Selasa , Juni 15 2021

Belajar Sabar

Oleh Helfizon Assyafei

Seberapa daya tahan tubuh kita maka kitalah yang tahu. Jangan memaksanya. Lelah akan menghentikannya. Saya mengalami hal itu. Badan kurang enak tetap main badminton dengan harapan badan jadi enak lagi. Tapi saya keliru. Malamnya stamina langsung drop. Tiga hari terkapar.  Demam dan hidung meler. Langsung istirahat total. Minum jahe, madu, dan obat demam. Alhamdulillah sudah berangsur pulih. Dan sudah bisa jogging lagi.

Sakit memang tidak enak. Sakit mengajarkan kita bahwa kualitas hidup jauh turun ketika sedang diuji dengan sakit. Bahkan ibadah pun sulit konsentrasi. Makan rasa tidak enak. Tidurpun tidak lena. Nikmatnya sehat itu benar-benar terasa bila sedang sakit. Bila sedang sehat kadang kita abai akan nikmat sehat itu. Memaksa tubuh melakukan aktivitas pisik misalnya.

Kadang terfikir oleh saya kalau sakit ringan saja bisa buat kita susah apalagi yang berat. Dari tuan guru saya belajar menghadapi kondisi tidak menyenangkan itu maka hati harus sabar dan tertaut pada-Nya. Memohon kesembuhan dan selalu bersangka baik sampai kesembuhan itu datang. Ia mengutip hadis berikut;

(HR. Bukhari no. 5641). “Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengan dosadosanya.

Pelajarannya; kalau sakit dan kesusahan bisa menghapus dosa-dosa maka hati jadi sabar menerimanya. Lebih baik dihapuskan dosa kita di dunia ini daripada harus menanggungnya kelak di dunia lain. Mungkin kita tidak sakit, tapi diuji dengan kesusahan. Ketidakadilan. Kezaliman penguasa misalnya. Maka kuatkanlah kesabaran. Jaga hati kita agar tidak jadi negatif.

Jangan berhenti berharap pada-Nya. Jangan menyerah. Teruslah melangkah. Jalan mungkin terlihat panjang dan tak berujung. Tapi sadarlah segala sesuatu tidak ada yang kekal. Allah bisa mengubah yang tidak mungkin menjadi mungkin. Stamina tubuh kita mungkin terbatas. Tapi stamina keyakinan (sabar) harus lebih kuat. Mengapa? Karena Alquran menyebutkan Allah bersama orang-orang yang sabar. Tinggi kedudukan sabar. Kata ahli hikmah seperti kepala di badan.

Sabar dalam berjuang. Sabar dalam berusaha. Sabar dalam menahan derita. Semoga kita bisa.

Pekanbaru, 12-2-2021

 

 
 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: