Kekuatan dari Dalam

Oleh Helfizon Assyafei

Ini percakapan seorang perokok, mantan perokok dan yang tidak merokok sama sekali. “Dokter sudah angkat tangan mengobati saya bila tidak berhenti merokok,” kata Jack. Yang mantan perokok hanya senyum mendengar statemen itu. Yang tidak merokok sama sekali bertanya. “Mengapa ngga berhenti saja merokok?” ujarnya. “Itulah saya yang belum bisa,” ujar perokok.

Saya menyimak percakapan itu. Percakapan biasa saja. Semula tak ada yang menarik saya pikir. Sampai kemudian seorang mantan perokok berkata pada yang tidak merokok tadi begini; tidak ada yang bisa menyuruh perokok berhenti dari merokok kecuali dirinya sendiri,” ujarnya. Dia sudah lima tahun berhenti merokok. Dan itu tidak mudah. Penuh perjuangan.

Pelajarannya; untuk berubah perlu kekuatan dari dalam diri. Namanya; kesadaran. Kesadaran sering kalah oleh kenikmatan saat ini. Bahkan meskipun kita tahu dampak negatifnya. Itu baru rokok. Banyak lagi kecanduan-kecanduan kita akan dunia ini yang mengalahkan kesadaran kita akan kehidupan sejati yang bukan di sini. Tahu (ilmu) dan sadar (tercerahkan) itu ternyata beda.

Tahu saja tak membuat orang takut melanggar perintah-Nya. Contohnya banyak yang tahu sholat itu wajib. Tahu bahwa tidak membayar utang itu haram, juga berbohong, menfitnah, bergunjing Tapi banyak juga yang tak peduli dan terus melakukannya. Tahu-tanpa kesadaran-tak menghambatnya dari perbuatan ‘menyenangkan’ saat ini. Seperti rokok itu tadi.

Kesadaran adalah modal awal untuk menempuh jalan sunyi ke dalam diri ruhani. Membersihkannya. Lalu baru menuju ke jalan-Nya. Dulu saya mengira kesadaranlah modal utama. Ternyata tidak. Orang yang sadar kadang melakukan kesalahan sama dengan orang yang tahu. Mengapa? karena ada satu tingkatan lagi yang belum tercapai yang dalam bahasa Imam Al Ghazali disebut Khauf (takut) kehilangan cinta Allah dan murka-Nya.

Tanpa khauf orang akan mudah dan santai saja berbuat dosa. Rasanya biasa saja. Ntar kan bisa minta ampun. DIA kan Maha Pengampun. Cenderung menganggap remeh perbuatan dosa seolah dosanya pasti diampuni begitu saja. Dan baru saya sadari khauf itu anugrah yang DIA beri pada para pencinta-Nya. Siapa yang mendapatkannya? Kata tuan guru adalah orang mukmin yang menghentikan semua perbuatan jeleknya karena rasa takutnya pada Allah.

Setiap anugrah tidak dapat dicapai tanpa kerja keras. Tanpa kesungguhan. Tanpa kualitas. Yang  dijamin dapat anugrah itu adalah para ulama (orang yang beriman, berilmu dan beramal) baik. Mungkin saja kita saat ini berilmu tapi belum tentu memiliki khauf. Semoga Allah berkenan menganugerahkan Khauf itu juga kepada kita yang bukan ulama ini. Amiin..

Pekanbaru, 26 Januari 2020

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: