Bukan Kura-Kura

Oleh Helfizon Assyafei

Kok menghilang? Begitu sapa seorang teman. Lama tak menulis maksudnya. Tidak. Saya tidak menghilang. Cuma ke pinggir sejenak. Menulis itu kadang seperti berkendaraan. Ada capeknya juga. Kehilangan mood. Kehilangan ide. Apalagi medsos sebenarnya dirancang bukan untuk menulis. Untuk bersenang-senang. Seperti album keluarga yang selalu ceria. Saya aja yang terlalu serius menjadikannya tempat menulis. Tapi dasar hobi ya mau apa lagi.

O ya, saya membaca puisi Fadli Zon. Zon-nya sama dengan akhir nama saya. Cuma nasib kami beda. Ia anggota DPR yang mentereng. Peraih bintang, Agustusan lalu dari presiden. Necis dan berminyak. Selalu kritis. Saya hanya orang biasa yang sering gundah gulana saja. Tapi setidaknya puisinya mewakili apa yang saya rasakan.

Judul puisinya itu Negeri di Tepi Jurang. Cari aja di google. Ada tu. Ia melakukan apa yang dikatakan orang bijak. Jika tulisan tak lagi bisa mewakili hati mu, sampaikanlah dengan puisi. Bila tidak juga, dengan musik. Bila tidak juga ke pinggirlah sejenak dengan meditasi. Berjalan ke dalam diri. Meninggalkan hiruk-pikuk di luar sana.

Tanpa membaca puisi Fadii Zon toh kebanyakan kita merasakan saat-saat yang begitu berat, dan sebagian dari kita kolaps—kehilangan pekerjaan, kehilangan rencana dan cita-cita, kehilangan orang tercinta, atau bahkan yang lebih subtil, katakanlah semacam, kehilangan harapan. Dan saya mencoba merawat harapan yang nyaris hilang itu dengan menulis.

Mungkin dengan menulis dan mengeluhkan hal remeh-temeh di medsos. Melarikan diri dari kenyataan dengan membicarakan persoalan-persoalan tak signifikan, bahkan kadang tak membicarakan apa pun selain diri sendiri. Dan itu pun tak terlalu penting seperti aneka postingan narsisme yang tak kunjung sembuh itu. Seolah orang perlu mengetahui hidup saya. Ah, medsos memang begitu. Kadang dangkal. Seperti sebuah tulisan di batang sebuah sepeda; harta, tahta dan Nyai Darsimah.

Jika ingin merasakan semua baik-baik saja jangan buka medsos. Tapi itu seperti kura-kura yang masuk cangkang demi keselamatan diri sendiri. Egois. Dan Fadli Zon bukan kura-kura. Meski ia diserang oleh buzzer-yang memang itu kerjanya. Tak masalah. Saya saja yang kadang seperti kura-kura. Kadang muncul kadang menghilang. Sok penting. ha ha..

Pekanbaru, 21-1-2021

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: