “Lampu bergaya sangkar menjuntai dengan rantai di langit-langit….” (hlm. 49).

Penulisan mendetail dalam kalimat tersebut membuat pembaca dapat turut membayangkan bagaimana keaadaan sekitar dan apa yang sebenarnya terjadi. Ada nya kata-kata motivasi yang selalu diselipkan penulis di dalam setiap chapter juga menambahkan kesan menarik bagi pembaca.

Kelemahan Buku

Alur yang dipakai awalnya sangat lambat, namun di pertengahan cerita, alurnya menjadi sangat cepat. Banyak kejadian yang dilewati atau hanya sepenggal saja.

Misalnya pada halaman 213, awalnya mereka berada pada pesta ulang tahun, namun tiba-tiba Elata sudah dihadapkan dengan Tante Mila, yang merekomendasikan dirinya ke Amerika sebagai pemusik terbaik.

Dalam Novel ini, juga ada beberapa kejadian yang tidak masuk akal, seperti kejadian melompat dari motor (hlm 90), dan kejadian kebakaran di kantin (hlm. 115).

Kedua kejadian tersebut tentunya tidak akan ada di dunia nyata, karena tentunya akan ditangani oleh orang dewasa terlebih dahulu.

Walaupun sudah memasuki ending, namun nyatanya banyak cerita dan pertanyaan yang masih belum terjawab, seperti sikap Mama Elata yang akan ditunjukkan pada Noah, lalu tawaran Tante Mila untuk Elata, serta tercapai atau tidaknya cita-cita Elata, hal tersebut masih menggantung.

Saya berharap penulis memiliki lanjutan kisah untuk novel ini, karena masih banyak hal atau kejadian yang belum terjawab dalam The Prince’s Escape.

Penutup

The Prince’s Escape banyak memberi pelajaran penting di dalam kehidupan. Rasa untuk terus bersyukur dan pantang menyerah dalam mengejar mimpi menjadi hal yang paling dibahas dalam novel ini.

Novel ini mengajak para pembaca untuk tetap mengejar mimpinya sendiri dan menjadi diri sendiri walau rintangan apapun yang menghadang. Jangan pernah berhenti untuk bermimpi dan tetap semangat.***

 

Sulung Febyana Gunarti

Penulis merupakan mahasiswa Prodi Pendidikan Ekonomi BKK Pendidikan Akuntansi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: