Senin , Juni 14 2021

Melatih Fokus

Oleh Helfizon Assyafei

Kata orang bijak, masalah itu seperti tamu hotel, datang dan pergi. Lazimnya tamu itu ada yang menyenangkan dan ada yang menjengkelkan. Begitu juga hidup. Dua tipe ‘tamu’ itu bisa memicu reaksi kita; suka dan tidak suka. Maka yang terbaik adalah mengendalikan reaksi kita. Sebab mengendalikan tamu yang datang (harus baik semua) jelas di luar kuasa kita.

Saya bertanya pada tuan guru; mengendalikan reaksi itu kedengarannya mudah. Tetapi pada praktiknya tidak semudah kedengarannya. Tuan guru tersenyum. “Tentu ada caranya,” ujarnya lagi. Kita perlu pegangan. Bukan pegangan hidup yang kalau dipegang hidup. Bukan itu. Tapi pegangan batin. Namanya fokus. Caranya; zikir (ingat Allah). Memusatkan diri pada satu hal kalau bisa di setiap waktu.

Fokus membuat pikiran kita teguh. Ini keterampilan yang bisa dipelajari. Tapi lebih penting dilakukan dan dibiasakan. Sebab kecewa, frustasi, sedih, galau itu berawal dari pikiran sebelum masuk ke hati. Itu sebabnya orang gila tidak beraturan kapan sedih dan tertawa. Kedua-duanya bisa bersamaan karena pikiran sudah jadi pintu kosong-tak terjaga-yang bisa dilintasi apa saja pada saat bersamaan.

Mengapa zikir? karena zikir melatih fokus; hanya satu yang penting. Selain zikir akan hilang pada waktunya. Begitu mati maka semua yang kita anggap penting menjadi tidak lagi penting. Bahkan sepenting apapun jabatan kita akan ada yang menggantikannya. Kita sebenarnya tidak penting-penting amat. Kadang kita mudah dikuasai ge-er saja. Berapa lama setelah kematian seseorang itu tetap diingat? Biasanya ngga lama. Orang-orang akan tertawa lagi, bermain lagi dan seterusnya. Live must go on.

Zikir membuat kita ingat bahwa yang menyempitkan dan melapangankan hidup hanya DIA. Terserah DIA. Mudah-sulit, sakit-sehat, sukses-gagal, siang-malam dalam kuasa-Nya. Batas kita hanya usaha bukan hasil. Jadi zikir membuat kita sadar sesadar-sadarnya bahwa tanpa-Nya kita bukan siapa-siapa. Bahkan takkan mampu meski hanya mengedipkan mata. Apalagi sholat, sedekah berbuat baik. Semua itu terwujud karena-Nya. Tak ada yang perlu disombongkan. Itulah makna La Hawlawala kuwwata illah billah.

Zikir membebaskan kita dari tirani rasa suka dan tidak suka yang kaku. Yang bisa membuat kita terjebak dalam kegembiraan berlebihan atau kesedihan yang dalam (depresi). Apapun yang terjadi baik yang sesuai dengan keinginan kita atau tidak ucapkan di dalam hati Allah..Allah..Allah..tanpa henti. Sebab yang kita sukai ataupun tidak kita sukai pada waktunya akan hilang. Tapi zikir yang kita ucapkan akan abadi. Sebab yang Maha Abadi mengingat siapa yang selalu mengingat-Nya…

Nasehat diri…

 

 

 

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: