Inspirasi Tak Boleh Macet

(ilustrasi)

Oleh Helfizon Assyafei

Ketika itu saya terjebak macet total di lalu-lintas Bukittingi-Padangluar.  Tepatnya menjelang simpang empat yang ada traffict lightnya. Mobil yang semula berjalan merayap kini terhenti. Di depan dan belakang saya antrian mobil mengular panjang. Traffict lightnya padam. Jalan menyempit. Di kiri dan kanan jalan dipenuhi para penjual dan pembeli. Hari pasar pula rupanya. Lengkaplah derita macet itu.

Saat terjebak macet total itu saya sudah hampir sampai di simpang empat traffictlight itu. Tapi keadaan benar-benar ruwet. Tanpa aturan hidup memang kacau. Tak ada yang mau mengalah. Sehingga kendaraan yang ingin belok kanan ke arah jalan Maninjau tak punya kesempatan berbelok. Sebab tengah jalan traffict light itu sudah dipenuhi kendaraan yang menerobos lampu merah.

Tidak ada yang bisa dilakukan selain sabar. Tak ada polisi lalu-lintas membuat semuanya ‘sempurna’ kemacetannya. Saya termangu. Apa nak dibuat? Pada siapa mau mengadu? angan saya melayang. Kalau saja negeri ini tak disibukkan oleh polemik politik. Polemik suka dan tidak suka tentu kita punya waktu mencari solusi dari macet yang sudah terjadi sejak lama ini. Apalagi di masa liburan.

Mungkin dengan membangun jalan tol. Atau jalan layang. Atau jalan alternatif. Ada banyak pekerjaan besar yang bisa dilakukan untuk rakyat daripada habis energi hanya untuk ‘memerangi’ ormas. Padahal tak satupun anggota ormas itu pernah pakai rompi oranye karena korupsi. Sampai para petinggi konfrensi pers membubarkannya. Padahal SKT nya sudah tak diperpanjang sejak 2019. Membubarkan yang sudah bubar saja begitu seriusnya. Hmm..

Entah mengapa pula daku teringat Al Capone. Seorang bos gangster yang tak segan membunuh demi mencapai tujuan. Capone menjadi legenda di dunia kriminal. Satu film yang dibuat berdasarkan sosok Capone diberi judul The Untouchables (si tak tersentuh). Salah satu momen yang tidak bisa dipisahkan dari cerita tentang Capone adalah pembantaian di hari Valentine tanggal 14 Februari 1929.

Empat orang berseragam polisi mendatangi markas Gang “Bugs” Moran, rival bisnis Capone, di North Clark Street. Tujuh orang yang berada di sana dijejerkan di tembok dan ditembak dari belakang tanpa ampun. Dari lokasi kejadian, polisi menemukan 160 peluru. Faktanya, keempat orang itu adalah penyamaran dari rekan-rekan Jack “Machine Gun Jack” McGurn. McGurn diperintah oleh Capone untuk menghabisi orang-orang Moran dengan bayaran 10 ribu dolar.

Capone dan McGurn jadi tersangka kasus ini. Namun tidak ada bukti yang berhasil menjurus pada kesimpulan dua orang ini adalah otak di balik kejadian tersebut. Yang dihukum hanya para eksekutor lapangan. Meski lolos dari hukum, publik tahu jalan cerita sebenarnya. Peristiwa Valentine itu mengantar Capone sebagai “Musuh Publik Nomor 1.” Selama 84 tahun, julukan itu menjadi kepunyaan Capone satu-satunya.

“Toeeeet..!” klakson antrian belakang membuyarkan lamunanku. Perlahan ku injak gas. Kisah Geng Ster terkenal bernama Al Capone itu sudah lama sekali. Aku tidak tahu apakah masih ada relevansinya dengan zaman ini. Mungkin ada. Mungkin juga tidak. Tapi setidaknya macet ini menginspirasi ku.

2 Januari 2021

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: