Mengingat Sekolah di Bali Melarang Siswi Muslim Menggunakan Jilbab

SMAN 2 Denpasar, Bali.

Pekanbaru (Riaunews.com) – Jika di Kota Padang, Sumatera Barat, terdapat peraturan wajib menggunakan jilbab bagi pelajar muslimah, namun pelarangan menggunakan jilbab terjadi di Bali.

Diketahui, sejak 15 tahun lalu instruksi bagi siswi muslim di sekolah negeri berbusana muslimah, diatur dalam Instruksi Walikota Padang No. 451.442/BINSOS-iii/2005.

Sementara pelarangan menggunakan jilbab bagi siswi muslim di Bali pernah heboh pada tahun 2014 lalu.

Saat itu Kasus dugaan penolakan jilbab di Bali terjadi kepada seorang pelajar, Fitratunnisa.

Siswi yang menamatkan pendidikan di Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah 3 Denpasar itu mengeluh karena ditolak di jalur prestasi untuk masuk ke SMP Negeri di Denpasar. Padahal, Nisa—begitu dia disapa—adalah juara lomba pencak silat antarpelajar Provinsi Bali. Nilai akademik Nisa pun terbilang bagus.

Nisa memilih sekolah jenjang SMP tidak menggunakan jalur akademik. Lewat prestasinya sebagai juara pencak silat, dia optimis diterima di sekolah negeri.

“Nggak tahu apa sebabnya saya nggak diterima, mungkin karena foto di ijazah yang mengenakan jilbab,” kata Nisa.

Kasus pelarangan mengenakan jilbab di sekolah di Bali ternyata bukan hanya dilakukan SMP Negeri Denpasar. Lebih dari itu, pelarangan mengenakan jilbab di Bali ditengarai dilakukan sebagian besar sekolah yang ada di seluruh kabupaten dan kota di Bali.

Masih di tahun 2014, Anita Wardhana seorang siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 2 Denpasar dilarang untuk mengenakan jilbab saat kegiatan belajar mengajar di sekolahnya.

Anita yang saat itu masih duduk di bangku kelas XI, menolak larangan tersebut, ia bersikeras untuk tetap mengenakan jilbabnya. Namun, ia diberi dua pilihan pahit, yakni melepasnya atau ia harus pindah dari sekolah tersebut.

Kepala Sekolah Drs Ketut Sunarta menyuruh Anita untuk datang ke ruangannya. Pada pertemuan kedua ini Kepala Sekolah menegaskan, bahwa jika memakai jilbab logo OSIS SMA menjadi tak terlihat.

“Kalau pakai jilbab kelihatan tidak logo OSIS SMA-nya? Kelihatan tidak emblem SMAN 2nya?”

“Kan masih bisa dinaikkan sedikit jilbabnya, Pak, jadi masih bisa kelihatan logonya,” jawab Anita.

Namun, Kepala Sekolah tetap tidak mengizinkan penggunaan jilbab. Bahkan, jika Anita ingin tetap berhijab, ia disarankan untuk pindah sekolah.

Berkali-kali Anita disarankan untuk pindah sekolah saja kalau memang tetap ingin memakai jilbab dan diminta untuk segera memutuskan pilihan.

Kasus ini kemudian mendapat perhatian dari Komnas HAM saat itu.

“Dari laporan yang kami terima, kasus itu tidak hanya terjadi di Denpasar saja, tapi hampir di seluruh Bali,” kata Drs Maneger Nasution MA dari Komnas HAM RI. Seperti dikutip dari republika.co.id

Komisioner Subkomisi Pemantauan dan Penyelidikan Komisi Nasional Hak Azasi Manusia (Komnas HAM), itu mengatakan pihaknya telah mengadakan pertemuan dengan Anita Whardani siswa SMAN 2 Denpasar yang sebelumnya dilarang mengenakan jilbab di sekolah.

Dia telah menghimpun data-data dan mendapatkan masukan-masukan dari Anita dan juga Tim Advokasi Kasus Jilbab Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia (PW PII) Bali.***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: