Sebuah Sudut Pandang Lain

(ilustrasi)

Oleh Helfizon Assyafei

Sudah lama ku tak bertemu dengannya. Seorang teman diskusi sekaligus pengamat politik ‘luar lapangan’ yang amatir. Yang  statemennya tak pernah dicari apalagi dimuat media. Dan ia menyukai dunia politik seperti seorang penggila bola menyukai liga seri A Italia. Tapi ku suka analisanya. Ketika itu kami berbincang sembari ditemani segelas kopi. Sebut saja inisalnya; Nemo.

“Kau dan banyak orang pasti marah dan kecewa soal keputusan politik someone yang ke lain hati kan?” ujarnya usai menyeruput kopi hangatnya itu.

Aku tak menjawab dan ia tak menunggu jawaban ku.

“Ada banyak hal yang kita tidak tahu Boi, di balik mengapa akhirnya ia menerima itu,” ujarnya lagi santai.

“Untuk kebaikan negeri alasannya mo,” ujar ku.

Dia terkekeh.

Ia menyebut itu jawaban normatif. Jawaban khas para pemain politik dimanapun. Kadang jawaban adalah cara untuk tidak menjawab yang sebenarnya.

Lalu ia menjelaskan sebuah sebuah sudut pandang lain. Tepatnya lagi sebuah teori padaku yang entah dari mana ia dapatkan referensinya. Teori itu disebutnya teori rangkul dan pukul.

Teori ini, jelasnya, sederhana saja. Bila diajak (dirangkul) tak mau maka tahap selanjutnya dipukul.

“Ya pukulan ini bisa macam-macam. Tak diberi akses ke bank, tak diberi izin, dipersulit usahanya dan aneka hambatan lain terhadap orang yang tak mau dirangkul,” ujarnya.

“Seberapa kuat dan seberapa lama kau mampu menahan pukulan, Boi?” ujarnya lagi.

“Tak semua orang kuat menahannya. Dan itu manusiawi,” ujarnya.

“Jadi berhentilah menghakimi, Boi, pahamilah. Politik tidak seperti yang kau kira. Kau hanya melihat yang dipermukaan saja. Jika kau jadi dia, kau kan mengerti,” ujarnya.

Ia sedang memberitahu ku agar tidak mudah terjebak memandang hitam-putih sebuah persoalan. Tentang benar-salah.

Ada banyak dimensi lain yang kadang tak diketahui penonton seperti diri ku yang bukan pemain politik.

Aku teringat sebuah film barat yang lupa judulnya tentang seorang petarung hebat tak terkalahkan. Lalu dalam sebuah pertandingan ia kalah. Pasar taruhan rugi besar. Semua mengumpatnya. Masa kalah dengan lawan yang tidak terlalu hebat. Yang penonton tidak tahu sebelum laganya dimulai anak semata wayangnya diculik dengan satu pesan; harus kalah di ring. Kalau tidak, anak itu takkan kembali.

Analisa politiknya itu bisa benar bisa juga tidak. Namanya juga dugaan. Namanya juga obrolan di warung kopi. Hanya saja aku tiba-tiba merasa bersalah. Ketidaktahuan kadang membuat kita sering marah tidak pada tempatnya.

*Be a positif

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: