Ubah Fokus

(Catatan Awal Tahun)

Oleh Helfizon Assyafei

Saya hanya beruntung. Saat membelah hujan dan jalan yang basah menuju Pekanbaru dari Bukittinggi, semua tempat-tempat wisata sudah ditutup. Jam gadang ditutupi kain putih. Tanda tidak boleh ada keramaian. Itu perintah gubernur lewat surat edaran. Tentu demi protokol kesehatan (prokes). Sepanjang jalan saya melihat ratusan kendaraan menuju Sumbar. Entah mereka tak tahu ada surat edaran Gubernur itu atau tahu tapi tak peduli.

Tapi saya membayangkan kalau sampai di sana lalu objek wisata tak dapat dikunjungi tentu kecewa. Terutama penggemar spot foto misalnya. Tapi sudahlah. Setahun ini kita sudah teramat akrab dengan segala kecewa-mengecewa ini. Membuat kita mengalami krisis kepercayaan.  Seperti kata Kurt Vonnegut seorang novelis;

“Saat berjumpa dengan orang yang begitu pandai anda tidak mempercayainya. Begitu tolol hingga anda tak dapat mempercayainya. Begitu cantik dan manis hingga anda tak dapat mempercayainya. Begitu tinggi jabatannya hingga anda tak dapat mempercayainya..”

Mungkin benar juga kata seorang teman. Lama dikurung di rumah saja membuat sejumlah orang ‘kalap’ berwisata (termasuk saya). Bahkan objek wisata laut seperti di pulau Mandeh, pantai Carocok dipadati pengunjung sejak pekan terakhir 2020. Saya sempat menyapa (sebenarnya mewawancarai) seorang pengunjung objek wisata.

“Bukankah ini beresiko kena corona, mengapa anda pergi juga?” ujar saya. Jawabannya mengejutkan; khas orang palak iduik (bosan hidup). “Kalau ka mati mati juonyo da,” ujarnya santai. Terjemahan; kalau akan mati, mati juga nya bang. Tafsirnya; yang terjadi terjadilah. Yang penting wisata. Yang penting enjoy. Onde mande cusdey..

Wisata kuliner juga panen di masa liburan akhir tahun ini. Saya berbincang dengan seorang penjual itik di sebuah pasar yang dipadati orang seperti di konser The Europe. Iven liburan akhir tahun ini ia sehari tak kurang memasok 100 ekor itik ke sebuah kedai makan Ngarai Sianok. Kedai nasi khas menjual itik lado hijau yang ueenaaak tenan itu. Harga normal satu porsi Rp45 ribu. Harga liburan entahlah.

Bayangkan ini; satu itik itu dipotong empat bagian. Kalau 100 itik artinya ada 400 potong daging. Dikali satu potong Rp45 ribu=18 juta! dalam sehari. Itu baru satu kedai. Belum kedai lainnya. Boleh jadi ada ratusan juta transaksi wisata kuliner di sana semasa liburan akhir tahun ini. Kalau saja tidak dilarang surat edaran mungkin lebih ‘meroket’ lagi-pinjam istilah apak tu.

Pertanyaan sederhananya mengapa orang berwisata? Mungkin menghilangkan capek, bosan, suntuk atau yang sejenis dengannya. Dalam bahasa psikologisnya ubah fokus. Apa yang kita lihat, dengar, pikirkan berpotensi jadi beban (stres). Maka penting  mengubah fokus dari yang negatif ke positif. Caranya ya dengan beriwisata. Biar lebih fressh.

Sebenarnya kata seorang psikolog untuk enjoy itu tak harus modal banyak. Itu hanya soal menikmati kesempatan-kesempatan kecil yang menggembirakan. Misalnya minum teh es di siang bolong yang terik di bawah tempat yang teduh, atau memancing dan tidak merisaukan akan dapat ikan atau tidak. Mendengarkan musik yang membuat kita bersemangat. Selamat datang 2021.

Be a positif

1 Januari 2021

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: