Selasa , Oktober 19 2021

Keinginan; Dunia Gaib dalam Diri

Oleh Helfizon Assyafei

Keinginan (syahwat) manusia itu tak terbatas. Bahkan jika dijumlah lebih banyak keinginan manusia dari umurnya. Begitu kata ahli hikmah tuan guru Ali Syhabadi.

Saya ingin membagikan nasehat beliau ini.

Manusia selalu menginginkan apa yang tidak dipunyainya. Contohnya kekuatan keinginan yang bekerja di dalam diri seorang laki-laki sedemikian rupa sehingga bila ia diberi satu wanita maka dia tetap saja akan tertarik pada wanita lain. Jika keinginan diberi kerajaan maka ia juga ingin kerajaan lain.

Dan keinginan bisa jadi ‘kendaraan’ bagi iblis untuk masuk ke dalam diri anak manusia. Membisikkan agar memenuhi keinginan itu dengan segala cara (halal-haram). Bahkan keinginanlah yang menggeser rasa khauf (takut pada murka Allah) di hati.

Tanpa rasa khauf, dosa jadi sepele untuk dilakukan. Korupsi, zina, minuman keras, dusta akan banyak terjadi.

Jika kita hidup tanpa ada rasa khauf, maka kita akan jadi budak dari setiap keinginan yang datang. Kita tidak mampu melawannya.

Keinginan adalah api yang membakar apa saja. Nafsu selalu meningkat. Meski demikian keinginan adalah kodrat kita. Ada dalam diri kita semua. Kaya, miskin, berpangkat, tidak berpangkat, terkenal, tidak terkenal.

Kita hanya perlu mengenalnya dan menempatkannya di bawah kendali diri. Agar kita yang mengendalikannya dan bukan kita yang dikendalikannya.

Alquran menyebutkan keinginan (nafsu) yang akan terus mengajak kita pada keburukan. Seperti narkoba. Nikmat sesaat yang membawa sengsara.

Makanya jihad terbesar itu adalah tazkiyatun nafs (membersihkan jiwa). Sebab jiwa bisa kotor oleh karatan nafsu yang diperturutkan. Bahkan ia bisa menyusupi amal baik kita.

Bila kita giat beribadah bila banyak orang, lalu malas bila lagi sendirian itu tanda amal kita dikendalikan nafsu. Celakanya syetan membuat indah pada pandangan kita pekerjaan yang disusupi oleh nafsu tersebut. Sehingga kita tidak merasa  itu suatu kekeliruan.

Begitu halusnya riya sampai-sampai kita tidak menyadarinya.

Dan kalaupun manusia dapat mencapai sebagian besar keinginannya, hanya untuk berapa lama kah? Berapa lama masa muda akan berlanjut? Seberapa lama kemampuan tubuh memperoleh kesenangan?

Tidak lama. Tubuh terbatas. Pendengaran, penglihatan pada waktunya kan melemah. Lalu penyakit akan datang berdiam dalam tubuh. Menggerogotinya. Selera pun berangsur hilang. Indrapun melemah.

Lalu bila kita pergi dari dunia ini tanpa rasa khauf, lalu apa yang tersisa buat dirimu di dunia yang akan datang? Hanyalah kecewa, sesal dan penyesalan. Umur berlalu tanpa pengabdian ikhlas pada-Nya.

Kesempatan habis haya untuk memuaskan keinginan. Waktu hanya berlalu untuk bermain, bertengkar, berkelahi, berdebat, bersaing, bermegah-megahan satu-sama lain. Padahal bukan untuk ini Tuhan mengutus kita ke bumi.

Inilah yang ditunjukkan para Nabi pada kita. Medan perang yang lebih besar dari pertempuran pisik adalah medan perang melawan diri sendiri.

Dunia gaib dalam diri yang bernama ego. Keinginan.

Tidak akan ada yang dapat menolong mu. Kecuali DIA  yang Maha Kuasa.

Hanya kesungguhan mu mendekati-Nya. Dengan segala kerendahan hati, berdoalah. Mintalah bantuan-Nya untuk memberi kemenangan dalam perang yang genting ini.***

Pekanbaru, 30 Januari 2021

 

 

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: