Rezim Saat Ini Diduga Manfaatkan Tes Swab Untuk Membungkam Aktivis

Ubedilah Badrun
Analis sosial politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun.

Jakarta (Riaunews.com) – Demokrasi di Indonesia dianggap semakin memburuk karena para aktivis yang kritis terhadap rezim saat ini diduga dibungkam.

Hal itu disampaikan oleh analis sosial politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun atas video yang dibuat Koran Tempo terkait adanya dugaan bahwa swab test Covid-19 disebut sebagai modus baru pembungkaman.

Pada video itu, dijelaskan ada korban pembungkaman yang dialami oleh tiga aktivis dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalimantan Timur (Kaltim) dengan modus swab test.

“Itu terlihat jelas menunjukan indikator pembungkaman kelompok kritis. Melalui cara-cara tertentu rezim berupaya untuk membuat para aktivis tidak lagi bersikap kritis. Dari cara peretasan, ancaman, penangkapan hingga pemaksaan swab test dan karantina,” ujar Ubedilah kepada Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (20/1/2021).

Dalam video itu, tiga aktivis Walhi Kaltim didatangi oleh petugas yang tidak menggunakan hazmat dan melakukan swab test pada 29 Juli 2020.

Ketiga aktivis itu pun dinyatakan positif Covid-19 pada keesokan harinya dan diminta untuk karantina di rumah sakit (RS).

Petugas yang disebut memiliki badan tegap dan berambut cepak itu memaksa masuk ke Kantor Sekretariat Walhi Kaltim dengan saling mencari penghuni yang belum dilakukan swab test.

Namun demikian, petugas itu disebut mengambil gambar seluruh ruangan yang ada. Petugas juga tidak bisa menunjukkan surat tugas maupun surat hasil tes swab ketiga aktivis.

Keesokan harinya lagi, petugas Polisi, Satpol PP dan petugas medis datang untuk menjemput paksa ketiga aktivis itu.

Saat di RS Abdul Muis, mereka ternyata didiamkan tanpa kejelasan ataupun tindakan medis dari pihak rumah sakit.

“Fakta-fakta tersebut membenarkan kesimpulan penting tentang memburuknya demokrasi di Indonesia. Bahkan berdasarkan bukti-bukti tersebut sejumlah ilmuwan politik terkemuka menilai Indonesia sudah memasuki episode new otoritarianism atau new despotism,” jelasnya.

“Memanfaatkan kondisi Covid-19 untuk kepentingan kekuasaan bahkan untung keuntungan segelintir elit dengan cara-cara yang represif adalah tindakan tak bermoral dari kekuasaan dan jaringannya. Ini berbahaya bagi kelangsungan demokrasi. Alarm kematian demokrasi sedang berbunyi nyaring,” pungkas Ubedilah.

Apalagi masih dalam video itu, Komnas HAM menemukan tiga kejanggalan dalam swab test yang dialami oleh ketiga aktivis tersebut.

Yaitu, adanya indikasi kuat terdapat pelanggaran protokol kesehatan, terdapat indikasi pemaksaan dalam tes tersebut dan terdapat indikasi bahwa tes swab maupun penyemprotan disinfektan di kantor Walhi tidak dilakukan untuk tujuan kesehatan.***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: