Minum Air Laut

Oleh Helfizon Assyafei

Dulu aku bertanya pada guru mengapa setiap hari harus sholat lima kali sehari semalam? Mengapa tidak sekali sehari saja? Atau seminggu sekali saja? Atau sebulan, atau setahun sekali saja? Perlukah oleh Tuhan sholat kita itu sampai DIA mewajibkannya lima kali? Dan guru ku menjawab; mengapa setiap hari kita harus makan 2 atau 3 kali sehari? mengapa tidak sekali saja, atau seminggu sekali saja, atau sebulan sekali saja.

Makan, lanjutnya, menghidupkan pisik. Sholat menghidupkan hati. Tanpa makan pisik bisa sakit dan bisa mati. Tanpa shalat (hubungan dengan Nya) hati bisa sakit dan mati. Hati yang mati tak tahu membedakan mana halal mana yang haram. Semua sama. Bukan makan yang perlu kita tapi kita yang perlu makan. Bukan Tuhan yang perlu kita. Tapi kita yang perlu Tuhan. Jika gagal mempertuhankan Tuhan maka kita akan mempertuhankan nafsu (keinginan).

“Sudahkah engkau (Muhammad) melihat orang yang menjadikan keinginannya sebagai tuhannya?” (QS. Al Furqãn[25]: Ayat 43). Ternyata keinginan (nafsu) bisa jadi tuhan kalau dituruti tanpa batas. Apa batasnya? Syariat atau ketentuan Allah. Tanpa aturan, nafsu ingin bebas sebebas-bebasnya. Tanpa aturan jalan raya misalnya akan kacau.

Ciri nafsu tidak pernah terpuaskan. Sifatnya seperti minum air laut. Makin diminum makin haus. Terus-terus dan terus lakukan meski badan binasa karenanya. Contohnya narkoba. Pencandunya akan terus berupaya mendapatkan kenikmatan sesaat itu meski tubuhnya menderita dan rusak. Maka tanpa iman yang benar dan amal yang ikhlas maka tuhan kita sebenarnya bukan lagi Allah. Tapi nafsu. Lihatlah orang tidak malu berbohong. Ketika ketahuan lalu  minta maaf begitu saja. Seperti artis di tivi-tivi itu..

Narkoba jika diperluas lagi bisa berarti kenikmatan dunia. Yang deminya orang-orang seperti anjing berebut tulang. Berperang. Saling benci. Saling tipu. Saling fitnah. Kata tuan guru bila kita mendulukan kepentingan nafsu maka kita mengalami syirik kecil yang tidak kita sadari. Sadar tidak sadar syirik itu dosa besar meski kita tetap sholat, naik haji dan sedekah. Para spiritualis menyebut ketidaksadaran kita mempertuhankan selain Allah itu sebagai kondisi ‘tertidur’ batin.

Kita shalat juga, puasa juga, sedekah juga. Tapi korupsi iya juga, zina iya juga, membela penguasa zalim iya juga. Tugas utama kita sebelum pergi dari dunia ini adalah bagaimana bisa hijrah dari bertuhan kepada selain Allah. Misi besar kita bagaimana agar nafsu kita tunduk mengikuti jalan (syariat) Allah. Kita tidak ingin mati dalam keadaan syirik yang kita sadari ataupun tidak kita sadari. Solusinya; bangun. Bangunlah sekarang tidak pakai ‘nanti’ dari ketertiduran batin. Sebelum kelak kita tidak bisa bangun lagi.

8 Januari 2021

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: