Sebanyak Butir Pasir di Pantai

Oleh Helfizon Assyafei

Di akhir acara syukuran HUT kantor kami, ditutup dengan doa. Doa yang indah dan menyentuh. “Ya Allah ampunilah kami. Yang dosa kami sebanyak buih di lautan. Sebanyak butir pasir di pantai. Sebanyak bintang di langit. Tangan kami, mata kami penuh debu dosa..” Saya tercenung lama mendengar kalimat-kalimat itu. Saya merasakan kalimat-kalimat itu seolah menunjuk ke hati saya. Betapa saya belum juga mampu memimpin semua anggota tubuh ini untuk menaati-Nya.

Mata, mulut, hati, pikiran belum terjaga dengan baik. Kadang apa yang dilarang itu pula yang enak. Itu pula yang disukai nafsu. Menjadi seorang muslim bisa dengan bersyahadat. Tetapi menjadi seorang mukmin indikatornya bukan lewat ucapan tetapi lewat perbuatan. Imam Al Ghazali pernah mengatakan; seorang mukmin adalah seorang yang takut kepada Allah dengan seluruh anggota tubuhnya.

Al Faqih Abu Layts Samarkandi seperti dikutip Imam Al Ghazali menerangkan tanda takut pada Allah itu tampak pada tujuh hal. Pertama, lisannya ia jaga dari berkata dusta, menggunjing, memfitnah, menipu dan perkataan tak berguna. Ia menyibukkannya dengan zikir, membaca Alquran dan menghapal ilmu. Kedua, qolbu (hati)-nya. Ia menjauhkan dari hatinya rasa permusuhan, hasud, iri dan dengki.

Ketiga, Pandangannya. Ia tidak memandang apa yang diharamkan. Memandang dunia biasa saja. Tidak dengan penuh kecintaan. Ia gunakan pandangannya untuk mengambil pelajaran. Rosul bersabda, “Barangsiapa yang memenuhi kedua matanya dengan pandangan yang haram, niscaya pada hari kiamat Allah SWT akan memenuhi kedua matanya dengan api neraka.” Na’uzubillahi minzalik (berlindung kami dari hal demikia ya Robb).

Keempat, Perutnya. Ia tidak memenuhi perutnya nya dengan makanan yang haram. Nabi bersabda, “Apabila satu suap makanan yang haram jatuh ke dalam perut anak Adam, setiap malaikat di langit dan di bumi melaknatnya..” Astaghfirullah. Kelima, Tangannya. Ia tidak pernah menjulurkan tangannya pada sesuatu yang bukan haknya. Pada sesuatu yang haram. Ia jadikan tangannya bermanfaat bagi sesama.

Keenam, kakinya. Ia tidak pernah melangkahkannya untuk bermaksiat kepada Allah. Ketujuh, Ketaatannya semata-mata mencari keridhoan-Nya tanpa tercampur maksud lain sedikitpun. Itulah yang dimaksud takut kepada Allah dengan seluruh anggota tubuh. Apabila bisa melakukan hal itu maka ia termasuk orang-orang yang disebutkan Allah SWT dalam firman-Nya; Kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.(QS Azzukhruf (43):35).

Mungkin itu yang dimaksud filsuf Thales saat mentes murid-muridnya dengan pertanyaan; apa yang paling sulit? Ia jawab sendiri; yang paling sulit itu mengenal diri sendiri. Kita mengenal banyak hal di luar diri kita bahkan hingga ke luar angkasa. Tapi kadang sulit mengenal siapa diri ini sebenarnya, dari mana, sedang apa dan akan kemana. Kalau kita tidak mengenal diri bagaimana pula kita akan memimpin anggota tubuh kita menuju pada-Nya?

Pekanbaru, 22 Januari 2021

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: