Selasa , Juni 22 2021

Pembaca yang Cerdas

Oleh Helfizon Assyafei

Musuh terbesar dunia pers saat ini adalah para pendengung di media sosial alias buzzer yang nirtanggungjawab. Pers harus mewaspadai buzzer yang mengusik kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak terbawa suasana yang kontroversial  sehingga menjurus ke konflik sosial. Demikian pernyataan Ketua Umum Muhammadiyah Haedar Nashir bersempena dengan Hari Pers Nasional 9 Februari 2021 yang dimuat di viva.co.

Pers yang profesional memang harus membuat orang jadi berfikir jernih, tidak partisan dan objektif. Saya sepakat dengan pernyataan ini. Tugas pers tidak semudah kelihatannya. Buzzer bisa menciptakan isu, menggiring opini, sesuai pesanan tentunya. Kalau hanya di platform medsosnya sendiri ia bermain itu tidak terlalu masalah. Yang masalah itu ini; ia (orang bermental buzzer) jadi narasumber media!

Dalam jurnalistik ada klasifikasi sumber mendia. Ada yang A1 (paling penting), A2 (penting), A3 (kurang penting). Misalnya info dari A1 mengatakan bahwa si A itu pencuri. Maka pers harus mengejar mana buktinya. Setelah narsum berikan bukti pers wajib melakukan verifikasi atas info itu kepada  yang dituduhnya mencuri. Benarkah ia mencuri? Bagaimana dengan bukti-bukti yang ada? Bisakah si pencuri menjelaskan bahwa bukti itu tidak benar atau rekayasa misalnya?

Saya beri contoh sederhana. Setiap tangggal 1 Desember ada hari HIV/AIDS sedunia. Ketika dulu menjadi ketua liputan khusus (lipsus), saya dikontak LSM yang concern (perhatian) di bidang HIV/AIDS untuk ikut bersama mereka ke lokalisasi memberikan edukasi. Karena tema lipsus tentang itu maka saya oke kan dan ikut rombongan mereka turun ke lapangan (ke lokalisasi).

Saya dan kru (yang menjalankan tugas) tentu di pandangan awam sama dengan para pelanggan yang biasa ke sana. Misalkan ada orang yang saya kenal atau mengenal saya  bila bertemu di sana ketika itu tentu saling menimbulkan tanda tanya. Nah jika kebetulan buzzer yang melihat kami maka sudah jelas beritanya sensasional. Tetapi bila pers profesional menerima info saya ada di lokasi itu tentu beritanya akan berimbang dan profesional. Memberi gambaran sebenarnya mengapa saya di sana.

Disiplin verifikasi adalah kunci pers yang sehat. Sebab tanpa verifikasi informasi bisa direkayasa sesuka hati. Ini yang dalam teori disebut operasi media. Sebuah isu dimunculkan, diblow up. Menggiring opini publik. Kalaupun ada konfirmasi hanya sedikit tak seimbang dengan tudingan. Misalnya dalam konfirmasi berita yang dimuat hanyalah si tertuding membantah ia pencuri. Tapi detail bantahan tidak dimuat. Sehingga orang terlanjur percaya memang dia lah teroris..eh pencuri maksudnya.

Pers tugasnya bukan menghakimi tetapi memberikan informasi yang objektif dan seimbang. Tetapi bukankah pers bisa jadi alat kekuasaan misalnya? Ya bisa saja. Itulah yang biasa disebut pers partisan. Tapi pembaca yang cerdas tahu membedakannya.

 

 

 

 

 

 

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: