Sabtu , Juli 31 2021

Menghargai Hak Pribadi

Syekh Ali Jabber
Syekh Ali Jaber

Oleh Helfizon Assyafei

Dalam hidup adalah manusiawi kita mengalami kesalahan. Yang terpenting cepat menyadarinya dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. Saya melihat bertebaran foto-foto  Syeh Ali Jaber ulama santun dan kharismatik ini ketika terbaring di ruang ICU.

Jujur saya tertekan melihatnya. Sedih.

Mungkin yang mengirim informasi ini juga karena kecintaannya pada ulama itu dan menggalang doa netizen. Lalu buru-buru mensharenya. Dan ternyata hal itu justru menekan perasaan keluarga beliau.

Saya mendapat kiriman rekaman dari sebuah grup taklim suara hati keluarga beliau.

Begini katanya;  “Kami sedang ke rumah sakit mencari tahu siapa yang mengambil foto dan menyebarkan kemana-mana. Ke grup-grup wa. Ke media-media lainnya. Mohon jangan. Tidak boleh sama sekali. Kami atas nama keluarba besar Syeh Ali Jaber melarang untuk mengambil foto dan menyebarkan ke media. “Ini bukan keadaan layak mengambil foto dan menyebarkan. Kami minta doa saja untuk kesembuhan beliau. Terimakasih.”

Asisten Syekh Ali Jaber, Abu Aras, menjelaskan hal tersebut keliru karena kondisinya saat ini sudah membaik. Foto diambil tanpa izin sehingga pihak keluarga akhirnya memberikan teguran kepada rumah sakit (RS) tempat Syekh Ali Jaber dirawat.

“Terkait foto Syekh Ali Jaber beredar berantai, foto tersebut dari salah satu perawat yang melanggar etika atau privasi pasien dan keluarga,” kata Abi kepada CNNIndonesia.com, Senin (4/1/2021).

Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) menjelaskan bahwa proses perekaman foto dan video harus dilakukan dengan persetujuan pasien, keluarga, dan RS. Tujuannya agar tidak terjadi pelanggaran privasi.

Belajar dari hal ini bahwa berfikir sesaat sebelum terdorong bertindak itu sangat penting. Mungkin maksud kita baik menshare informasi itu.

Tapi baik menurut kita belum tentu baik menurut orang. Sebagai manusia kita biasa terkena sifat reaktif. Bereaksi tiba-tiba atas  apa saja dorongan hati kadang tanpa memikirkan dampaknya. Betul beliau tokoh publik. Yang orang ramai ingin tahu. Tapi beliau juga punya privacy (hak pribadi) yang harus dihargai kan?

Saya sejak awal menerima gambar itu tak ingin mensharenya. Sebab secara manusiawi tak seorang pun ingin foto dirinya disebar orang lain dalam keadaan yang tak ia inginkan.

Sakit misalnya. Atau lagi tidak berpakaian. Atau apa sajalah yang membuat objek foto tidak nyaman diketahui publik. Kecuali si objek foto melakukan kecurangan yang merugikan publik dan coba ditutupi. Misalnya membuang limbah ke sungai.

Sederhananya begini. Perhatikan album foto di rumah kita. Kita hanya mengabadikan momen-momen bahagia. Dan itu normal. Ingatkan diri kita untuk tidak menyebar foto orang sakit tanpa izin yang bersangkutan.  Sebab hal itu melanggar hak privacynya.

Teman itu saling mengingatkan. Bukan saling mencela. Ini upaya mengingatkan saja. Dan saya bersyukur membaca berita 12 jam lalu kondisi Syeh Ali Jaber semakin membaik. Semoga beliau sembuh total dan kembali pulih seperti biasanya. Amiin.***

5 Januari 2021

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: